Facebook: Bila Bisnis Bertingkah Personal

Facebook: Bila Bisnis Bertingkah Personal

fustrated

Facebook semakin popular saja dengan jumlah pengguna yang kini telah melewati Friendster. Oops! Kapan yah terkakhir kali saya buka Friendster? Ternyata Facebook berhasil mengkonversi pengguna keras kepala ini untuk pindah layanan.

Suatu layanan web yang tumbuh pesat tentunya juga akan diikuti oleh beberapa konsekuensi, seperti kontrol terhadap komunitas yang semakin renggang. Dari awalnya Facebook berangkat sebagai layanan social network yang eksklusif, khusus untuk murid Harvard. Lambat laun jadi semakin terbuka untuk anak sekolah dan akhirnya terbuka untuk umum. Dengan jumlah pengguna yang berjuta-juta, Facebook mempunyai daya pikat tersendiri bagi dunia bisnis.

Meskipun Facebook telah menyediakan fitur untuk kepentingan bisnis, masih saja bermunculan profil bisnis yang menggunakan profil personal. Selain melanggar ketentuan layanan, tingkah laku pengguna macam ini jadi semakin menyebalkan. Ajakan berteman dari sosok tak dikenal jadi semakin sering bermunculan, akhirnya kenikmatan social networking sudah tidak seperti dulu lagi.

Bukan suatu yang salah bila pelaku bisnis mulai melirik dunia social networking. Dengan berjuta pengguna yang berkumpul, bukankah ini merupakan tempat yang nyaman untuk berpromosi? Sesuai dengan prinsip social media, pelaku bisnis disarankan untuk menciptakan komunikasi secara horizontal di antara pelanggannya. Salah satu caranya adalah mengenal lebih dekat sosok pelanggannya. Mungkin seperti ucapan selamat ulang tahun yang diselingi kode diskon?

Layanan social network pada umumnya sudah was-was dengan kehadiran bisnis di seputar layanannya, sehingga fitur profil bisnis biasanya dibatasi. Selain untuk alasan monetisasi, juga bertujuan untuk melindungi hak & privacy penggunanya. Seperti layanan Group & Pages di Facebook yang mengharuskan penggunanya yang pro-aktif, bukan profil bisnisnya. Hal ini bertujuan baik untuk mencegah spam dengan ajakan bergabung.

Satu hal yang sering disalah-artikan adalah menggangap social media sebagai ajang promosi. Pelaku bisnis, terutama UKM, cenderung fokus ke monetisasi yang akibatnya lebih terpaku pada sales, bukan marketing. Padahal ide dasar social media adalah untuk berkomunikasi, bukan promosi.

Facebook patut diacungi jempol akan fitur privacy control-nya, yang memberi kekuasaan kepada pengguna untuk memilih dengan siapa berinteraksi. Kalau hukum ini tidak berlaku lagi, layanan social network tidak akan nyaman lagi. Pasti akan banyak pesan penawaran dan spam. Seperti email yang tidak mempunyai pilihan untuk membatalkan langganan.

Kembali ke permasalahan, Facebook yang semakin tumbuh akan mengalami kesusahan untuk mengkontrol penggunanya. Dengan semakin banyaknya bisnis yang bertingkah personal akan menyebabkan nuansa social networking jadi terganggu. Terjadilah reverse network effect, membuat pengguna yang merasa tak nyaman lagi pergi meninggalkan layanan tersebut. Ingat Friendster?

Apakah ini berarti social network sama sekali tidak untuk kalangan bisnis? mengingat kecenderungannya yang lebih mengganggu.

7 thoughts on “Facebook: Bila Bisnis Bertingkah Personal

  1. pasang iklan di facebook lebih rumit dr adsense bukan? prosedurnya ampe grammar-nya pun dicek dan seingat saya konversi kliknya kecil bgt dibanding jumlah penggunanya (quoting scobble), tp bener2 targeted klo masang di facebook dibanding adsense.

  2. wah kuwi aku, nyindir iki :))…

    kalau aku sih karena ini aji mumpung mas, promosi jeh..
    ada sisi + dan – nya :
    1. sisi + nya : produk2 saya khususnya lebih di kenal hampir ke seluruh indonesia, karena kemarin dah daftar ke g.analityc. bisa melihat serta merespon
    2. sisi – nya : ya bisa jadi menyebalkan, bisa jadi males karena isinya lebih banyak seperti itu…

    kalau aku mempersepsikan, ini adalah aji mumpung media yang bisa saya gunakan untuk ikutan ajang media promosi khususnya *** yang kini mulai dikenal…

    maaf kalau kurang sependapat he 🙂

    salam
    -uculan-

  3. Sebenernya yg di lakukan FB bagus sih.
    Cek gramar, ga boleh ada tanda yg neko2 dan tulisan aneh2.

    Balik lagi ke promo yg fungsinya untuk komunikasi itu menurutku.
    “Jgn fokus ke sales” itu emang bener jg sih.

    Kerangka berfikir untuk tidak fokus pada sales itu lah yang nantinya ikut mempengaruhi efektifitas suatu iklan di facebook.

  4. Orang jualan bisa dimana aja sih, asal jangan sampe mengganggu 😀 Ga masalah lah ada iklan atau promo di Facebook asal frekuensinya ga sampe ngebanjirin dashbord FB orang sampe isinya iklan semua, heuhe.

    Setuju banget soal kerangka berpikir sales 🙂 Sebaiknya sih itu yang dihindarin. Orang bisa gerah juga liatnya.

Comments are closed.

Comments are closed.