PR Tips: Shifting The Balance

PR Tips: Shifting The Balance

hearnoevil

Alangkah indahnya bila Google hanya mengindex halaman-halaman terbaik, atau berita-berita yang 100% benar. Sayangnya kita hidup di dunia yang tidak sempurna, dan kadang kita dihadapkan dengan opini-opini negatif yang tidak menenangkan hati, atau masa krisis.

Di era internet, urusan humas (PR) semacam ini jadi semakin memusingkan, karena media penyaluran tidak hanya media cetak, radio, atau televisi saja. Justru internet menjadi momok para pelaku PR, karena kebebasan setiap orang untuk beropini lewat blog dan situs-situs. Bila nadanya selalu merdu, ya syukuran. Bagaimana dengan nada-nada sumbang, peduli faktanya benar atau tidak.

Belum lagi dengan kehadiran Google sebagai mesin pencari handal yang semakin cepat mendeteksi berita panas. Asal bukan spam, Google tidak akan bersedia untuk menghapus halaman-halaman bernada sumbang tersebut. Lantas bagaimana mengatasinya?

Siapa Dia & Sebesar Apa?

Sebelum kita bingung dengan nada-nada sumbang, yang perlu diketahui dulu adalah siapa sumbernya. Apakah sumber tersebut mempunyai reputasi dan kredibilitas untuk bisa dipercaya orang lain? Blogger kemarin, atau blogger dengan sejuta umat? Dari opini tersebut apakah ada potensi untuk berkembang? Mungkin dengan adanya dukungan bukti-bukti kuat?

Hadapi Saja, Tidak Perlu Melarikan Diri.

S**t Happens! Jadi tidak perlu lari dari permasalahan. Manusia dengan segala kekurangannya itu wajar untuk melakukan kesalahan. Begitu juga perusahaan yang terdiri dari sejumlah manusia. Karyawan yang mungkin tidak bertindak semestinya, atau direktur yang tidak seharusnya berkomentar seperti itu. Masa krisis seperti ini perlu adanya komunikasi dari pihak perusahaan kepada media. Yang diperlukan adalah membuat pernyataan yang jelas, tepat sasaran, dan menghindari komentar pihak ketiga yang belum tentu menguntungkan.

Tanpa Emosi & Cari Zona Netral

Pernah dengar nasehat untuk tidak menulis email sewaktu nuansa hati tidak senang? Yang akibatnya adalah respon penuh emosi yang disesalkan. Begitu juga untuk menghadapi situasi krisis, yang seharusnya kita menenangkan diri dulu sebelum bertindak.

Yang dimaksud dengan zona netral adalah memberi tanggapan tidak secara langsung di situs terkait. Selain komentar tanggapan atau sangkalan anda bisa dihapus oleh pemilik situs, anda juga perlu satu tempat yang terpusat untuk semua pernyataan publik anda. Masih ingat dengan teori markas besar?

Bagaimana Dengan Public Record?

Opini publik dibentuk dari hasil pemikiran banyak pihak. Tergantung permasalahannya, kadang lebih menguntungkan, tapi kadang juga malah merugikan. Mempengaruhi opini satu orang tidak akan membantu banyak.

Di era internet, halaman situs bernada sumbang tersebut (public record) tidak akan lenyap dimakan waktu. Layaknya tinjauan pengguna yang kurang puas, membuat nilai rating produk atau profil perusahaan jadi tidak sempurna, atau bahkan negatif. Apakah nilai 8.0 kurang memuaskan?

Yang bisa kita lakukan adalah membangun citra lebih baik, untuk menutupi catatan-catatan buruk yang telah ada. Just shift the balance!

PS: Apabila anda punya pengalaman sejenis, silahkan berbagi.

8 thoughts on “PR Tips: Shifting The Balance

  1. Menurut saya..bila PR masih menggunakan one way communication adalah cara terbaik, maka mereka salah. Beruntunglah teknologi sdh merubah pola komunikasi utk PR menjadi lebih two way communication terlepas dari dampak positive atau negative yg akan diterima…

    Dan..jangan jadikan blog, situs, dan beragam konten online jadi momok menakutkan…malah seharusnya menjadi cara jitu PR utk brkomunikasi langsung dengan masyarakat, sehingga dianggap lebih menghargai masyarakat…Semoga pndapat ini benar…(^_^)

  2. Nice Tips.. 😉
    tapi tips yang paling penting menurut saya itu yang “Tanpa Emosi & Cari Zona Netral”..

    Kalo bisa menerapkan tips yang satu ini dengan sukses menurut saya bisa memperbesar kemungkinan pembentukan opini publik yang baik.

    Balance is Good. Tapi kalo ga balance lebih ke citra yang baik kan gak papa juga… if that’s what happens, you don’t have to shift the balance.. hehehe..

  3. Ketika PR Vs Public Record nggak imbang saya yakin tidak akan kiamat.

    Publik biasanya melihat secara jujur apa adanya apa yang dia rasakan dan dia lihat. PR berkacalah pada public record

  4. @Billy – Betul, dan tidak bisa dihapus juga. Intinya sebelum ngomong harus dipikir! 😛

    @M. Isya – Kalo belum terjadi apa-apa, tentunya blog harus dimanfaatkan jadi outlet. Tapi kita fokus ke situasi ‘krisis’, jadi kita harus buat pernyataan tegas di situs kita, atau media yang netral/terpercaya, agar gosipnya tidak simpang siur.

    @Ariawan – Mungkin terminologi ‘Balance’ agak kabur yah. Maksudnya balance tsb bisa negatif atau positif. Intinya 1 berita buruk berusaha kita tutupi dengan membangun citra/berita baik yang lebih banyak. Agar tadi balance yang negatif, jadi lebih positif.

    @Mumunto – Public juga bisa berarti pihak yg asal ngomong & anarki. Betul ga?

    @Arief – Baik2 aja. You?

  5. Ya, saya setuju “tampa emosi dan netral” dan anggap saja “permainan”. Kata orang, “Bukankah hidup ini hanya canda?” (tapi serius!)

    salam
    edwar

  6. Semua tergantung dari kita sendiri. Kita sebagai pemain, penonton, dan sekaligus sebagai penilai.

    So, kita harus pandai memainkan peran. Layaknya lirik lagu yang satu ini “dunia ini….. panggung sandiwara…hooooooo”

Comments are closed.

Comments are closed.