Kita adalah Anak Manja Dunia Digital

Kita adalah Anak Manja Dunia Digital

anakmanja

Beberapa waktu lalu saya membaca beberapa protes tentang akun twitter Vivanews yang diklaim tidak tahu bagaimana memanfaatkan dengan tepat. Well, ada dua pandangan yang bisa dipakai di sini. Perspektif pertama adalah memang vivanews tidak tahu cara memakai twitter dengan tepat karena twitter hanya dipakai untuk me-redirect feed dari website vivanews. Perspektif kedua, memandang mungkin akun vivanews tersebut memang ditujukan bagi mereka yang ingin mendapatkan update via twitter. I mean, kabarnya RSS telah mati loh!

Kenapa sih kita cepat frustrasi jika ada orang yang salah dalam memakai twitter? I mean, aside from don’t spam, sebenarnya tidak ada kitab suci yang bisa dipakai untuk memutuskan apakah user twitter A atau B itu salah. Kenapa kita tidak pernah memarahi televisi yang menayangkan iklan, sebelum kita punya tivi kabel?

Coba kita lihat bagaimana salah satu pemakai Twitter serius dan terkenal  berinteraksi dengan Twitter dan layanan realtime lain. Kita lihat bagaimana Scoble memonitor berita di internet secara realtime. Ternyata Scoble memakai 3 monitor untuk memantau 3 jenis stream. Mulai dari yang bergerak pelan sampai yang bergerak cepat. Aneh bukan? Alih-alih mengutuk stream yang datang bertubi-tubi, Scoble malah mengumpulkan dan memantau ‘bejibun’ stream.

So, apa sebenarnya yang membuat kita tampak seperti anak manja dunia digital?

  1. We just can’t cope the stream. Tiap orang punya keterbatasan tentang seberapa besar informasi yang bisa bisa diserap dalam satu waktu. Seperti menumpahkan seember air ke atas sebuah botol. Airnya akan tumpah. Tampaknya kita tidak senang jika ada air yang tumpah. Sementara yang lain bisa tenang-tenang saja karena mereka memilih sikap tidak perlu panic dengan air yang tumpah.
  2. We don’t have the toolbox. Kita ambil contoh, kita hanya follow 25 orang yang aktif. Jika kita punya desktop client, tentunya tak akan jadi masalah. Tapi akan beda ceritanya jika yang kita punya hanya hape tipe jadul yang hanya sanggup menjalankan aplikasi j2me. Stream yang semestinya manageable berubah jadi superfluous karena kita tak memiliki toolbox yang sesuai.
  3. We don’t  want/ can’t to filter the stream. Untuk alasan yang susah dijelaskan, kita tidak suka atau tidak mau atau tidak bisa memfilter stream demi menyingkirkan noise dan mengambil signal. Dalam kasus vivanews, kita bisa saja mengeluarkan effort lebih untuk mensetup Pipes atau tool lain untuk memfilter apa yang kita inginkan dari akun twitter vivanews. Tapi mungkin hal-hal seperti itu terlalu membebani. Lebih mudah tidak mem-follow vivanews dan menunggu sampai vivanews mengganti strategi dengan sesuatu yang bisa kita terima.

Apakah salah menjadi anak manja di dunia digital? Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, there’s no right or wrong. Dalam dunia superfluous realtime information ini, yang ada adalah whether you caught or missed the information.

Okay, jadi bagaimana Anda menyikapi derasnya informasi tanpa merugi ketinggalan informasi penting?

PS:

Apparently, akun vivanews_com tidak lagi eksis. Mungkin dihapus?

42 thoughts on “Kita adalah Anak Manja Dunia Digital

  1. Ada apa dengan anak manja dunia digital ?, Narsis mungkin ?, bisa positif ya ataupun tidak ! yang jelas saya pribadi tidak akan menghakimi yang dimaksud anak manja dunia digital sebagai suatu kesalahan.
    Saya tertarik dengan point pertama, yang berbunyi “We just can’t cope the stream”..,perlu kita sadari kembali , Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin pesat dewasa ini telah membuat bola dunia terasa makin kecil dan ruang seakan menjadi tak berjarak lagi. Mulai dari wahana teknologi komunikasi yang paling sederhana berupa perangkat radio dan televisi hingga internet dan telepon genggam dengan protokol aplikasi tanpa kabel, informasi mengalir dengan sangat cepat dan menyeruak ruang kesadaran banyak orang. Perubahan kini tidak lagi dalam skala minggu atau hari bahkan jam melainkan sudah berada dalam skala menit dan detik dan ini dapat diperoleh melalui sumber informasi yang disebut dengan internet.
    Jadi kecenderungan sikap “there’s no right or wrong”, dari lubuk hati ini, perlu dikembalikan kepada insan informasi yang selalu memegang dimensi informasi secara relevan, akurat, on-time..

    Salam

    1. Jangan sampai salah ya 😉 There’s no right or wrong-nya berada pada tataran praktek berhadapan dengan informasi, bukan tentang informasinya itu sendiri.

      Tidak ada juklak yang mengatur praktek ber-social network. Yang ada hanyanya best practises dan common preference.

  2. memang kita disaat sekarang ini merupakan anak manja dunia digital. dan menurut saya prediket “anak manja dunia digital” harus segera di jauhkan dari insan digital sendiri..mengapa??karena pada zaman sekarang ini kebanyakan para insan digital hanya berperan sebagai user..tanpa adanya partisipasi dalam pengembangan dunia digital..(TI)..”terutama insan digital indonesia”, kan tidak harus mempunyai backround Ilmu IT untuk bisa berpartisipasi, toh pada kenyataannya di Indonesia yg backround nya non IT lebih Pinter” dan berperan dari pada yg berbackround ilmu IT, tapi saya tidak mengatakan para praktisi dan programmer IT di indonesia sudah hebat, mengapa?karena para programmer dan praktisi IT di Indonesia paling terkenal dengan yang namanya unsur “Copy-Paste” dan “plagiator” software yang handal, dengan mengambil karya milik praktisi IT luar negeri, tanpa adanya usaha, kemauan untuk berfikir, kemauan untuk maju, dll, yang ada itu hanyalah kemauan untuk menikmati dan memakai saja, dan AKSI “Ambil muka” dengan mengandalkan karya orang lain, itulah mengapa saya mengatakan saya TIDAK SETUJU DENGAN istilah ANAK MANJA DIGITAL..

    1. saya setuju dengan pendapat anda, tp selain sebagai plagiator sebenarnya insan indonesia bisa lebih jago dari praktisi IT luar negri, kenapa? karena praktisi kita mau untuk “ngulik” walopun sebagian ada copy pastenya. tinggal bagaimana yang mempunyai sarana untuk mengarahkan.

  3. Sangat setuju dengan pendapat Nopri Wantilas ^-^

    Orang Indonesia sudah terlalu dimanja… akhirnya jadi manja & malas.
    Kita belum berani untuk membuat trend digital sendiri.

  4. Hi Toni, saya salah satu yang protes soal vivanews, dan ketiga alasan di atas jadi dasar ketidaksukaan saya terhadap vivanews. Tak punya waktu itu baca banyak Tweet berita (lebih suka dari account yg memang manusia), tak tahu cara lebih canggih untuk filtering all noise (gaptek super luddite), dan memang tak mau dipaksa menenggak berember-ember noise.

    Saya sudah lihat video Scoble tentang FriendFeed set up-nya. Dahsyat. Sudah coba pake beberapa space dan windows di laptop (mac), cukup berhasil.

    Toni benar, yang ada hanya best practice dan common preference. Tak ada aturan ketatnya. Tergantung tujuan kita bergabung di sana untuk apa.

    Dalam kasus vivanews, mereka masuk ke Twitter yg publiknya punya karakteristik sendiri (setidaknya orang2 yg jadi kontak saya), mementingkan interaksi, dan sangat protektif terhadap Twitter.

    Ini yang agaknya tidak dipertimbangkan vivanews, sehingga kehadirannya di sana malah jadi backfire. Orang2 sibuk unfollow, atau tak pernah mau follow sama sekali. Beda dengan @thejakartaglobe misalnya, yang rajin berinteraksi.

    Saya juga tidak setuju kalau ada orang yang mengatur-atur bagaimana kita bermain di social media. Semua tergantung kepada tujuan kita di sana untuk apa. We can make our own rules. But if we ended up speaking to ourselves and no one is listening, ya itu resikonya. 🙂

  5. Saya setuju tentang bahwa tidak ada aturan baku dalam ber-social networking. Mungkin aturan nanti ujung-ujungnya ada di tangan penyedia layanan (aturan layanan, misalnya).

    Dalam konteks vivanews, saya melihatnya bagaimana dalam memanfaatkannya. Jika memag dipakai untuk menyediakan update otomatis dari feed mereka, ini adalah alasan kenapa saya tidak follow.

    Menurut saya, dengan mereka masuk ke crowd ini, mereka memiliki kesempatan untuk memanfaatkan secara “lebih”. Saya tidak tahu apakah ada semacam pencarian informasi tentang behavior orang-orang yang pakai Twitter atau tidak, atau paling tidak “bagaimana jika dimanfaatkan begini, atau begitu…”.

    Jadi, jika dalam konteks vivanews ini pilihannya (bagi pengguna layanan Twitter, termasuk saya) adalah “take it or leave it”, saya pilih “leave it”.

    Eh om, itu kalimat “Well, ada dua pandangan yang basi dipakai di sini.”, itu maksudnya ‘basi’ atau ‘bisa’?

    Makasih…

  6. klo mnurut ak, enaknya buat blog aggregator pribadi untuk berlangganan RSS Feed dr blog, koran online yang menurutku penting. jd enak, klo mw tw berita terbaru, kita tggl buka blog itu. berita tersaji dengan selera kita sendiri. 🙂

  7. melihat dua sisi …. akhirnya ditengah-tengah right dan wrong … ndak milih, ndak maju ndak mundur … hehehe

    kalo kadang kita dijudge sebagai anak manja di era digital gini … gmana papa dan mama-nya?? sampai saat ini kita cuman dibilang “anak” …. belum pernah dengar “remaja manja”, “dewasa manja” dan “orang tua manja”

    berpikir kritis dengan mengamati perubahan laju informasi di era digital sekarang, memilah dan memilih pun sulit sepertinya … sebuah pada berlomba menonjolkan keunikan dan kekhasan masing-masing, meraih kastemer ( pembaca ) loyal dan menjadi top mind, menjadikan kita kalo pas lage konek internet langsung pertama kali membuka website itu …. jadi addicted dah … sehari ga konek jadi meriang dan demam tuh ( beberapa temen mengalami-nya ) …

    di tahun kemarin, ndak punya akun FS aja minder, sekarang era FB dan microblogging … yang didukung ama operator lewat SMS dan Ponsel cerdas langsung konek … enjoy sekali.

    terkadang jadi anak manja dunia digital perlu … sampe bikin petisi online segala tuh … yang penting tidak kebablasan dan dilakukan dengan tanggungjawab plus Netiket ….

    keep post and smile 😀

  8. Saya termasuk yang merasa kritikan sementara orang bahwa Vivanews tidak tahu cara menggunakan Twitter agak berlebihan. Salah satu hal yang membuat Twitter cepat populer saya pikir adalah cara penggunaannya yang begitu sederhana, sehingga bisa digunakan sekehendak si pengguna; apakah mau jadi feed reader, platform untuk social marketing ataupun media penyampai spam sekalipun.

    Niat awal Viva mungkin hanya ingin menjadikan Twitter sebagai penyampai feed saja, dan ini sah-sah saja saya pikir. Saya sendiri mengikuti baik Viva maupun Kompas yang pendekatannya sama. Tidak masalah, karena di PC saya menggunakan Tweetdeck yang bisa mengelompokkan timeline, dan di HP saya menggunakan Gravity yang memiliki kemampuan serupa. Selain itu, saya termasuk yang lebih suka mengikuti twitterfeed dibandingkan membaca melalui feedreader karena bisa langsung di-retweet dengan mudah bila menemukan berita yang ingin saya bagikan dengan follower saya.

    Tapi terus terang saya juga termasuk yang agak terkejut ketika pertama kali melihat bahwa Viva hanya menjadikan Twitter sebagai penyampai feed (http://bit.ly/Yuc1j). Pendapat saya, cara mencari follower dengan mem-follow lebih dahulu yang dilakukan Viva itu lebih pantas bila dilakukan untuk mencari interaksi, dan bukan untuk menyampaikan feed. Saya lihat ini bedanya Kompas dengan Viva. Kompas justru mendapat follower di Twitter dari website-nya dan menggunakan Twitter hanya sebagai perpanjangan feed-nya, sedangkan Viva, sebagai pendatang baru, tampaknya ingin mencari traffic ke website-nya dari Twitter.

    Saya sendiri setelah melihat ini tinggal memindahkan Viva ke timeline yang saya buat untuk feed di Tweetdeck maupun Gravity. Beres.

    Jadi sayang juga sih menurut saya, setelah mendapat hujatan begitu mereka langsung menutup account Twitter-nya. Saya rasa sebetulnya mereka hanya perlu membuat account satu lagi yang difokuskan untuk berinteraksi untuk pengguna Twitter yang agak ‘rewel’ sedangkan account yang sekarang dibiarkan saja bagi pengguna yang seperti saya.

    Kesimpulan saya, sepertinya perusahaan yang ingin menjadikan Twitter bagian dari strategi web-nya perlu melakukan perencanaan lebih mendalam dan menyiapkan sumberdaya yang dibutuhkan secara lebih teliti bila ingin sukses. Yang jelas mereka perlu tahu dulu bagaimana cara mereka ingin memanfaatkan Twitter, dan jangan sampai seperti Koran Tempo yang Twitternya seolah-olah hanya iseng-iseng saja (coba lihat ke http://twitter.com/korantempo kalau tidak percaya).

  9. @Alaksir memang tidak salah, tapi sepertinya esensi Social Networkingnya jadi melemah disini. Tetap saja Tempo dan Vivanews memposisikan acc Twitter mereka sebagai perpanjangan website saja, bukan sarana untuk menjangkau para pembaca.

    Kalau untuk men-drive pembaca tentu saja bisa dengan sentuhan yang lebih personal. Saya pribadi tidak mem-follow acc twitter dari koran2 yang hanya difasilitasi oleh Twitterfeed, karena saya merasa timeline seperti dispam dengan puluhan tweet sekaligus.

    Untuk itu saya memilih Google Reader saja daripada Twitter. Dan seperti Waraney bilang, jakarta globe adalah yang salah satu contoh penggunaan twitter untuk media yg sangat efektif. Mereka bisa live report, interview, polling, dll dari Twitter.

  10. While overall setuju sama articlenya tapi rada ngga setuju sama term “Anak Manja Dunia Digital”. Us geeks have been involved in computing lifestyle for ages, it’s not us being spoiled but rather than we’re embracing technology around us to help our life easier. So, mungkin gue lebih prefer just as “Anak Digital”.

    – Amu
    http://twitter.com/gueamu

    1. term “manja” muncul karena sepertinya kita ingin semua sesuai keinginan kita. “Saya ingin stream Vivanews sesuai standard yang bisa saya terima”, padahal no one asked to follow or keep on following kan? Ini sebenarnya yang saya sebut “manja” 😉

      Geeks fork, not complain :p

  11. Kalo ngomongin “Saya ingin..” berarti semua orang dong, wong manusiawi semua orang ingin ini itu 😀

    “Saya ingin kaya!” “Saya ingin punya pacar cantik!” Kita semua manja dong yah? Hihihi.. But nonetheless, great article, keep it up! 🙂

  12. Wah, seru banget ya… nih argumen2nya. Kalau saya sih terus terang anak yang sedang dimanja dunia digital. 😀 dan saya yakin generasi sekarang dan yang akan datang adalah generaja2 yang akan selalu dimanjakan oleh dunia digital.

  13. dipikir2 lagi … term manja itu sangat akurat.
    kayaknya sering bgt pengguna berteriak2 untuk prefer ini, ga mau itu, harus begini, harus begitu. dari twitter, facebook, sampe pengguna produk microsoft (apple sepertinya satu-satunya tanpa cela di mata pendukungnya).

    parahnya lagi, kayak ada kesan plonco-ism. mungkin fenomena ‘my indie band is now too big to fit in my back pocket’ berlaku di sini.

  14. Toni, teman-teman. You could say that there is no right or wrong way to use social networking but that ignores one of the principles powering New Media – that the audience (us consumers)is in empowered in the Net.

    On TV information flow is one-way communication. If we don’t like it we can’t talk back. But in New Media we can and when we can do this it also mean that we do not have to stand for others not respecting our deire to have conversations and treat us as dumb marketing targets instead.

  15. Anak sekarang memang manja dunia digital! Liat aja fenomena ketika direktorat pengembangan sistem informasi Universitas Indonesia memblok situs Facebook. Wuuuiiihhh Facebook langsung sepi dan mahasiswa yang demam Facebook tampaknya langsung syok bahkan lucunya beberapa di antara mereka merasa bagian hidupnya hilang jika tidak mengakses Facebook minimal sehari ganti status *halah*..Kok jadi nyambung ke FB yah..Hahaha..

  16. Trackback dari “Kita adalah Anak Manja Dunia Digital”

    The truth are :
    kita benar benar berada di dunia digital. Dunia dimana setiap informasi yang dibutuhkan disimpan kedalam suatu database, dan bisa diakses secara cepat. Sebenarnya dunia ini atau yang lebih tepatnya disebut sebagai era. era ini diciptakan semata untuk membantu aspek kehidupan manusia, agar menjadi semakin cepat. Itulah gunanya teknologi. But the fact is, somebody use it.

    Yah, memang..
    Itu semua demi meraup keuntungan dari banyaknya user yang memakai. Kenapa? Karena user adalah ujung tombak mereka untuk mendapatkan iklan. Hal posotive nya adalah terbuka lapangan kerja baru bagi sarjana-sarjana yang belum mendapatkan kerja.

    Tapi menjadikan dunia memasuki era dehumanisasi. Dimana sepertinya teman kita hanya bisa diakses melalui situs – situs social networking. Kita tinggal duduk didepan monitor atau apa saja yang bisa mengakses internet, dan mendapatkan apa yang kita inginkan.Entah mau disebut Manja atau apa. But this is the fact were we must to face.

    mungkin sebentar lagi,(atau bahkan sudah ada dan dalam pengembangan)kita akan memperoleh technology yang lebih baru lagi. yang lebih cangih. dimana era teleport sudah mulai bergabung dengan kita. ini membuat kita menjadi lebih tidak memanusiakan manusia dan mengandalkan technology.

    Semuanya dibuat semudah mungkin untuk mempercepat pekerjaan manusia.(walaupun sebenarnya kiblatnya adalah kepada ‘dewa uang’) Tetapi, semua dibuat semenarik mungkin atas nama kebutuhan.

    Technology yang diciptakan untuk membantu pekerjaan manusia, kini terjawab sudah (jika teleport benar – benar ada)dan efeknya selain men- dehumanisasi kan manusia, tetapi juga pembengkakan pemakaian energy. Listrik akan semakin dibutuhkan.
    Selain itu efek lain dari bahasa tulisan (yang dibuat hasil rekayasa teknologi dengan tujuan agar kita bisa menyampaikan aspirasi kita dan dibaca oleh banyak orang seperti ini) adalah kesalah pahaman dari pembaca.

    Masalah – demi masalah pasti akan selalu hadir, seiring hadirnya 1 perkembangan baru ditengah manusia. Tetapi semua itu tergantung bagaimana kita menanggapinya.

  17. nah masalahnya disitu….karena “orang-orang lain” sudah berhasil menciptakan teknology itu..”apakah teknologi untuk kita??…jwb “ya” benar sekali…lalu baik sekali “orang-orang lain” itu mau bersusah payah membuatkannya untuk “kita”?o….tungu dulu…”ada uang ada barang” ya…ibaratnya begini..”km punya uang berapa untuk bisa saya manjakan diranjang??”ya berfikir sendiri lah analoginya”…

  18. Ternyata heboh juga urusan @vivanews_com sampe dibahas di banyak blog. I don’t know, I find it a trivial issue.

    Gini lho, there’s a reason why it’s called social networking. Loe mau memperluas jaringan sosial loe, makanya loe join satu layanan online yang memfasilitasi hal itu, untuk punya kontak ataupun temen yang lebih banyak untuk kebutuhan tertentu.

    Di Twitter, interaksi itu diharapkan sekali, kalau cuma mau kirim news feed, ada yang namanya RSS. RSS is dead huh? Maybe to Steve Gillmor who is an innovator/early adopter tapi masih banyak orang yang mengandalkan RSS.

    Speaking of which, of course Dave Winer is annoyed at him, Winer created the bloody thing! 😀

    Remember, many of us are innovators, early adopters, or leaders. We adopt new things earlier than others. Kalau buat kita hot, orang lain belum dengar sama sekali. Di kita udah basi, di orang lain masih hot. Friendster anyone? Facebook? Dan sekarang RSS. I still rely on RSS feeds, I subscribe to 120 of them.

    Berapa banyak sih orang yang pake Twitter? Estimasi paling tinggi sekarang juga 20-30 jutaan worldwide. Berapa banyak yang pakai internet? Ratusan juta? This Twitter issue is a relatively small thing.

    You don’t like it? Ngapain follow? Just because itu perpanjangan brand komersil atau itu milik seorang celebrity, ga berarti harus difollow, are they even interesting? I don’t like how vivanews used their Twitter account, buat gue sama aja dengan spammer yang kirim links ke hal2 yang gue ga peduli that’s why I never cared about them.

    Here’s a list of the kind of accounts I follow on Twitter:
    1. They offer something of value to me
    2. I enjoy reading their tweets
    3. They interact with me

    These conditions are not necessarily exclusive to each other nor are they independent of each other, sometimes a combination. Most importantly, they don’t annoy me.

    So what’s my point: You don’t have to follow everyone who follows you.

  19. Satu ciri dari media sosial adalah kontrol yang berpindah dari tangan sekelompok orang atau media ke individu.

    Jika cara Vivanews menggunakan Twitter tidak sesuai dengan keinginan, unfollow button is just one click away.

    Orang yang sibuk teriak-teriak mungkin saja termasuk satu dari kategori di bawah ini:

    1. They care. They feel like being part of the community, i.e. Vivanews. Ini berita baik.

    2. They are angry the world doesn’t act like they want to. Suka atau tidak, banyak lho orang seperti ini…

    Kalau vivanews punya followers yang termasuk dalam kategori pertama, menghapus akun adalah kesalahan. Not all publicity is a good thing. It may backfire. Seharusnya Vivanews secepatnya mencari tahu apa yang dapat dilakukan dan mengkomunikasikan apa yang terjadi kepada pembaca setia mereka.

    Jika followers adalah orang yang termasuk dalam kategori kedua, saya anjurkan tidak ambil pusing. You can’t make everyone happy.

    Saya ingat pertama sekali ada subscriber yang unsubscribe dari e-newsletter saya beberapa tahun lalu. I felt upset. Apa yang salah. Apakah kurang bermutu? Apa ada yang salah?

    Belakangan saya sadar. Sometimes there’s something wrong with them, not me 🙂

    FriendFeed memperbolehkan agregasi konten dari berbagai akun media sosial. Tapi mengapa ada orang yang menganggapnya bermanfaat? Terus terang ada lho orang yg mempergunakan Twitter client sebagai ‘stream’ of information… yang mana dalam kasus ini kurangnya komunikasi sepertinya bukan masalah.

    Mungkin cuma perbedaan ekspektasi saja yah…

    Terus tentang peraturan. Memang tidak ada peraturan benar atau salah dalam penggunaan media sosial tapi perlu diingat dalam kehidupan sosial juga ada etika yang boleh jadi berupa best practice yang perlu ditaati.

    Bukan berarti boleh spamming sesuka hati. Itulah sebabnya ada terms of service, atau pada kehidupan nyata, hukum negara.

    Semoga menambah informasi yang berguna untuk diskusi ini. 🙂

  20. Setuju dengan Rama 😀 Sebenarnya kita sendiri punya ‘kekuasaan’ khan untuk memfilter mana twiter yag kita inginkan dan yg tdk inginkan untuk difollow.

    Tipe user di indonesia memang unik, sangat demanding, kalau bisa inginnya semua dipenuhi, sampai sampai media jaringan sosial sampai disambung-sambungkan seperti satu status untuk plurk, facebook dan twitter, pdhl menurut saya ke 3 jaringan sosial tersebut punya spesifikasi yg berbeda untuk berhubungan dengan lingkungannya.

    Tapi itulah user di indonesia, mau semua tp tdk mau repot, disitu manjanya kali yah? 😀

  21. Okay, jadi bagaimana Anda menyikapi derasnya informasi tanpa merugi ketinggalan informasi penting?

    Social Bookmarking Service seperti Delicious menjadi jawaban saya. Selama ini saya menjadi follower dari beberapa account Twitter yang sesuai dengan minat saya. Saya akses Twitter tiap hari, kemudian informasi-informasi yang disampaikan oleh mereka, khususnya mereka yang memberikan link dalam status Twitter-nya saya save di Delicious dan saya kategorikan sesuai dengan topiknya. Hal ini mempermudah saya untuk mengorganisir derasnya informasi yang ada. Nggak harus hari itu informasi yang saya peroleh saya baca, tetapi saya tidak kehilangan informasi tersebut di antara banyaknya update status mereka yang saya follow.

  22. setuju, tanpa adanya dunia-digital(buat yang udah freak banget), sama parahnya kayak pecandu drug(yang udah addicted stadium 4) heheh… 🙂

    well, live is to enjoy.. 😀

  23. Saya tidak setuju dengan sebutan “Anak Manja Dunia Digital” karena informasi dapat diperoleh lewat berbagai media. Sebut saja yang paling umum, koran. Melihat besarnya persentase orang Indonesia yang masih belum mengenal dunia digital atau internet, terutama kaum orangtua. Mereka lebih memilih koran daripada internet untuk memperoleh informasi penting. Sedangkan yang dimaksud “Anak Manja Dunia Digital” sendiri mungkin ditujukan kepada kaum pemuda dan remaja yang gemar berselancar di dunia maya. Jadi, opini tersebut hanya mencakup sebagian kalangan saja dalam memperoleh informasi penting. Sekian komentar dari saya. Terima kasih.

  24. Kebutuhan informasi penting dapat diperoleh dari berbagai media. Bukan hanya media online. Sehingga kita tidak dapat disebut “Anak Manja Dunia Digital” dengan hal tersebut.

  25. Informasi memang mayoritas didapatkan dari media online. Namun, kebutuhan informasi juga masih lebih dititikberatkan pada media cetak, bukan elektronik. Jadi, kita tidak sepenuhnya tergantung pada dunia digital.

  26. apaan tuh,,, semua akses data emang dapetnya dari dunia digital doang, sebenarnya ada banyak lebih data yang bisa kita peroleh tanpa dunia digital,,, yang lebih luas dan lebih terarah kedalam suatu aspek yang kita inginkan, koran daerah misalnya. semua orang blum tentu tau cerita dan tragedi didaerah yang sulit terjangkau oleh media modern. jadi, why ? kita harus manja sma dunia digital.

  27. Lihat dari judulnya menarik.
    tapi artikelnya terlalu unuser friendly. saya jadi bingung bacanya.,.,. kekeke maap gaptek.
    Judulnya dibuat lebih spesifik dunz om.
    cuman saran.
    🙂

  28. Well, bener juga,,

    Facebook, Friendster atau Myspace memberikan kontribusi jutaan dolar bagi pembuatnya.

    Mungkin kita suatu hari akan membuat tandingannya, yang gila sebagian besar user Facebook, friendster adalah dari Indonesia (mengingat populasi yang ada)

    Saya mungkin tidak akan menutup account saya di situ, karena ada beberapa keuntungan yang saya dapat (mungkin anda juga)

    Tapi, someday jika ada orang Indonesia yang membuat situs serupa dengan sentuhan yang berbeda, dan feature yang lebih canggih(ini tidak imppossible, karena banyak sekali hacker d indonesia yang skillnya mengagumkan) akankah setiap orang yang berdiskusi di sini akan mengikuti atu memberikan support??

    Bayangkan, Google yang berawal dari proyek iseng bisa menjadi saingan MS, Yahoo! dll…

    Tapi jika ada Programmer dengan dukungan rakyat semajemuk Indonesia melakukan terobosan, bayangkan impactnya !!!

    Good Day

Comments are closed.

Comments are closed.