Social Network: Menjadi Raja di Negeri Sendiri

Social Network: Menjadi Raja di Negeri Sendiri

Semua orang telah latah dengan social network. Dimana-mana sering terdengar entah itu Friendster atau Facebook, dua layanan jejaring sosial yang telah mendominasi pasar, baik internasional maupun lokal.

Terakhir saya dengar di sela aktifitas saya di sebuah warnet, seseorang pemuda berkata kepada temannya (yang tampaknya sudah sejak jam 7 nongkrong dan saat itu sudah pukul 3):

Hari gini kok masih friendster, yang lain sudah pada facebook-an!

Begitu banyak persaingan, bagaimana mungkin kita bisa menjadi raja. Paling tidak di negeri sendiri. Apa yang harus diperhatikan supaya tidak salah langkah? Mari kita bahas sama-sama.

Yang pertama adalah memilih social network seperti apa yang akan dibangun. Jangan memilih hal yang tren saat ini sebagai vertikal. Karena membangung basis pengguna bisa jadi lama. Jika anda berfokus pada apa yang sedang tren saat ini, kemungkinan besar tren ini sudah bergeser di masa depan. Lebih bijak untuk menggeser fokus sedikit ke masa depan, supaya tren bsia dibangun sejalan dengan meningkatnya jumlah pengguna.

Saat membangun aplikasi, yang harus diperhatikan adalah sama dengan aplikasi web manapun. Untuk menjadi penyedia layanan web yang sukses, ada beberapa hal mendasar

  1. Yang pertama adalah fungsionalitas aplikasi. Social networking tidak boleh jadi prioritas pertama.
  2. Keep the site attractive, jangan mengeluarkan semua kartu As saat launching. Biarlah fitur agak kurang, namun pastikan pengguna bisa melihat nilai potensialnya. Jangan terlalu khawatir jika pengguna tidak terlalu sering datang ke situs anda. Namun pastikan mereka akan kembali begitu anda menambahkan fitur baru.

Dalam mendesain antarmuka jangan lupa untuk menekankan pada interaksi antar pengguna. Pastikan bahwa interaksi antar pengguna tampil menarik dan mendukung pengguna lain untuk turut berpartisipasi. Menampilkan daftar aktivitas teman dan memberikan fasilitas untuk berkomentar – seperti yang dilakukan Facebook, atau Friendfeed – adalah contoh yang baik.

Social network is all about users. Jadi masalah selanjutnya adalah bagaimana mengumpulkan pengguna. Banyak yang tidak waspada dengan beberapa hal berikut saat mengumpulkan pengguna.

  • Lazy registration. Jangan mempersulit perdaftaran. Usahakan pengguna bisa mencicip layanan bahkan sebelum mendaftar atau hanya dengan mengisi sedikit detil. Jangan sia-saikan setiap trafik pengguna baru yang datang ke situs kita.
  • No spam.Beberapa orang benar-benar membenci spam. Begitu undangan nada tampak seperti spam, tak ayal lagi site anda tak akan ia kunjungi.
  • No Opt-in. Jangan memasukkan pengguna dalam daftar newsletter atau apapun secara otomatis.

Jangan lupakan juga karakteristik pengguna social network. Pengguna social network di Indonesia sepertinya bisa dikategorikan pada tiga generasi atau kelompok pengguna.

  • The Elders – Yang selalu memulai dengan “kenapa” dan “susah”
  • The Early Adopters – Akan mencoba segala macam hal baru di internet.
  • The Kids – the followers. Hanya akan memakai jika sudah banyak teman yang memakai. Nilai pakainya adalah tren, bukan kebutuhan atau agenda khusus.

Perilaku kelompok pengguna inipun mempunyai karakteristik tersendiri yang harus diperhatikan. Bisa jadi setiap vertikal memunculkan perilaku yang berbeda di masing-masing kelompok.

Dan akhirnya, stay on focus. Jangan berusaha melakukan semuanya. Adalah cerdas untuk bertahan satu vertikal dan membangun social network di sekelilingnya daripada mencoba mengklon semua fitur Facebook atau Friendster.

Ada tips-tips lain? Atau malah ada di antara anda yang punya situs social network? Jangan ragu berbagi expertise Anda 😉

55 thoughts on “Social Network: Menjadi Raja di Negeri Sendiri

  1. saya malah kebalik ngomongnya.. “Jaman sekarang kok pake Facebook? Bikin doonngg….” LOL

    Anw, kayaknya udah gak mungkin ngeclone fs or fb, udah basi. Mending beralih ke microblogging.. dan microformat kalo perlu. :p
    Mumpung masih hangat dan penerapannya masih luas, apalagi kalo digabung dengan teknologi mobile.. beuh, mantap itu!

    *saya kebanyakan ide, tapi gk pernah implement. lol*

  2. “Social networking tidak boleh jadi prioritas pertama.”

    Ini mbahas social network tapi “social networking” koq gak boleh jadi prioritas ?

    Membahas tren ini menarik, kira2 apa ya yg bakal tren di masa mendatang ? Terus terang aku sedang tergoda untuk membuat Social Networking (berhubung sekarang juga lagi bikin web yg ada hubungannya sama komunitas, hehehe), sayang pengetahuan soal ini masi kurang, semoga bisa dapet pencerahan disini.

  3. Hmmm…. sebenarnya kalau saya tanyakan langsung ke temen2 di luar negri, mereka lebih condong ke Facebook bukan karena trend semata. Mereka kebanyakan sebelum ke facebook adalah myspace user yang konon mirip2 sama friendster. Jadi reason untuk trend2nan lebih kepada user search atau friends findernya… di Indonesia friendster bisa popular karena semua orang mencari teman lama atau baru lebih gampang daripada facebook karena di facebook tdk bisa melihat profil penuh… (ini waktu zaman fs 2002-an…)
    Yang saya pengen bahas sebenarnya begini… gmana caranya bikin social network yang bisa ngelink semua element, blogger atau non-blogger, activist, dll… mirip2 gravatar yang bisa dipakai kemana aja…
    jadi seperti global friend circle gitu konsepnya…

  4. Yang pertama adalah fungsionalitas aplikasi. Social networking tidak boleh jadi prioritas pertama.

    Saya agak kurang setuju. Social networking itu penting lho, karena itu inti dari internet generasi baru ( agak males ngomong two point oh ). Soal aplikasi dari sisi teknis, pake js yang mantep sekalipun kalo social networking konsepnya gagal.. its going down.

    Contohnya FS / Facebook, secara teknis fungsional itu standard. Saya yakin, Toni bisa buat replikanya dengan mudah.. cuman konsep pertemanan yang ditawarkan itu – lah yang membuat FS / Facebook jadi laris.

    Contoh satu lagi.. Twitter! Yaelah, Toni would’ve done this in a week or less.. tapi ide untuk memadukan microblogging dan social networking ( ditambah sedikit narcisism 2.0 ) brilian, dan akhirnya dipake jutaan orang ampe servernya jebol!

  5. Setuju dengan rama, membuat social network sendiri dengan content lokal tentu dapat menggali potensi dalam negeri lebih fokus. Bukankah Mixi sangat popular di Jepang…

  6. Tidak semudah yang dipikirkan pada praktiknya nanti, contohnya sudah ada yang lokal dan gagal atau belum berhasil *kalau masih optimis…

    Sebut saja dari mulai temanster, fupei, kronologer, moodmill *dijual, batakster, klface, mehompy punya kompas *tutup… yang punya nokia dulu apa itu… dan mungkin yang lain yang tidak saya tahu…

    Market Indonesia itu unik, kalau ada yang bilang kaskus itu rame, iya kaskus rame karena awalnya u know what, ds juga rame tuh… 🙂

    Masalahnya muncul ketika belum berhasil me-monetize tetapi biaya maintenancenya keluar terus…

  7. ada yg mo coba mbikin social networking yg basisnya HP

    social networking yg interaktif dengan berbasis Flash Lite atau J2ME ?, fitur utamanya adalah Game, setiap user bisa bertarung di game tsb……. yg menang dapat poin dst, poin ini bisa digunakan untuk macam2…….. untuk membeli part dari avatarnya

    game social networking ini bisa ditambah dengan fitur pendukung speerti mobile blogging, mobile quiz dan lain2

    atau jangan basisnya game ?, basinya terserah apa nyang penting sosial networking khusus Buat HP

    di indonesia dan dunia pasar ini sepertinya masih luas ?

  8. @rama, @Ananto

    “Yang pertama adalah fungsionalitas aplikasi. Social networking tidak boleh jadi prioritas pertama.”

    Kira-kira apa yang terjadi jika Facebook tidak meluncurkan fitur App? App bukanlah fitur social network. Jika Facebook hanya berfokus di social networking, saya rasa dia tak akan meluncurkan fitur App. App memang berefek pada mempertahankan pengguna dan in the long run networking bisa dipertahankan karena pengguna tidak pergi dari facebook. Yang (murni) social network adalah fitur group, event, dan messaging (termasuk activity stream).

    Contoh lain misalnya del.icio.us. Dia justru cuman ngeluarin REST API (which is not social at all) dan menunggu sekian lama utk merombak tampilan site-nya.

    Memang sih, ada dua perspektif yang bisa dipakai dalam memandang isu ini. Mau bikin fitur groupnya dulu atau fitur profil user dulu. Ananto mesti langsung “klik” dengan reasoning ini.

    @Andy OrangeMood
    Sukses atau gagal mungkin hanya bisa dinilai dengan membandingkan hasil saat ini dengan exit strategy si pemilik aplikasi. Kalau tidak match berarti bisa dibilang “gagal”. Untuk MoodMill sendiri, aku rasa dia cukup sukses. Dijual tak berasosiasi dengan gagal kan?

  9. @BlogPraktis
    Mungkin yang Anda maksud adalah sesuatu seperti Google FriendConnect atau Facebook connect yang menfasilitasi portabilitas friend

  10. artikel yg mnarik.. saya pikir agak sdkit ssah untk mndptkan prhatin public jka qt mmbngun social network. Krena banyak orang yg sudah lbih dulu ‘betah’ dengan FB atw FS

  11. “Yang pertama adalah memilih social network seperti apa yang akan dibangun. Jangan memilih hal yang tren saat ini sebagai vertikal”
    Kalo saya, pertimbangan pertama adalah masih mahalnya server dedicated. Apa kita bisa nebeng server ya..? Koq belom mudeng nih… Maklum gak pernah firendsteran dan sejeninya

  12. @toni : tapi kalo mnurutku yg pertama tetep social networking-nya, meskipun bisa jadi fitur utama nantinya bukan itu, melainkan aplikasi2 yg membuat betah user.

    kalo fitur group atau user profile sih bikin aja langsung dua2nya… 😀

  13. FS,FB lom pernah sampe betah nongkrongin..paling cuman mo tahu gimana rasanya setelah itu leave them.

    yg pasti social network saya ya blog..
    emang sih gak secanggih FS or FB, tp bagi saya blog lah yang cocok.

  14. @Toni… betul, dijual tidak berarti gagal karena saya juga termasuk orang yang menjual platform seperti itu, yang pertama pernah sebagai exit strategy dan yang kedua memang dari awal saya menjual.

    Maksudnya gagal diatas dalam arti tidak berhasil me-monetizenya dari komunitas/trafficnya.

  15. @Toni : menurut saya, socialnetworking itu lebih dari sekedar kita ngikutin timeline orang lain atau menjalin “relationship”. Di belakang layar juga jangan dilupakan sisi relationship-nya. REST API milik delicious mungkin nggak ada hubungan dengan relationship pertemanan seperti FS atau FB, tapi relation / hubungan yang terjadi adalah antar satu Web service dengan web service yang lain. Ini juga termasuk social networking. Saya pernah baca soal ini, tapi lupa dimana :p

    tapi saya sempet bikin post soal relationship / social networking belakang layar ini :

    http://penghargaan.com/2008/09/social-media-connects/

  16. sepakat dengan Jauhari..Bagi saya Blog merupakan media lebih nyaman mengekspresikan gagasan dan diri. Tergantung kita melihat ekspektasi social network kita sendiri. Sekadar narsis, tak ada salahnya dengan FB.

  17. Saya lebih suka Computer Networking. 😀

    Kalo saya melihat, hal semacam ini sudah mulai dibangun dari dulu oleh telkom lewat http://plasa.com/, dengan KSI web dan messenger yang mereka buat. Tapi sepertinya tidak mampu menggaet hati pengguna internet dalam negeri.

    * Bener gak yah? Ouch.. Yg penting komen. Salam kenal *

  18. Jaman sekarang kita udah bukan jamannya aplikasi web lagi, atau aplikasi social networking. Tapi kita lebih sekarang bagaimana caranya membangun sebuat platform. Platform menyediakan API untuk integrasi , dan akhirnya banyak orang yang membangun aplikasi diatas nya. Contoh Facebook.

    Jadi intinya jangan membangun aplikasi tok, bangunlah sebuah platform

  19. kalo maen kesini, seneng liat mas Toni diskusi sama Andy OrangeMood. 🙂
    kalo saya sih tergantung mau ngapain, FB-FS pake… emang seneng nambah temen aja 🙂
    ‘Jangan berusaha melakukan semuanya’ sepakat 🙂
    hihi.. yang lagi marak itu yang jodoh2an ada tuh 🙂 tapi gak ikutan ah… abis awal2 udah ngeliat banyak banget anonimitas. O ya, kalo saya lebih suka FB kok kayaknya gak banyak yang bikin2 seenaknya pake nama dan foto orang, itu yang gak asik dari FS 🙁

  20. @BLogicThink[dot]com kalo itu sih memang udah resiko di dunia internet. Di internet, hampir tidak mungkin membatasi hal – hal seperti itu. Kalo nggak mau dibajak? ya jangan online :p

  21. @suprie
    Tidak semua hal harus jadi platform. Bikin platform itu menurut saya adalah prioritas nomor sekian. Nomor satu? Tentu saja, build something that works and worth using. Kalau revenue sudah mentok, baru bikin platform 😉

    Saya jadi ingat teringat dengan bacaan kemarin: Focus on revenue, better product does not always mean better revenue. Hehe, tergantung penafsiran loh.

  22. senang rasanya ada web yg searah sama kita :), blog memang yg paling murah dan mudah. tapi sayangnya di kita social networking dijadikan dating site (tempat pencarian jodoh) dan sangat tidak dimaksimalkan.

    owh yah forum juga merupakan feature site yg bisa dijadikan tempat bersosial bagi kaum kita yg selalu dibelakang layar… intinya kita membuka peluang berteman dimana saja. banyak teman banyak rejeki lowh

  23. Fb atau fS? Yang jelas sih satu masyrakat indonesia,masih dgn Pnyakit lamanya “ga cinta produksi dalam negri” dan bahkan brlaku buat para netters,wadoh indonesiaku…

  24. @suprie: menurut saya justru saat ini adalah jaman kejayaan web application. ada web yg dibuat utk konsumsi manusia (human web, berjalan di web browser) dan ada juga web yg dibuat utk konsumsi aplikasi (web service). API adalah bagian dari web service dan web service sejatinya adalah web juga. web itu sendiri adalah suatu platform. so, saya jd bingung dg maksud pernyataan — “Jaman sekarang kita udah bukan jamannya aplikasi web lagi, atau aplikasi social networking. Tapi kita lebih sekarang bagaimana caranya membangun sebuat platform.” —

  25. saya kok kurang bergairah lagi ya main-main social network gitu.. lebih cenderung ke blog.. apakah social network macam tu hanya trend sesa(a)t? entahlah

  26. @ ivan…..
    yah sebenernya sih itu mang salah satu problemnnya, kurang bermutu dan memang basicnya ga cinta indonesia..
    masalah produk sebenernya bisa aja, misalnya fupei, walaupun follower, bisa aja indonesia lebih choosed ke mereka krena memang dari negeri sendiri, tapi mang dasar indonesianya aja ga cinta ma produk dagri…..

  27. Uey, berat ei bahasannya..:)

    sekedar tambahan saja.. ada karakteristik yg sangat berbeda di Indonesia dibanding di US yg sering terlewat oleh orang yg terbiasa hidup di dunia IT.

    orang Indonesia suka akan kopdar, suka akan gathering, suka akan kumpul2. Mau bikin site social network secanggih apapun, dan sangat sesuai dgn karakteristik pengguna internet di Indonesia jg saya yakin nggak akan berhasil kal nggak ada kegiatan Below The Line (BTL). Artinya, si pemilik site harus gencar pula promosi offline melalui beragam venue.

    Salah satu kunci keberhasilan portal Kapanlagi itu adalah karena event offline-nya. Mereka aktif pendekatan ke kampus2 dan sekolah2.

    Para produsen brand pun sadar, membuat microsite brand yg berdiri sendiri gak akan berhasil kalo nggak ada event offline nya.

    Sama juga dgn site itsmylifeclub.com (ati2 kalo mau gabung, baca term n conditions nya). Kalo ga ada event offline berupa party yg dihadiri para target audiens site, juga gak akan bisa narik member sebanyak itu.

    So, apapun itu jenis sitenya (apalagi kalo social network), harus pertimbangkan pula budget utk kegiatan offlinenya.

  28. posting bagus..

    cinta buatan dalam negeri sepertinya kurang relevan dalam bahasan ini.. wordpress, joomla atau MT juga bukan buatan dalam negeri meskipun themes dan widgets sudah banyak produk lokal…. begitu juga beragam layanan google dan yahoo.. jelas bahwa orientasi mereka adalah global!

    mixi dan qq jadi juara lokal karena orientasinya yang jelas untuk lokal yang sulit ditandingi oleh kompetitor global mereka.. yaitu hanya mereka yang masuk ke dalam kategori double bits character(?) di mana sebagian besar pasarnya menggunakan character non latin.. (tidak universal)

    Menurut saya KLFace dari kapanlagi cukup sukses menjaring pengguna, terlepas dari berbagai kekurangannya atau anggapan bahwa situs itu hanya untuk nyari jodoh atau hal-hal yang tidak penting.. (apa sih yang penting?)
    apalagi kalo memang proses perjodohan itu banyak terjadi di situs itu.. ya sukseslah namanya.. 😀

    Menjadi raja di negeri sendiri itu harus, bukan berarti nggak boleh pake volskwagen kan?

    beruntung saya berteman dengan Toni berbagai social network di Facebook, Twitter, Plurk dan friendfeed.. 🙂

  29. @pico
    Ah, satu lagi komen yang menggugah dari pico. Iya, kadang terasa aneh juga. Kita sebagai produsen sering mengeluhkan konsumen yang bodoh dan tidak nasionalis yang akhirnya tidak mau membeli jualan kita. Ya yang butuh siapa? Hehehe.

    Ah Pico terlalu memuji :D. Kapan-kapan guest blogging di sini ya? 😉

  30. OpenSocial kayaknya makin menarik yah..
    Sayang Trafiknya kesedot ke Luar negeri semua.
    Kita Untung Bangsa gak Untung!
    Oh ya apa perlu kita-kita bikin kampanye :
    Cintailah Website Dalam Negeri!
    Seperti sebelumnya kita kampanyekan :
    Cintailah Produk dalam Negeri?

  31. @kombes
    Terang-terangan aja, kebanyakan situs anak negeri macam kombes, cinta, fupei, kapanlagi, dsb itu isinya junk semua, kebanyakan flirting malah. Keliatan sekali kalo tidak dikelola secara profesional dan terkesan hanya sebagai usaha sampingan saja. Tidak heran kalo yg ikutan bergabung kebanyakan orang-orang iseng doang.
    Sekarang masih sulit mencari penyedia lokal yg PD dan mau total 100% bergelut di lahan ini untuk bersaing dg friendster maupun facebook setidaknya utk lingkup nasional. Saya yakin kalau memang ada orang indonesia yg berani total 100% bergelut di lahan ini, dia bisa bersaing dg friendster maupun facebook dalam memenangkan konsumen dalam negeri.
    Intinya adalah keberanian dan tidak setengah-setengah.

  32. @eric cartman
    mmm … Zuckerberg berani ninggalin kulnya untuk fokus ke FB coz dia dapet invest 500 ribu dollar, di indonesia duit segitu ngak sedikit broo.
    di indonesia siapa yang mau invest duit segitu … kLo ada invest ke saya ajah 😛

  33. indonesia jago bikin apa saja, tapi paling males untuk maintenance hasil mereka.. 🙂

    mungkin inilah salah satu yang bikin social networking di Indonesia jarang ada yang berhasil.

  34. hmmm artikel yang menarik sekali nih, kadang memang sedikit ruwet hidup dimana kita berada pada sebuah negara yang hanya menjadi target market saja… Mana lagi masyarakat sudah terbentuk dalam pola pikir “Barang Bule Lebih Menarik” yah itu dia kita tidak memiliki sebuah kebanggaan pada hasil anak negeri ha…ha.. ya tidak kawan-kawan?, cuba deh apapun yang dibuat sehebat-hebatnya jika itu dibuat oleh orang lokal pasti deh masyarakt acuh tidak acuh melihatnya, hal seperti ini tentu saja kadang membuat para developer sudah tidak memiliki semangat lagi dan akhirnya menyerah sebelum berperang.

    2 Minggu lalu, saya mendapatkan sebuah domain yang sedikit unik, http://jomblo.co.id memang jauh sebelumnya saya ada keinginan membuat sebuah social networking untuk keperluan personal, akhirnya setelah scrach code mentah di tengah jalan (maklum booo masih beginner), saya putuskkan untuk menggunakan social engine (sebuah CMS clone dari facebook) setelah saya bongkar codenya hua..ha… pasti deh master-master di sini pada bisa buatnya 🙂

    untuk toni, makasih atas artikelnya yang menarik ini dan semuga saja ini dapat membuat saya tetap meneruskan dan mengembangkan http://jomblo.co.id dengan fokus yang jelas….

  35. setuju, waktunya bikin sendiri – ayo2 yang mampu, garap… social networking juga bisa menghasilkan uang dan menjadi unit usaha, entrepreneur.

  36. saya punya social network, di sini

    tapi masih setengah jadi sih, hhe…
    sengaja tidak saya kasih form pendaftaran supaya tidak ribet dan tidak perlu ngirim email verifikasi 🙂

Comments are closed.

Comments are closed.