Meninjau Kembali Strategi Lokal

Meninjau Kembali Strategi Lokal

The Detective

Seperti yang kita tahu bersama, pasar Indonesia ini tergantung pasar yang cukup unik. E-commerce susah jalan, tapi jual beli lewat forum dan milis bisa jalan dengan sangat lancar. Tentunya hal ini jadi pikiran orang-orang yang ingin terjun di dunia online Indonesia. Apa sebenarnya yang ada di pikiran pasar Indonesia? Berikut ini kita coba bahas bersama beberapa fenomena pasar yang bisa dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam meninjau kembali strategi lokal yang ada di benak atau buku gambar kita

The Tipping Point

Benar-benar menakjubkan. Kini Facebook lebih boom daripada sebelumnya. Tidak perlu data angka untuk menunjukkan hal ini. Dibandingkan dengan beberapa waktu lalu, kini kita bisa mendengar kata “facebook” di segala sudut kota. Media televisi seperti MetroTV juga mengadopsi facebook dalam program-nya dalam rangka melibatkan lebih banyak orang secara lebih cepat dan mudah, di manapun mereka berada.

Bahkan baru-baru ini, Twitter juga turun naik daun. Twitter yang kemarin hanya jadi konsumsi sebagian orang, kini mulai masuk ke radio dan kemudian populer pada basis pendengarnya.

Benang merah yang bisa ditarik dari sini adalah, penyiar radio, dan rainmaker di media tradisonal menjadi tipping point munculnya momentum social media dalam meraih critical mass.

Consumer Behaviour

Apa sih ngetop di Facebook? Update status dan foto dan tagging foto sepertinya sudah jadi aktivitas lumrah. Kini yang membuat orang kerajingan adalah Facebook Quiz.

Ternyata banyak yang “bertanya” who am i dan how do I compare to other. Sepertinya banyak sekali penasaran dengan jati diri. Tentang apakah yang dia pikirkan tentang dirinya sendiri adalah benar. Dan apakah dirinya cukup baik dibandingkan dengan orang-orang di sekitarnya. Facebook quiz membuat orang berdebar, seperti takut menghadapi realitas.

Ini tidak berarti yang ikut quiz punya “kelainan jiwa”. Yang belum ikut kuis tidak punya jaminan bersifat beda. Mungkin saja yang belum ikut kuis memang belum sempat atau terlalu takut untuk mencoba.

Itulah mayoritas konsumen yang akan kita temui.

Which Long Tail?

Tak lama berlalu, musikus lokal melakukan protes pada band berbau melayu. Terlepas dari penyebab sebenarnya yang memicu protes tersebut, ada hal menarik yang bisa kita baca. Ternyata sebagian besar pasar Indonesia lebih cepat menerima hal-hal yang simpel dan dekat dengan realita keseharian. Bukannya yang agak “pintar” itu susah laku, namun yang agak “pintar” ini justru jadi Long Tail dan bukan mainstream.

The market is hype-able

Oh yeah. Sebagian sudah tercermin dari poin pertama, tapi ada contoh lain yang lebih dekat. Kenapa pocong saat ini cukup nge-trend dan bisa diterima pasar? Bahkan setelah dibuat berbagai macam sekuelnya, tetap saja tidak kunjung muncul kejenuhan dalam pasar? Tentunya hal ini mengingatkan kita pada fenomena film cinta beberapa tahun lalu. AADC, Eiffel I’m in love, dan lain-lain.

Ini berarti pasar kita sebenarnya mudah dipengaruhi, alias hype-able. Juga memberikan keterangan bahwa hype dan tren bisa berlangsung cukup lama sebelum tren baru mengambil alih.

Okay, sekarang bagaimana dengan rencana Anda. Sudahkah Anda memperhitungkan faktor-faktor di atas dalam membuat strategi lokal?

Waktunya Kontes!

Untuk kontes komen harian dan kontes artikel, coba tulis fenomena yang bisa ditemukan di sekitar kita. Apakah ada dan bagaimana kaitannya dengan strategi lokal. Jangan dibuat susah, banyak hal kecil di sekitar kita yang bisa dilihat lagi dengan lebih cermat 🙂

23 thoughts on “Meninjau Kembali Strategi Lokal

  1. Ternyata sebagian besar pasar Indonesia lebih cepat menerima hal-hal yang simpel dan dekat dengan realita keseharian

    What about dangdut?

    P.S: Navinot tolong typo-nya aduuhh…

  2. menyentuh sisi humanis dan membangkitkan ego pengguna adalah salah satu kunci keberhasilan marketer facebook :D, dan saya sepakat dengan kesederhanaan (simple) dan kedekatan dengan realita keseharian (mas wily), yang selanjutnya akan membuat pasar lebih mudah mencerna informasi yang dibawa oleh sebuah situs.

    Dengan demikian kesederhanaan dan kedekatan akan meng-anulir barrier antara pelanggan dan pemilik

    Sehingga pelanggan akan merasa bukan bertransaksi dengan situs (e-commerce) nya, tetapi dengan (pemilik) yang ada dibaliknya.

    * tulisan yang bagus mas toni

  3. untuk mempelajari tren di indonesia tidaklah mudah … dimana sesuatu yang booming disitu-lah pada mengais-ngais informasi hingga rejeki

    e-commerce dengan toko online masih belum bergairah, karena kecenderungan kepercayaan calon pembeli masih ragu-ragu untuk bertransaksi

    webforum dan milis lebih berkembang, bahkan sebagian orang menggantungkan rejeki sehari-hari dengan berjualan diforum dan milis, karena kemampuan untuk menerima informasi juga lebih cepat dan barang yang diperjual-belikan lebih murah dari pasaran ( sepanjang pengetahuan saya selama ini ), padahal sebelumnya milis itu hanya sekedar tempat share informasi … hehehe

    ditahun-tahun kemarin era friendster dan kloningan-nya juga banyak, sekarang era facebook dan microblogging … mengapa? karena dari sisi dukungan layanan internet yang udah “mulai” merakyat dari semua operator dan quick connect via handphone/smartphone maupun cukup update informasi melalu sebuah SMS dan beberapa menit kemudian udah nangkring di status facebook dan microblogging .. cukup mudah dari sebelumnya yang kudu pake webbrowser

  4. Getok tular (bener gak ya nulisnya?) sering menjadi metode efektif di pasar indonesia. Dari situ bisa ditangkap apa yang banyak dimau, apa yang banyak bikin penasaran, sekaligus metode yang murah untuk promosi produk.
    Buat cerita seru dan bikin penasaran di sekitar produk kita. Tidak usah sampai kontroversial.
    Dan coba kita lihat hasilnya

  5. musik melayu lagi hot banget neh!!!
    pada pertengahan/akhir 2008 kita pertama kali mendengarkan lagu lokal yang di combine dengan lagu dangdut.. ahmad dhani dengan mulan waktu itu dengan lagu “sedang ingin bercinta”(kalo gak salah)”, dan awal tahun sampai sekarang semua band bermunculan dengan mengusung tema melayu sampai-sampai juga sekarang band-band besar pun berlomba-lomba membuat lagu2 ber tema melayu dengan di bumbui dengan irama dangdut.. dari ungu yang berkolaborasi dengan iis dahlia…semua itu mungkin dilakukan agar tidak ketinggalan trend saat ini…
    dan diawal mei ini trend baru juga bermunculan lagi
    dengan band-band baru dengan mengusung tema simple, enak ddengar dengan lirik tidak berat.. mungkin akan bermunculan band-band mengusung aliran ini sampai akhir 2009 kita lihat saja!!!

  6. Dari dulu juga industri di kita lebih seneng mengekor kepada keinginan pasar. Pasar di Indonesia adalah trend sesaat. Kalau mau bisnis mainstream yang laku harus mengikuti trend sesaat.

    @ravatar. Bikin sensasi?! Seperti bagi-bagi uang pake helikopter ya? :-p

  7. Setiap negara pasti ada keunikan dalam strategi penetrasi pasar. Indonesia contohnya, dengan jumlah pulau dah lainnya, mengalami masalah pengiriman. Jadi kalau strategi bertumpu pada harga, maka perlu dipertimbangkan bagaimana mengatasi masalah distribusinya.

    Belum lagi masalah budaya, keberagaman bahasa dan lain sebagainya.

    Menurut saya, mungkin strategi lokalnya harus dilokalkan lagi. Misalnya dimulai dari kota dengan pemakai internet terbesar, yaitu Jakarta.

  8. Mau sharing aja teman teman, mengingatkan diri saya juga, perihal pemikiran yang bijak, tapi saya ingin mencoba untuk bisa saling bertukar informasi, ibarat pepatah “lain lubuk lain ikannya”, sama halnya lain daerah lain fenomena pasarnya,n mari berdiskudi bersama…!!!
    Salah satu yang saya dapatkan dari pengalaman sharing,,
    Begini……

    Sudah saatnya/adakalanya kita harus berpikir keluar, sekali lagi, berpikir keluar, dari pendapat yang diyakini masyarakat bahwa market yang sedang trend saat ini adalah market yang baik. Pendapat seperti itu tidak 100 persen benar, fakta dilapangan juga mengatakan seperti itu. Kita harus kreatif untuk mencari sampingan dari trend market tersebut dan yang pastinya juga mendatangkan profit.

    Istilah kerennya “Think Out of The Box”. Ada baiknya kita untuk selalu belajar Think Out of The Box, karena dibanding kita bertarung di market yang banyak sekali player bermain disana, kita bisa bermain untuk tetap mendapatkan profit dengan bermain di luar kotak.

    Misal waktu musim budidaya tanaman2x hias didaerah saya, saya akan mencari sampingan yang menghasilkan profit yang lebih dari itu. saya bisa jadi konsultan teknik ato konsultan bisnis budidaya tanaman2x hias, jual pupuk tanaman hias, tidak harus ikut-ikutan budidaya tanaman2x hias.

    Inilah Think Out of The Box. Jangan terpacu dengan satu hal aja.

    Bagaimana pengalaman di daerah teman-teman disana???
    (Berbagi, lebih baik!)

    Terima kasih untuk perhatiannya.

  9. the customer is discount!
    percaya atau ngga strategi yang satu ini masih tetap hidup dari dulu sampai sekarang walaupun customer tidak sadar dengan tulisan “UP TO” disetiap banner iklan “soalnya tulisannya kecil banget boz!” yang keliatan cuma 50% nya aja, jadi begitu mendengar ada diskon langsung berbondong-bondong datang ke toko tersebut! good strategy

  10. Think Local Act Globaly !
    Kecenderungan trend strategi saat ini saya pikir, bagaimana mengemas pesan serta ‘product’ agar bisa diterima segmen pasar, ditambah berbagi cara kampanye dengan menggunakan strategi teknologi sebagai cara yang tepat seperti internet, e-mail, serta advertising, ataupun viral marketing, apapun itu tak lepas dari pesan yang ingin disampaikan perusahaan yang tentunya selaras dengan ‘goal’ perusahaan. sah saja bila konsumen menilai itu semua dan kewajiban pelaku pasar menyediakan tidak hanya strategi ‘content’, namun perlu dipertajam pesan yang ingin disampaikan diawal. saya berpikir demikian. salam

  11. lebih pasnya sih, meninjau kembali prilaku lokal.
    karna yg dipaparkan lebih ke pasarnya.

    klo ngikutin apa yg booming, itu wajar dan emang seharusnya begitu. harusnya internet yang diutamakan, TV dan media lain sebagai pelengkap.

    jadi klo bicara strategi lokal yg pas, klo menurut saya sih edukasi, pembudayaan komunikasi & pemasaran, dan inovasi didunia maya.

  12. ngga bisa dipungkiri media tv termasuk penarik minat pasar indonesia dalam memilih,

    terbukti anak muda jaman sekarang hobi pake celana pensil/legging(bener ngga tuh spelling nya..?)
    berkat dorongan video klip Changcuter , samson, dll ditambah om ruben onsu yang keliatan aktif saat memandu acara dengan celana sempitnya..

    padahal udah dari jaman fashion punk tahun 80-90 an celana ini dipake oleh: rancid,ramones dkk.. cuman karena ngga diekspos bgt sama tv lokal dan public figur lokal makanya telat naik daunnya celana sempit ini di indonesia..

  13. selera pasar tergantung pada kemampuan daya serap masyarakat Indonesia memahami suatu produksi (exs: lagu/musik). Selera pasar yang berkualitas rendah hanya dapat bertahan sesaat saja hingga timbulnya kejenuhan konsumen, tapi kualitas yang baik akan semakin mengembangkan potensi produksi, hasil karya akan mampu bertahan karena selain memiliki nilai hiburan juga mengandung nilai edukasi yang melekat dalam pikiran.

  14. dalam bisnis, keuntungan adalah yang terpenting. Tapi apalah arti keuntungan tersebut jika tidak didukung oleh peningkatan kualitas sosial (ekonomi, pendidikan, dll), karena kebersamaanlah yang membuat kita bisa menikmati kebhagiaan.

  15. Bener, marketing yang paling ultimate khan yang bisa menyentuh pasar,”menghipnotis”,dan “memenjara”..

    kyk MS, Friendster (walo sekarang mulai di cuekin),,,

    kapan ne orang indo bikin yang ultimate kayak gitu??

    kasi tau yak,,

  16. Artikel di atas ditulis dengan sanagt cerdik untuk menarik perhatian pembacanya. Penggunaan analogi dan terminolgi yang tepat membuat eksplorasi permasalahan dalam artikel tersebut menarik untuk dicermati bahkan bukan saja oleh orang-orang yang memiliki kepentingan/kepedulian terhadap topik-topik pasar dan pemasaran melainkan juga menggelitik orang kebanyakan yang lebih sering menjadi obyek pasar/pemasaran. Harus diakui bahwa penulis memiliki sense yang baik dalam mengolah fokus perhatian calon pembacanya padahal topik tulisan ini pada dasarnya kalu kita perhatikan secara cermat termasuk kategori yang rumit dan membingungkan. Frase yang dibentuk dari dua kata ‘Strategi’ dan ‘Lokal’. Saat frase ini dihubungkan dalam lingkup pasar dan pemsaaran, maka butuh kejelian untuk memahami secara tepat batasan ke-lokal-an yang dimaksudkan oleh topik ini. Apakah itu bersifat riil atau imajiner? Apalagi bila diperhatikan bahwa media digital (khususnya cyber) telah sangat mendominasi ruang komunikasi dan pola hubungn sosial manusia. Akibatnya sesuatu yang lokal pun tak lantas bisa dianggap sederhana. Satu dampak nyata dari perkembangan pesat teknologi informatika

Comments are closed.

Comments are closed.