The Economy of Scarcity: Teori Ilmu Ekonomi Kelangkaan

The Economy of Scarcity: Teori Ilmu Ekonomi Kelangkaan

Sebenarnya saya tak begitu mengenal Seth Godin. Saya baru saja mengikutinya bebrapa waktu ini. Pun demikian, I’m already hooked up. I sold my soul. Lalu apa hubungannya dengan economy of scarcity? Economy of scarcity atau ekonomi dalam kelangkaan adalah salah satu strategi pemasaran yang eksepsional. Adalah sebuah trik yang cerdik untuk menawarkan sesuatu yang eksklusif dan langka. Semua orang suka dengan barang langka. Adalah suatu kemewahan dan kebanggaan tersendiri bagi seseorang untuk memiliki barang langka.

Prinsip tersebut adalah apa yang menjadi dasar economi of scarcity. Namun jangan terkecoh. Berprinsip pada kelangkaan tidak berarti bahwa barang/jasa yang ditawarkan harus benar-benar langka. Pun harganya tidak harus dipasang pada angka yang sangat tinggi. Kelangkaan bisa dibuat, baik secara nyata ataupun dalam tingkatan persepsi. Tungu-tunggu, saya belum terlalu geeky kan di sini? Dalam tingkatan persepsi itu maksudnya adalah dalam angan-angan si calon konsumen.

Contohnya seperti ini. Anda pernah mendapatkan invitation code ke layanan yang sedang beta? Di mana di dalamnya Anda diperbolehkan menyebarkan sejumlah terbatas invitation ke teman-teman Anda? Ini berarti undangan tersebut langka bukan? Tapi apakah Anda tahu bahwa invitation code yang Anda terima itu bisa jadi sama dengan yang lain? Apa iya? Apakah Anda mulai bertanya-tanya?

Kelangkaan juga bsia diciptakan seperti apa yang baru saja dilakukan oleh Seth Godin. Saya tidak tahu apakah ini memang tujuannya, saya belum bertanya langsung kepada yang bersangkutan. Yang dilakukan adalah merilis audiobook dari buku terbarunya, Tribes, secara gratis di audible.com. Yang kenal dan mengidolakan Seth Godin tentu akan segera mengunduh buku ini. Sangat segera seolah audiobook ini tidak gratis dan berjumlah terbatas. Ternyata apabila kita telaah yang langka adalah momennya. Kehausan pembaca buku-buku Seth Godin membuat persepsi langka ini menjadi terasa jauh lebih nyata. Rasa ingin tahu membuat audiobook yang gratis dan bebas unduh menjadi rebutan khalayak ramai.

Tertarikkah Anda untuk menggunakan prinsip-prinsip economy of scarcity? Pernahkah Anda menemukan contoh-contoh yang lain? Ayo kita bagi bersama-sama di sini.

Photo by InfoMofo

18 thoughts on “The Economy of Scarcity: Teori Ilmu Ekonomi Kelangkaan

  1. Radiohead juga melakukan hal yang sama dengan album barunya, mereka merilisnya di internet dan membiarkan orang mendownloadnya dengan membayar sejumlah apapun yang mereka mau, tidak bayar juga tidak apa2. Hal tersebut menarik sekali dan mendapat coverage di banyak media massa, free publicity? tentunya. Tapi apakah worth it melepaskan album tersebut secara gratis? Hanya radiohead yang tahu

  2. Hmm… Boleh kasih komentar sedikit ga mas? Itu, contoh yang download buku dan yang mas Rajasa kasih (download lagu Radiohead) itu mungkin ga bener-bener sebagai contoh Scarcity Economy. Itu lebih condong ke Free Economy di mana ada anggapan bahwa ‘apapun yang berada di Internet (seharusnya) gratis’. Hal ini antara pro dan kontra karena memberikan produk gratis, tetapi pro-nya adalah, dapat memberikan promosi dan penetrasi pasar yang lebih kuat. Dan tentu aja, dalam Free Economy, duitnya itu ada di after-sales services πŸ˜€ Aku suka contoh yang Invitation Code, karena emang itu pas banget untuk ngegambarin Scarcity Economy ini πŸ™‚

    Scarcity Economy itu sukses berat dipake oleh Apple (kalo mau pake contoh geek ya). Inget kan pas rilis iPhone? Banyak orang tau kalo itu limited edition dan banyak orang rela ngantri. Scarcity Economy ini paling mantap kalo dipakein ke target market yang Early Adopters alias orang yang ngotot mau pake barang pertama kali. Entah itu demi teknologi baru atau gengsi doang. Atau Nokia dengan segala macem limited editionnya itu yang bikin kesel. Baru nongol harganya berjeti-jeti, ga berapa lama, harga dipangkas habis.

    Untuk contoh paling gampang di Scarcity Economy ini adalah ketika diskon gede-gedean. Konsuman tau kalo diskon ini 1.) Barang-barangnya terbatas, atau 2.) WAKTUnya terbatas. Karena itu mereka bisa menggila kalo lagi diskon. Makanya eneng-eneng kalo lagi diskon gitu teh ngeriin pisan πŸ˜›

  3. ahh yess.. terima kasih atas pencerahannya. Ternyata pemahaman saya salah mengenai ini (wah ton parah banget lo bikin gw salah ngerti :P)

    Tapi taktik seperti ini bisa banget backfire kalo pihak marketingnya tidak bisa menjalankannya dengan baik. High risk, high gain tentunya.

  4. @ mas Rajasa –

    Setuju mas. Langkah yang diambil Radiohead itu beresiko besar walopun ternyata hal itu menarik perhatian banyak orang dan menjadi promosi mereka. Akhirnya Nine Inch Nails juga mengikuti langkah mereka itu. Tapi kalo mau ngomong soal industri musik (walopun aku lebih sreg kalo mas Ario/@barijoe yang ngomong soale dia kan di Universal Music πŸ˜€ ) sekarang profit artis lebih besar di merchandise dan konser, jadi ngasih lagu gratis ke pasar juga masih bisa diitung sebagai strategi sih πŸ™‚

    Soal marketing di Scarcity Economy ini, jelas yang harus dipikirin adalah masalah timing dan value. Ga usah pake Scarcity Economy dulu deh. Kenapa kita beli suatu barang? Bisa karena ‘waktunya pas’ (entah kita butuh atau ga), atau mungkin ‘valuenya cocok’ (sesuai dengan kebutuhan – entah itu butuh beneran atau pengin karena kebanyakan duit dan demi gengsi) atau mungkin dua-duanya. Semuanya soalnya kembali ke satu pertanyaan: Kenapa saya sebagai konsumen harus beli barang lu? (ga berlaku kalo barangnya gratis lho ya, hehe)

    Kalo barang itu dijual dengan timing yang pas, value juga ada dan sok-sok langka pula, wah ajib dah tuh akhirnya πŸ˜€

  5. Hmm ..It’s not about scarcity … It’s about how you sell toh? Tanamkan image ke calon pembeli bahwa barangnya itu indah, cocok, canggih, mas-tambah-ganteng-kalo-pake-ini, dll.

    Radiohead atau dept store, bisa lakuin strategi ini karena sudah dikenal. Tapi kalo Toni tiba2 sale cuci gudang, juga ga bakalan rame deh πŸ™‚

  6. @Ivan
    Scarcity termasuk “how you sell” menurutku. Insentifnya (image yang ditanamkan), selain barang adalah privilege. Tapi ada syarat-syaratnya. Seperti yang kamu bilang, klo gw yang cuci gudang sapa juga yang mau beli. Siapa juga gw gitu loh :p

  7. Kalo artis indonesia si, duit paling gede malah di RBT πŸ˜› Jadi makin banyak band ga peduli live performance dan kualitas, yang penting bisa masuk RBT aja. Kembalilah kita ke jaman Radio Star.

    Kalo pendapat gw si Scarcity > Exclusiveness > I-want-what-he-want-just-because πŸ˜€

  8. bisakah hal ini diterapkan di dunia blog ?

    bikin artikel dengan durasi lama tapi konsisten, misal posting 1-2 bulan sekali, isinya tentu haruslah amat sangat berkualitas dan sekali di-post bisa bikin orang penasaran

    eh dah adakah blog yg spt ini ?

  9. *jadi diskusi ginih…*

    Kalo Scarcity Economy sih ndak harus punya nama dulu. Yang penting kita bisa creating the right buzz atau ndak. Contohnya itu kaya Pownce (dulu), Ping.fm (dulu).. Inget mereka dulu punya invitation code pas baru awal-awal berdiri? Mereka belum ada nama tapi banyak yang minat, soalnya orang penasaran dan pada bilang “EH COBA DEH!” πŸ˜€

    Apalagi di Internet gini, informasi yang ada itu banyak banget. Kuncinya adalah gimana kita bisa dapet perhatian orang/audience dan itu caranya adalah bikin rasa penasaran itu ada πŸ˜€

  10. @adit : Ada, dulu Freelanceswitch.com mulai dengan 1 post perminggu, lalu sekarang menjadi raksasa blog network dibawah nama Envato dan menghasilkan PSDTuts, Nettuts dan juga produk lain yang menghasilkan seperti audiojungle dan themeforest

    @kapkap : Pownce tidak bisa dijadikan contoh karena Kevin Rose sudah sangat terkenal, dan orang kebanyakan tertarik karena itu dia yang bikin. Same thing with Revision3 yang dia bikin juga, belum launching udah dibeli orang πŸ˜›

  11. Very good topic.. πŸ™‚
    Saya untuk sementara hanya menyimak aja yach.. sambil mencari ilmu.. thanks.

    @toni
    Nice Blog.. Keep watching from now on.. Cheers

  12. Gmail bisa juga dijadikan contoh waktu mereka baru launch. Siapa yang ga berlomba2 cari invitation untuk gmail karena ga ada direct sign-up? Sampe2 dibikin id-gmail segala buat ngumpulin invitation code… sekarang malah jadi kampung gajah … T_T;

    Tentang invitation code itu sendiri, bukan masalah kalau kode-nya sama. Yang penting adalah akses ke kode tersebut, punya atau ngga?

    Kaya gue bilang ke @kapkap, perceived value lebih penting daripada real value itu sendiri karena kalau ada sesuatu barang atau layanan yang langka atau eksklusif, kalau di mata calon pengguna/pelanggan ngga ada nilainya, ga akan pada berhamburan berusaha dapet.

    Honestly gue ga setuju kalau bukunya seth godin dijadiin contoh. Apanya yang scarce kecuali masa download gratis audiobook di audible memang terbatas? Kalaubenar begitu, misalnya setelah 2 minggu menjadi berbayar, baru bisa dibilang menggunakan prinsip scarcity karena periodenya itu yang langka.

    Sama lah seperti Metro & Sogo big sale minggu lalu. Masa sale cuma beberapa hari, besok-besoknya udah full price lagi.

  13. Kalau menurutku Value dan image lebih penting. Tapi untuk mendapatkan itu sangat susah. Dan teori yang disebut ini bisa menjadi sebuah jalan bagi para underdog. Hal yang paling penting lainnya adalah “Positioning” yang menentukan pasar. Pasar niche tentunya lebih gampang di penetrasi dibandingkan pasar mainstream yang majemuk.

    Contoh saat ini, banyak yang jual stock photo, templates, vector yang dijual dengan sistem unique sell. Yaitu hanyab bisa dipakai satu orang. Tapi stock tersebut tentunya lebih mahal daripada stock lain yang gak unique.

  14. Scarcity creates value.

    Orang-orang mencari karena membutuhkan.

    Ketika sesuatu-yang-mereka-anggap-penting langka di pasaran, mereka berlomba mendapatkan.

    Ketika semakin langka di pasaran, nilainya semakin bertambah.

    Scarcity creates value.

    Hehe πŸ˜€

Comments are closed.

Comments are closed.