Apakah Kamu Karyawan Tahan PHK?

Apakah Kamu Karyawan Tahan PHK?

karir

Hmm… Hari Jumat lalu saya telah menyerahkan surat pengunduran diri. Sudah menjadi pertimbangan yang cukup lama, dan akhirnya saya memutuskan untuk berhenti kerja, pulang ke tanah air, dan memulai perjuangan baru dengan berwiraswasta.

Selama 5 tahun di perusahaan konsultan ini, saya sudah cukup banyak melihat rekan kerja yang berlalu-lalang (keluar & masuk). Entah keluar secara sukarela, atau keluar atas keputusan atasan. Dari sini saya belajar banyak bahwa selama kita berada di posisi karyawan ini, apapun bisa terjadi. Termasuk kehilangan pekerjaan di akhir minggu. Apalagi di saat krisis ekonomi seperti ini, di mana para perusahaan berusaha mengencangkan ikat pinggang.

Dari profesi ini saya juga banyak belajar, macam karyawan apa yang bisa bertahan, bahkan di saat musim PHK seperti ini. Berikut adalah catatan kecil yang saya harapkan bisa jadi sedikit bekal bagi para pembaca yang masih menempuh karir.

1. Keberadaan anda dibutuhkan di perusahaan tersebut

Mulai dari awalnya di iklan lowongan kerja, alasan pasti dari perusahaan untuk mencari karyawan adalah karena kebutuhan. Kebutuhan akan tenaga kerja dengan keahlian tertentu untuk memenuhi kebutuhan perusahaan.

Karena anda dibutuhkan, maka anda harus berfungsi semestinya sesuai tugas anda. Ini adalah dasar dari hubungan perusahaan dan pegawai, yaitu saling membutuhkan. Bila posisi anda sudah tidak lagi dibutuhkan, jelas khan apa ujungnya?

2. Belajar untuk diri sendiri. Kontribusi untuk perusahaan.

Berangkat dari kebutuhan, seseorang dipekerjakan karena keahilannya. Sebagai seorang profesional, sudah kewajiban bagi kita untuk terus belajar dan menambah pengalaman. Dengan semakin bertambahnya keahlian dan pengalaman tadi, nilai kita sebagai profesional juga meningkat. Oleh karena itu belajarlah untuk dirimu sendiri.

Dari keahlian yang kita dapatkan, tentu ada beberapa yang bermanfaat bagi perusahaan tersebut. Sebagai seseorang yang berada di sisi dalam, kita wajib untuk melakukan segala macam kontribusi yang positif terhadap perusahaan.

3. Kerja itu kerja, bukan ‘kerja’.

Tidak jarang satu proyek dihitung menurut banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan. Maka efisiensi dari pekerjaan kita sangat sensitif dibanding jam kerja.

Oleh karena itu, jam kerja sudah sepantasnya digunakan untuk kerja, bukan ‘ini’ atau ‘itu’. Bukan satu praktek yang gampang, dan saya sendiri belum sukses untuk melaksanakannya. Setidaknya berusaha untuk dikurangi.

4. Anggap ini adalah perusahaan kamu sendiri

Sikap yang satu ini adalah salah satu yang didambakan oleh tiap perusahaan atau atasan. Dari rasa memiliki ini, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga keberlangsungan suatu perusahaan.

Contoh paling sepele adalah menghemat listrik sewaktu pulang. Apakah anda mematikan PC atau laptop anda terlebih dahulu sebelum pulang? Tidak banyak bedanya, tapi satu hal positif yang bisa dimulai.

5. Selalu ingat omzet

Peduli anda di bagian sales atau tidak, tidak ada salahnya untuk ingat akan omzet bulanan. Satu proyek besar biasanya bisa ditagih secara berkala diakhir bulan. Bila target terpenuhi, bukan saja kesehatan finansial perusahaan jadi lebih baik, tapi manajer atau atasan anda pasti lebih senang dan lega.

Jadi tidak ada salahnya khan, untuk ngebut proyek diakhir bulan. Peduli ada lembur atau tidak. Tentu saja bukan kerja rodi yang saya maksud.

Itulah 5 poin penting yang kiranya pantas saya sarankan bagi anda yang masih menempuh karir. Perlu dicatat, tip-tip di atas hanyalah serentetan teori yang tak bermakna, kecuali dilaksanakan. Siap mencoba?

————————————————————————————————

Instruksi khusus untuk artikel ini

Untuk kategori harian, silahkan memberi komentar atau tip yang berhubungan dengan karir.

Untuk kategori artikel terbaik, silahkan menulis satu artikel tentang karir anda. Bila anda seorang atasan, apa yang anda harapkan dari pegawai atau rekan kerja anda.

Jangan lupa untuk memberi tautan dan vote artikel ini di Lintas Berita!

54 thoughts on “Apakah Kamu Karyawan Tahan PHK?

  1. kalo liat artikel di atas!!
    bener juga,gak selamanya kita harus jadi karyawan,ada masanya kita harus mengambil langkah yang sedikit extreme dengan memutuskan mundur dari pekerjaan kita yang sekarang dengan berbagai alasan ;
    mungkin gak cocok lagi, ato lingkungan kerja yang sudah kurang sehat, dll.

    tapi semua tergantung pilihan kita,
    terkadang keputusan exterme itu bakalan melahirkan kesuksesan besar yang tak terduga, terkadang melahirkan pula kegagalan tapi gak perlu khawatir karena kegagalan ini pula membuat kita akan menjadi lebih tahan banting,sehingga kita bisa merubah keadaan dari kegagalan menjadi kesuksesan besar yang kita impikan aminn.

  2. Salam,

    saya sendiri belum menjadi karyawan atau wirausahawan karena masih duduk di bangku kuliah. jadi, belum bisa kasih komentar bagaimana menjadi karyawan yang tahan PHK.

  3. Mengubah pola pikir. Belajar bukan untuk ujian. Sekolah bukan untuk ijazah. Lulus bukan untuk mencari kerja, apalagi CPNS. Beruntung tidak pernah mendambakan menjadi seorang PNS.

  4. Memberi lebih dari yang diharapkan rekan kerja, atasan, bahkan manajemen puncak perusahaan bisa menjadi nilai tambah bagi kita sebagai karyawan.
    Istilah saya : Anda minta 1 saya beri 2 dengan jaminan kualitas no.1.

    Kemudian perihal authority yang pernah diulas juga oleh NavinoT, yaitu pengakuan atas kemampuan atau kapabilitas kita di bidang tugas tertentu, penting untuk kita kantongi supaya orang-orang di lingkungan perusahaan yakin dengan segala output kita.
    Caranya konsisten menjaga kualitas hasil kerja dan terus memperdalam pengetahuan yang mendukung, dikombinasi dengan teknik komunikasi yang efektif.

    Terakhir, pada saat kita mengikat diri dalam ikatan kerja dengan suatu perusahaan atau individu lain, berarti ada Ada hak dan kewajiban yang dijanjikan kedua belah pihak dan itu tercatat di jurnal Yang Maha Kuasa sebagai akad (sepakat dan saling berjanji). Jagalah jangan sampai kita tercatat sebagai insan yang berhutang karena cacat janji. Dan tanamkan dalam hati bahwa pertanggungjawaban kepada Yang Maha Kuasa adalah bentuk loyalitas yang sejati.

  5. Saya masih agak bingung mas, tautan yg dimaksud, dibuatnya di komentar harian ini (Kolom Website), atau pada artikel di blog kita.
    Terima kasih mas atas penjelasannya

  6. Saya masih kuliah,tapi dah ngebet banget mau jadi enterpreneur hahaha :D….
    buat anak muda,
    tips-tips diatas kayaknya bisa dipakai buat motivasi kuliah deh…

  7. Keren.. khususnya poin pertama.. ^.^

    “Karena anda dibutuhkan, maka anda harus berfungsi semestinya sesuai tugas anda. Bila posisi anda sudah tidak lagi dibutuhkan, jelas khan apa ujungnya?”

    Jelas kalau pekerjaan itu bukan main-main. Tidak seperti Kuliah,SMA atau SMP yang kalau gagal ya ulang kelas. Tapi bagaimana bila kita gagal dalam kerja (walaupun cuma sekali), banyak orang yang bisa menggantikan posisi kita.

    oleh karena itu Pegawai dituntut untuk berkembang sendiri, bagaikan seorang programer..

    Kalau sekarang bisanya hanya vb(dot)net maka sekarang harus mempelajari Java, Action Script dan bahasa program lainnya.

    Agar posisi kita aman. (kalau seandainya dipecatpun,, kita sudah mendapatkan ilmu baru guna untuk perusahaan baru / perusahaan kita sendiri)

  8. Hidup itu sebenarnya sebuah negosiasi. Kita kan manusia sosial, jadi pandai-pandailah berbicara dan mengambil hati orang lain.
    Seseorang dengan kemampuan pas-pasan pun dapat menandingi (jabatan) orang yang ber “title” tinggi. Tentu tidak hanya modal nekat, pastinya dengan modal tekad dan tawakkal. Jika kita dah berusaha semampu kita, serahkanlah pada tuhan hasilnya,,
    dan yg terpenting dari semua itu adalah “DOA”. Wong pinter bisa kalah sama wong bejo.

  9. dear navinoT,

    semua point diatas membuat saya terkesan terhadap apa yang anda alami, memang saya blom pernah mencicipi dgn yang namanya dunia kerja, tp saya telah banyak bertukar pikiran dengan orang2 seperti anda.. yang mempunyai pikiran lebih jauh kedepan.. dan akhirnya saya mempunyai prinsip “lebih baik tangan diatas daripada tangan dibawah” hal ini dapat digambarkan dalam bentuk pola pikir dalam berwiraswasta apalagi pola pikir seseorang yang mudah puas terhadap apa yang diperolehnya, pola pikir seperti ini yang harus dirubah, dengan pola pikir yang lebih berpikir kedepan seperti anda dapat mengubah nasib seseorang.. ingat nasib itu bukan untuk didiamkan saja melainkan untuk dirubah sejauh mungkin.

  10. If U don’t hold up to in disconnection of relation work hence better work as according to regulation of company…

    Tengkyu..:-)..:D…

  11. Pada hakikatnya, TIDAK ADA posisi aman dalam suatu pekerjaan, baik itu sebagai profesional, freelancer, karyawan, PNS, maupun sebagai wirausahawan. Semua selalu ada ancamannya.

    Freelancer dan profesional selalu menduga2 akankah ada yang meng-hire-nya di bulan depan, akankah ada proyek yg datang kepadanya bulan depan.

    Karyawan seperti disebutkan di atas, khawatir dipecat/dirumahkan bila skillnya sudah tidak dibutuhkan /sesuai dengan kondisi perusahaan.

    PNS juga tidak aman. Meski memecat seorang PNS susah, tapi bisa saja ia dirotasi ke daerah terpencil dimana ia tidak bisa berkutik.

    Pengusaha juga jauh dari aman. Berkesan kalau jadi pengusaha itu duitnya bisa banyak. Bisa jadi benar, tapi resiko yang dihadapinya juga sangat tinggi. Kadar stresnya pun tinggi. Pengusaha juga tidak merasa aman bila partner/kliennya meninggalkannya, yang akhirnya memutuskan hubungan kerja sama atau peluang proyek di masa depan.

    Mau jadi apapun, semua ada resiko dan kesempatannya. Intinya, kerjalah yang Anda suka, belajarlah terus sesuai kesukaan Anda. Rejeki akan mengalir mengikuti, entah itu kecil atau besar.

    1. *plok plok plok* buat Pitra. Betul, memang semua tidak ada ‘aman’-nya. Bukan berarti saya memilih wirausaha karena merasa lebih aman juga.

      Makanya ada 2 macam orang:

      1. I’ll do what I can do, asal sudah pasti dapat sekian pas akhir bulan.
      2. I’ll do what I can, asal bisa lebih dari #1. Menabung lebih banyak dikit, just in case ekonomi lebih buruk.

      Yup..stress so pasti lebih gede 🙂

  12. Menurut saya pribadi, satu-satunya cara supaya ga diPHK dalam masa krisis ini ya meningkatkan nilai dalam perusahaan.

    Tidak ada salahnya mulai belajar bagaimana memberikan kontribusi yang akan menaikkan penjualan perusahaan. Di perusahaan tempat dulu saya bekerja, departemen sales dan marketing bekerja ekstra keras sedangkan bagian IT seolah-olah kaum ekslusif.

    Sebenarnya kalo dipikir yang betul sebaliknya. Pemasaran dan penjualan menaikkan revenue perusahaan, sedangkan bagian lain termasuk operasional hanya taunya mengeluarkan uang.

    Terus sudut pandang lain, kalau benar-benar PHK tidak dapat dihindari, misalnya karena perusahaan pailit, kenapa tidak mencari pekerjaan lain dan mulai pelajari cara berbisnis online?

    Memang tidak bisa cepat kaya tapi setidaknya tidak perlu modal besar.

  13. Yup, point-point di atas saya rasa perlu di perhatikan.
    Dan mungkin andai saja saya menjadi pegawai, inilah yang akan saya lakukan :
    1. Merasa perusahaan tempat saya bekerja adalah milik saya.
    2. Merasa saya adalah orang yang paling beruntung di dunia karena bekerja di perusahaan ini.
    3. Saya akan menganggap tugas-tugas yang diberikan bos saya adalah satu upaya untuk mengasah otak saya.
    4. Saya harus belajar dari bos saya karena kelak saya juga akan seperti dia.
    5. Saya cukup tertawa dalam hati terhadap teman-teman kantor yang membenci saya, karena saya berpikir mereka pasti iri pada saya.
    6. Jika saya di pecat saya tidak akan kecewa, karena saya telah banyak menimba ilmu diperusahaan tempat saya bekerja dulu. Dan saya yakin setelah pemecatan itu saya bisa lebih optimis.

    –> Tapi, bisakah itu..
    🙂

  14. hmm.. saya setuju.. emang semuanya gak ada yang “aman”.. karena semua pekerjaan itu mengandung resiko.. 😀

    saya rasa akan lebih menohok jika kita menggantungkan nasib / mengharapkan pekerjaan kita aman, contohnya bos kita di perusahaan..

    sedangkan klo kita menjadi wirausahawan kita tidak akan berharap apa2 kecuali pada kinerja kita sendiri.. bukan begitu? yaa.. menurut saya sih partner perusahaan itu gak akan meninggalkan kita apabila kita juga menguntungkan mereka.. right..? lagipula klo kita ber-wirausaha kita bisa lebih cepat ber-introspeksi diri kalo2 usaha kita diambang kegagalan.. hehehe..

  15. Agar kita tidak di PHK, tentunya kita harus selalu mengembangkan kemampuan kita, sesuai dengan tuntutan profesi. Selalu ingat, bahwa “cheese” yang kita perebutkan suatu saat akan habis, dan kita harus mencari jalan lain untuk memperoleh “cheese” yang baru. Jangan terjebak dalam “comfort zone” yang hanya akan membuat kita menjadi pegawai yang malas, cenderung pasrah dan menerima keadaan yang telah ada. Bagi PNS memang mungkin tidak ada istilah PHK, namun sebagai seorang manusia yang punya hati nurani, tegakah kita makan gaji buta tanpa mempunyai andil dalam pemerintahan?

  16. isi setiap Poin-poin nya bagus banget,kebetulan dari dulu sampai sekarang saya sudah menggunakan poin nomor 2 agar tetap semangat dan tidak bosan mencari ilmu di perusahaan tempat saya bekerja,ditambah dengan Motto dan menganggap bahwa ” saya belajar setiap hari seperti di sekolahan tapi malah di bayar perusahaan setiap bulan nya ( gajian ) 😀 .

    Jangan mau menjadi karyawan yang merugi,yang hanya menerima gaji setiap bulan nya tanpa mendapatkan ilmu dan pengalaman setiap hari nya. Terus bekerja dan belajar belajar dan belajar.Karena dengan ilmu yang berkembang setiap harinya merupakan salah satu pelindung diri kita dari PHK.

  17. menurut saya, kerja adalah janji. dan bekerja secara profesional, terukur dan tertarget, adalah upaya untuk memenuhi janji yang dibuat itu. sedangkan alat ukur yang paling cermat untuk menakar pemenuhan janji itu adalah hati nurani masing-masing.

    dengan bekerja sebaik dan seoptimal mungkin, hidup terasa semakin hidup. namun hal ini bukan berarti menjadikan hidup untuk kerja belaka.

    jika kerja sudah dinikmati sebagai bagian dari hidup, maka jabatan, lokasi dan penempatan kerja menjadi hal yang terkesan sederhana saja.

  18. Kebetulan saya bukan karyawan yang di PHK, biasanya sich karna kontrak habis dan gak diperpanjang lagi 😀
    Saya juga banyak melihat orang yang bisa berhasil setelah dia di PHK, salut dengan orang seperti itu, mereka tidak pantang menyerah 🙂

  19. Saat ini saya bekerja di lingkungan akademis, di sebuah universitas yang dikatakan new comer with the great differentation. Sejauh ini, yang baru dirasakan adalah tingkat turn over staf yang lumayan tinggi karena banyak faktor. Namun, prinsip yang tetap saya anut adalah bekerja sebagai mandat Tuhan dan mandat budaya. Artinya, melakukan tanggung jawab dalam pekerjaan merupakan pelayanan kepada Tuhan, panggilan hati dan menuntut kreativitas sehingga bisa menyelesaikan seluruh tanggung jawab tidak hanya tepat waktu tapi bisa memberikan value lebih. Misalnya tidak hanya merekap data tapi juga menjadi konselor buat mahasiswa.
    Mungkin, yang membuat saya tidak bertahan adalah saat mahasiswa gagal menilai hidupnya.

  20. Selamat dech dah berani keluar dari perusahaan orang dan memulai usaha sendiri. Betul banget, kita dipekerjakan di perusahaan orang selama dibutuhkan. Kalau sudah tidak dibutuhkan ya dibuang.
    Dari pada kerja mati2an untuk membesarkan perusahaan yang tidak pernah menjadi milik kita, dan pada akhirnya kita akan tersingkir (disingkirkan), lebih baik segera out, dan membesarkan perusahaan milik sendiri.
    Lebih cepat lebih baik. Mumpung masih usia produktif. Jangan nunggu jompo, dikeluarin dari perusahaan orang, baru mikirin membangun usaha sendiri. (sebenarnya ini nasehat buat diri saya sendiri 🙂 )

  21. tidak selama kita jadi karyawan…harus berani mencoba berwirausaha…atau mendirikan perusahaan sendiri. justru bisa bahagia kalo menggaji orang, maksudnya karyawan sendiri.:)
    mulanya emang jadi karyawan, alasannya untuk menabung buat modal bikin usaha sendiri. karena lebih enak kalo bekerja yang benar-benar perusahaan sendiri. bukan hanya sekedar menganggap perusahaan sendiri.
    good luck yach…semoga sukses deh 😀

  22. menurut saya bukan perkara mudah kalo harus keluar masuk suatu perusahaan, ingat.. persaingan diluar begitu mencekik, apa lagi bagi kita yang hanya bermodal cukup ditambah tanggungan hidup yang begitu sesak. Mas Ivan telah memberikan tips agar kita terhindar dari PHK, tapi saya punya tambahan bahwa seberapa pun hebat kita kalau “kurang ajar” tentulah akan didepak juga, “faktor suka tidak suka” merupakan pertimbangan untuk memeilih siapa yang harus di tendang terlebih dahulu. jadi:
    1. jaga diri baik- baik dalam bekerja, selalu tengok kanan kiri dan waspada.
    2. carilah ” tunggangan ” yang mumpuni, karena koalisi juga menentukan prestasi.

  23. PHK itu bukan musibah tapi suatu keberuntungan karena kita disuruh cari bidang baru atau wiraswsta dr hasil pesangon.Jadi dalam hidup ini jangan ada kata putus asa karena Tuhan pasti akan memberi jalan dan rezeki kepada umatnya.

    1. Yang namanya PHK itu sudah pasti musibah, mana bisa PHK itu di sebut sebagai suatu keberuntungan dengan alasan kita ‘disuruh’ berwiraswasta… Memangnya kalau habis kena PHK terus coba-coba bisnis pasti akan berhasil seperti cerita di sinetron? Banyak kok korban PHK yg habis uang pesangonnya untuk coba2 usaha, bisnis, dll.

    2. hm…50:50 lah, bisa beruntung, bisa juga musibah, tergantung cara pandang dan sikap hidup anda. Yang jelas, hanya gunakan duit senilai yang anda relakan, jangan menghabiskan semua yang dimiliki termasuk tabungan masa depan atau jual harta untuk melakukan apapun. Apakah itu berbisnis (wiraswasta) atau lebih ekstrim lagi, berjudi. Karena kalau sudah mempertaruhkan semua begitu, resiko tinggi, kalau gagal bener2 akan menyakitkan.

  24. doh, point ke 3-4 itu bener2 mengena di aku.
    Point 3 misalnya, aku kan membuka website ini di kantor (meskipun ini jam istirahat) tapi tetap saja, ini “kerja” bukan kerja. Susah untuk bisa melakukan kerja beneran. But I try, at least selain jam istirahat usahakan jangan browsing hal2 diluar pekerjaan.
    Point 4, well, itu sudah kulakukan dari dulu, sebagai orang yang tidak bisa tidak pedulian, dan akibatnya seringkali aku berdebat dengan rekan sekerja tentang hal ini. Banyak orang yang masih menganut prinsip, bahwa hal2 seperti misal matikan AC sblm pulang, kalau melihat koran berantakan di meja marketing dikembalikan ditempatnya, dan lain-lain sejenisnya adalah bukan bagian dari kerjaan dan itu adalah kerjaan Office Boy. Padahal apa susahnya, toh kalau misal pulang kerja emang melewati ruangan marketing, sekalian aja gitu.

    Jadi berminat utk menulis satu artikel juga mengenai topic ini, tapi tidak sekarang. Tunggu saja.

    Lydia

  25. 1. Sesuai kebutuhan!!!menurut saya hidup ini adalah perubahan. 2. Betul, belajarlah untuk dirimu, amati, cermati, action. Setiap titik yang kamu buat pasti bermanfaat. 3. Ya..kerja adalah bekerja 4. Berbuat baiklah pada dirimu, saya rasa itu awal dan penting juga untuk perusahaan. 4. Perusahaan penting, karyawan juga penting. 5. Buatlah yang menurut Anda walau kadang berbeda dengan perusahaan.

  26. Mungkin yang terpenting adalah sikap antar atasan dengan Bawahannya.
    Yang menjadi pertanyaan saya adalah…:
    Bagaimana seharusnya seorang Atasan menunjukkan sikapnya kepada bawahannya yang kenyataanya lebih berpengalaman(senior/lebih tua usianya) dengan memperhatikan batasan umur/knowledge dan batasan hubungan kerja yang ada.????

  27. kita sebagai karyawan harus cerdas memilih perusahaan mana yang memberi jaminan kepastian dalam jenjang karir
    dan management yang benar, dalam hal ini mksd dari management yang benar adalah:
    – adil dalam setiap keputusan apa yang dinilai sesuai dengan kontribusi yang di berikan karyawan
    – berjalan sesuai prosedur yang berlaku
    kita sbg karyawan tidak hnya melulu terfokus pada gaji tetapi juga kepuasan kerja yang ada di lingkungan perusahaan

    kita sbg karyawan juga hrs punya cadangan rencana apabila suatu hari trjadi PHK bisa usaha sampingan selagi kita masih menjadi karyawan

  28. Seandainya kita diberhentikan karena kita tidak lagi dibutuhkan dengan alasan skill kita yang tidak memberi kontribusi penuh dengan perusahaan, saya rasa mungkin opini itu bisa diterima. Namun, seringkah kita mengetahui hal di luar itu, yang sebenarnya kita masih berhak untuk memperjuangkan hak kita.
    Saya rasa telinga kita sudah sering mendengar “nepotisme” yang marak terjadi, apalagi di perusahaan atau badan usaha yang cukup elit. Seperti halnya yang saya amati di tempat kerja saya. Siapa yang kuat dia bisa bertahan. Konteks “kuat” bukan karena skill atau seberapa besar kontribusi karyawan terhadap perusahaan tempat ia mengabdi, tetapi seberapa dekat ia dengan para petinggi disana. Semakin dekat, ia juga bisa memegang kendali untuk menentukan kontinuitas individu dalam perusahaan.
    Intinya, kita jangan menutup mata, bahwa kita “pure stopped” gara2 kita tidak dibutuhkan lagi.
    Tetapi untuk negatif thinking juga tidak perlu.
    Yang terpenting adalah membangun pola pikir, bahwa kita harus lebih meningkatkan kinerja kita.
    Karena “mereka” akan rugi melepas kita.
    ^.^

  29. Karyawan di PHK dari tempat bekerjanya tentu ada alasannya. Pertama, mungkin faktor kualitas. Ada orang yang lebih kompeten di bidang tersebut. Kedua, efisiensi perusahaan. Perusahaan tentu mencari karyawan yang terbaik, sehingga yang kualitasnya lebih rendah akan di PHK agar tidak menghabiskan uang perusahaan. Ketiga, krisis ekonomi. Beritanya dapat dilihat di berbagai media. Hal ini disebabkan karena perusahaan tidak mampu membayar gaji karyawan setelah krisis ini.

  30. PHK bisa berarti baik, bisa juga berarti buruk. Baik jika kita mendapat pekerjaan yang jauh lebih baik dari pekerjaan kita semula. Kita harus berani keluar dari sangkar atau comfort zone kita seburuk apapun resikonya untuk mendapat yang lebih baik. Buruk jika kita tidak mendapat profit apapun dan kita belum memiliki pekerjaan.

  31. Saya sudah pernah mengalaminya dan hal tersebut kejadian juga. Setelah saya bekerja untuk perusahaan yg saya bentuk dan besarkan dari kecil, akhirnya saya didepak juga. Dan setelah itu saya berusaha untuk membuka usaha sendiri yang lebih nikmat saya rasakan. Pengalaman selama 5 tahun membangun perusahaan dengan etos kerja yang menurut saya saya lakukan seperti milik saya sendiri dahulu berlanjut malah lebih semangat dengan usaha saya sendiri walau lebih kecil. Jadi dengan pengalaman dan keahlian yang kita punya, kita tidak akan pernah takut untuk di PHK, cuma satu jawabannya : BERJUANG !!!!

  32. Well,,

    Saya akan bekerja pada orang lain maksimum 5 tahun (saya masih kuliah)

    selebihnya saya akan menjadi seorang wirausaha, tak peduli dengan kondisi saat itu, STAND ON MY OWN FEET, and KICK some ASS,,

    tapi selama 5 tahun itu saya harus dapat mengerti dasar manajemen, pasar dan dinamikanya, rules2nya, ma decision way untuk menghadapi krisis,,

    Jadi, untuk apa takut PHK??

    There’s always another emergency exit, then choose the better, not the worst,,

    have a nice day,,

  33. tulisan yang bagus…tambahan dari saya. LOYALITAS. tapi harus seimbang dan ada timbal balik, selama itu tidak ada jangan harap kita bisa betah bekerja dimanapun dan profesi apapun..yang terjadi malah sebaliknya, pekerja harus loyal tapi perusahaan tidak pernah mau. terlepas dari kritis ekonomi sekarang, perusahaan tidak perlu mem PHK pekerja, cukup di cutikan saja, dengan dapet pesangon tiap bulan nya, karna itu bentuk loyalitas perusahaan terhadap pekerjanya. untung besar di bilang kecil, rugi kecil di bilang besar..itulah alasan perusahaan kepada pekerja nya.

  34. Tambahan dari saya adalah problematik WIN WIN SOLUTION. Kalau saya sebagai direktur perusahaan, saya bertanggung jawab secara moral untuk mencarikan solusi pada karyawan saya yang hendak saya PHK karena terpaksa (dengan berbagai cara – jangan hanya lepas uang PHK/pesangon, selesai). Di sisi lain, sebagai karyawan, mereka tidak akan sakit hati jika PHK-nya manusiawi karena tidak memungkinkan lagi mempertahankannya. Talenta manusia sebagai karyawan terbatas, OK deh banyak tulisan yang memuat bahwa karyawan HARUS MENGERAHKAN JIWA RAGANYA, MENGELUARKAN SEGALA KEMAMPUANNYA UNTUK HIDUP MATI PERUSAHAAN – dalam arti jiwa raga menyatu dengan hidup matinya perusahaan. Namun kita tak boleh menutup mata, mereka juga manusia, pasti melirik lapangan pekerjaan lain yang lebih menarik. Pada karyawan tipe ini, mem-PHK tak ada masalah karena mereka yakin punya talenta sebagai senjata pindah ke perusahaan lain. Namun pada karyawan dengan talenta terbatas, namun loyal, secara manusiawi harus dibantu juga. Berikan solusi, misalnya diperbolehkan bisnis MLM sampingan (jangan mengganggu jam kerja), memberikan reward (bisa fisik atau moral seperti pujian2, tepukan di punggung – dalam arti memacu kerja), dsb. Demikian komentar saya.

  35. Thanks untuk 5 poin penting yang di share walau “dianggap” teori yang tak bermakna.

    Bekerja di salah satu perusahaan swasta tahan/ tidak tahan, harus tahan dan siap untuk di PHK. Ada kalanya PHK adalah suatu nasib baik atau sebaliknya.

    Baik, apabila kita ditawari untuk mengundurkan diri dengan kompensasi pesangon dan uang kebijaksanaan. Dan kita menggunakan dana yang diterima untuk memulai membuka usaha baru.

    Baik juga, kita sudah bosan kerja, trus kita sudah memiliki pengalaman yang baik untuk melamar diperusahaan baru atau sudah memiliki tabungan/ aset untuk memulai usaha baru.

    Akan sangat tidak baik apabila kita tidak ke-dua yang saya sampaikan diatas.

    bagi saya intinya adalah: Selagi kita masih bekerja dengan hati, semua akan baik. Dan kita harus siap keluar untuk bekerja sendiri…

    Untuk kategori harian, silahkan memberi komentar atau tip yang berhubungan dengan karir.

Comments are closed.

Comments are closed.