Nomor Satu Alasan Untuk Gagal

Nomor Satu Alasan Untuk Gagal

Banyak ide keluar dari segerombolan orang tentang aplikasi web, entah itu suatu inovasi dengan sederatan fitur baru, atau hanya sekedar tiruan dari belahan dunia atau bahkan tetangga sebelah. Inilah budaya teknologi informasi yang seharusnya penuh inovasi namun selalu terhambat oleh satu hal yang sangat menentukan masa depannya.

Perkenalkanlah… Monetisasi.

Bila kita tengok layanan internet atau situs di Indonesia, cenderung tampak begitu banyak tiruan, terutama layanan social networking yang semakin menjamur tanpa keunikan baru. Begitu juga portal berita dengan berbagai macam warna dan tatanan yang membicarakan topik terbaru hari ini yang tidak jauh berbeda dari yang lainnya.

Kaum pemikir cenderung berpikir tentang inovasi teknologi dengan keunikan tersendiri. Namun ide ini tidak terlalu jauh melangkah karena keterbatasan dana. Bersyukurlah bila ada pendukung tambun berkantong tebal yang mampu memperpanjang nyawa layanan anda. Bila tidak, selamat jalan karena kegagalan di tahap monetisasi.

Kaum pebisnis lebih cenderung berpikir dari segi keuntungan, mengutamakan neraca keuangan tanpa banyak peduli dengan inovasi. Jalankan saja apa yang ada, gratis kalau bisa, keruk uang secepatnya. Peduli amat tiruan atau bukan, asal ada pemasukan untuk jaminan di hari esok.

Banyak layanan hidup dari iklan. Berapa lama akan bertahan tanpa iklan? Mulai kapan bisa menerima iklan? 10 ribu pageview? atau 100 ribu? Bagaimana cara menjual iklan? Google AdSense hanya untuk pemain luar dan rasio klik hanya berkisar 2%. Sudahkah anda mempertimbangkan langkah monetisasi untuk aplikasi anda? Berapa lama anda bisa bertahan tanpa pemasukan?

Rumit memang bila kita angkuh mempertahankan inovasi tanpa memperdulikan monetisasi. Apa ada alternatif lain selain iklan? Pelanggan? Berjualan? Apakah anda kaum pebisnis atau pemikir?

22 thoughts on “Nomor Satu Alasan Untuk Gagal

  1. It’s only a life line … kalo gagal monetisasi, kucuran dana juga pasti berhenti. Untuk tren di barat, aplikasi bisa di monetisasi, atau bisa di jual.

    Jadi AI atau VC itu membantu, tapi tidak memecahkan masalah.

  2. Di Indonesia ada Intimedia Web Venture, tapi itupun mati suri. Kalo soal monetisasi memang agak sulit di Indonesia, dan kalo mengandalkan iklan rasanya belum cukup. Kalo jualan data user, kesannya nggak etis namun rupanya banyak yang lebih memilih metode ini daripada advertising. Data itu mahal.

  3. OOT dikit: Intimedia Web Venture engga mati Suri bro,
    mereka punya
    -virtualvending.com
    -berapaberapa.com
    -wikimu.com
    dan beberapa situs online, lainnya 🙂

  4. Q: Apakah anda kaum pebisnis atau pemikir?
    A: Pemikir donk ah …

    Q: Mengapa tidak bisnis?
    A: Ya ini sedang saya pikirkan, Oom

    Q: Lantas …
    A: Saya akhirnya membisniskan pemikiran saya, Oom

    Q: Oalah alah .. Agus Agus!
    A: 😀

  5. @Donum Theo
    Planning and execution is two different beast. Paling gk buat saya 😀

    Tapi kamu benar dab, pemikiran bisa dijual. Tapi perlu ilmu bisnis. Ilmu bisnis perlu pemikiran. And on and on, pada akhirnya kita perlu memotong lingkaran tak berujung itu. That’s when we execute our plan and stop thinking (too much) (for a while).

  6. Saya pernah berada di posisi pemikir dan pebisnis, 4 tahun lalu sebagai pemikir ketika sedang menjalankan bisnis online dengan partner merangkap sebagai project manager, sekarang cenderung pebisnis yang baru kemudian di balancing dengan inovasi setelah monetize.

    Sekarang saya menjual konsep/konsep + system ke investor lokal/luar, yang ingin saya sharing dari pengalaman selama ini adalah real investor baru akan melirik proposal kita ketika mereka tahu how to get the moneynya. Angel Investor? it can be devil at the end when the money pool dry… Venture Capitalist?… memangnya mereka ngga ada kerjaan apa invest sesuatu ngga pengin menghasilkan?… mau sampai berapa lama?… except they doing it for money laundry, maybe…

    Selain itu paling karena berdasarkan relationship/networking saja, tapi biasanya dan pastinya itu akan berbuntut masalah ketika revenue tidak kunjung tiba juga. Beberapa kali saya menolak diajak sharing revenue karena hal ini, lebih baik jual putus, better for relationship, we get quick money too, my idea never dry… *of course save the best for yourself!

  7. Yang ideal tentunya pebisnis yang idealis dengan menempatkan inovasi diatas uang. Kalau orientasinya hanya uang (revenue), otak kita bisa sempit dan tidak kreatif lagi. Plagiat jadi jalan paling aman.

    Inovasi adalah gagasan yang mampu mempermudah hidup manusia dan semua merasa senang karena itu. Ketika kita mampu mewujudkan itu, maka gagasan kita (yang sudah dalam bentuk produk tentunya) akan semakin mudah diserap pasar. Saat ini terjadi, uang bukan masalah lagi. Investor tanpa diundang pun akan datang berduyun-duyun menawarkan diri.

    Duo Larry-Brin (google), Steve Jobs (Apple), Gates (Microsoft), Bezos (Amazon) mungkin cukup mewakili.

  8. @Toni
    Anda benar, salah satu jawaban di lingkaran pemikir-pebisnis adalah titik utk berhenti alias period [eh btw, period itu mens ya? hehehe]. seperti kata orang wirobrajan dgn tesa ketemu antitesa dan berujung di sintesa .. sintesa jadi tesa lagi ketika ketemu antitesa .. dst.
    jika diasumsikan pemikir dan pebisnis adalah satu orang/badan, maka dia perlu berhenti sejenak ketika pemasukan menurun utk membuat inovasi sesuai kebutuhan / keinginan pasar. good point, dude 😉

    @kamal
    memang begitu adanya … biar jadi diskusi ;p~

    @Andy OrangeMood
    menarik juga, memang caranya harus how-to-get-the-money [kacamata pebisnis tuh]

    @bayusyerli
    Yang ideal tentunya pebisnis yang idealis inovatif …

  9. sy lebih suka kalo ingin berbisnis online …… Funding yourself spy bisa berinovasi

    kalo berbisnis online mangandalkan investor , hmm sulit rasanya berinovasi, karena walau bagaimanapun juga yg namanya investor pengen cepat2 uangnya kembali, jd alih2 fokus kpd inovasi malah nantinya tergesa2 ingin monetisasi secepatnya

  10. iya nih setuju sama @kamal, artikelnya masih gantung… diskusi-nya juga belum sampai ke point-nya, so kesimpulannya:

    Navinot harus posting artikel tentang bagaimana me-monetize layanan Web. khususnya di Indonesia…

  11. Pertanyaan bagaimana memonetize sebuah dotcom di Indonesia, biasanya akan berujung pada pilihan: banner atau berjualan. Jangan berharap ada AI ato VC. Nasibnya gak akan tentu arah. Satu contoh sudah terjadi pada game online Inspirit Arena yg didanai AI entah sudah berapa milyar, tapi hasilnya nol. Belum lagi perseteruan internal di antara para shareholdernya.

    Satu hal yg dilakukan Wikimu atau Dagdigdug adalah memanfaatkan komunitas online utk menggalang massa/komunitas yang bisa ‘dijual’ utk event offline. Kafebalita.com buatannya Anggun Himawan pun melakukan hal serupa. Situs komunitas itu nggak ada duitnya. Namun, dengan terkumpulnya komunitas lalu diadakan event besar dengan undangannya adalah para member Kafebalita.com, event akan muncul banyak sponsor yg tertarik. Disitulah duitnya.

    Kalau ada yg bisa menemukan cara memonetize web di Indonesia, di luar konsep banner dan berjualan, hihihi.. saya ingin tahu banyak.

  12. @pitra
    Bikin dotcom. Kumpulin komunitas sebanyak2nya ampe loyal. Terus, sebulan sekali keluarin t-shirt thematic sesuai dengan tema dotcom buat di jual ke komunitas. Kalo udah ada dotcom kayak gitu, call gw deh.. he he

  13. hmm… kalau monetize layanan Web-nya dengan melakukan charge ke pengguna layanan kira2 bagaimana ya? seperti Flickr misalnya… pengguna basic tidak kena charge tetapi ada batasan dalam fitur layanannya, baru kemudian ketika ingin beralih ke Pro dengan fitur lebih maka pengguna harus membayar…

  14. Kayaknya semua sudah terjawab oleh para pembaca 🙂 Ternyata pembaca NavinoT jadi semakin kritis … 🙂

    @Pitra – Kalo ada solusi, mau tanam modal berapa nih?

Comments are closed.

Comments are closed.