Brand Monitoring: Apa Yang Bikin Susah?

Brand Monitoring: Apa Yang Bikin Susah?

Crane

“If you can’t measure it, you can’t improve it”. Kita akan berangkat dari filosofi ini kembali. Kali ini kita bahas tentang brand kembali. Saya kira kita semua sudah aware dengan potensi social media bagi brand marketing. Mengingat Indonesia sebagai negara pemimpin dalam hal pertumbuhan user di Facebook, social media adalah tempat hang out dari konsumen dan calon konsumen produk kita di masa kini dan masa depan. Tapi apa iya prakteknya bakal selezat teorinya?

Kembali ke filosofi di atas, ada baiknya kita mulai dulu dari pengukuran keberhasilan brand marketing. Kita pilih langkah seperti ini supaya kita tidak terjebak dalam usaha marketing brand secara membabi buta, tanpa tahu apakah usaha tersebut bsia dinilai berhasil atau kita sekedar menikmati efek kebetulan. Alat ukur keberhasilan marketing di social media ini sendiri masih jadi produk mahal yang diminati banyak orang. Ada beberapa tool sederhana yang ada dalam jangkauan kita, dan ada juga produk yang komprehensif dengan berbagai tambahan value added. Yang terjangkau misalnya: Google Alert, Search.twitter.com, technorati.com, dll. Metodenya sendiri belum ada yang pasti. Namun hal seperti jumlah hasil pencarian di google/twitter/technorati untuk keyword (brand) tertentu sudah bisa dipakai sebagai angka awal.

Kita kesampingkan dulu soal alat dan metode. Ada hal lain yang ingin saya diskusikan, yang tak kalah pelik dari mencari alat dan formulasi penurunan angka. Menurut saya, ada beberapa hal sederhana yang membuat brand monitoring di Indonesia lebih rumit dari sekedar alat dan rumus. Antara lain:

  • Profit equals acquiring new customers. Bagi banyak brand, rumusan tersebut masih berlaku. Profit berarti seberapa banyak pelanggan baru yang bisa direkrut. Keeping loyal customers around really is expensive, bullying new customer — on the other hand — is cheap and easy. Contoh: 3G services, we are at the mercy of 3G service provider. Brand seperti ini bahkan merasa tak memerlukan “brand monitoring”. Nilainya terlalu insignificant dibanding output perekrutan pelanggan baru.
  • People does not have the megaphone. Megaphone untuk bercuap-cuap saat ini masih sebatas koran. Blog, dll masih jadi konsumsi terbatas sebagian orang (bukan segmen konsumen terbesar, kecuali untuk layanan online). Contoh megaphone: Politikana sebagai megaphone perspektif politik. Tanpa megaphone, konsumen tidak bisa memberikan feedback. Kemungkinan besar feedback-nya akan tenggelam dalam derau atau sinyal lain yang berlimpah.
  • People talk but brand does not listen, thus giving up. Walaupun konsumen punya megaphone, tidak berarti brand akan mau mendengar. Akibatnya konsumen memilih diam karena berkoar-koar di megaphone hanya akan memberikan lelah.

Bagaimana Anda bisa memonitor keberhasilan brand marketing jika tidak ada data yang bisa dianalisa?

Okay bagaimana menurut Anda? Anda setuju mengukur keberhasilan marketing di social media, apalagi di dalam negeri, masih susah dilakukan? Lebih berat di faktor alat atau justru ketiadaan data? Apakah Anda setuju social media harus lebih dipopulerkan lagi sebelum bisa benar-benar punya peranan dalam proses (brand) marketing?

15 thoughts on “Brand Monitoring: Apa Yang Bikin Susah?

  1. Salam,

    tentu saja saya setuju kalau keberhasilan merk diukur dari hingar bingar penduduk media sosial.

    tapi kadang, tidak semua merk dapat merasakan itu..karena konsumen yang dimiliki masih terbatas kemampuannya untuk bercuap-cuap di media sosial.

    Misalnya saja, masih banyak ibu rumah tangga yang belum kenal teknologi Internet, bagi anak-anak muda pasti mudah untuk menuangkan kekesalannya terhadap merk di Internet. *tapi tidak semua anak muda

    Tentu saja, social media harus populer terlebih dahulu. buat apa ada sebuah portal berita tapi tidak ada yang baca?

    Trims.

  2. Mungkin datanya bisa dilihat dari seberapa besar hit(atau view) dari ads kita pada satu bulan lalu dibandingkan dengan berapa peningkatan penjualan di bulan berikutnya.

    Dengan asumsi semua ads dilakukan cuman di social media, bisa dibilang peningkatan angka penjualan adalah hasil marketing.

    Atau berapa besar buzz yang dihasilkan. Smart Jump misalnya, tanpa iklan di TV hanya di web, kita bisa lihat seberapa buzz yang dihasilkan di blog.

    Aku tertarik mau ganti ke smart gara-gara viral di beberapa blog yang memuji kecepatannya.

  3. setuju, kalau brand monitoring masih susah di lakukan, apalagi kalau marketing nya melalui social media, bahkan di luar sana aja, social media masih experiment dan blom bisa di bilang sebagai salah satu media marketing yang bisa di pakai oleh semua brand (ga seperti tv/radio misalnya yang sudah terbukti)

    tentu social media harus di populerkan lagi, tapi sekarang ini sudah lumayan bagus (dalam kasus fb). kemaren sudah ada billboard gede three yang promosi update status fb.

    sekarang tinggal kita2 ini sebagai evangelist fb/social media untuk memberitahukan kalau fungsi social media itu bukan hanya add friend/update status aja, dan juga promosi/marketing di social media bukan merupakan jalan instan (banyak temen tidak sama dengan banyak sales)

  4. gak setuju..brand monitoring masih bisa dilakukan kok! Apalagi marketing melalui social media..social media masih bisa berpotensi untuk mempromosikan produk dan jasa yang ditawarkan. Asalkan kontennya dibuat semenarik mungkin..Emang sih batasan menarik atau tidaknya relatif. Namanya juga usaha toh..

  5. Hmm.. brand monitoring? saya belum begitu paham marketing sih, tapi bukankah tujuan akhir dari semua campaign brand adalah meningkatnya sales yang berarti profit yang meningkat?

    Untuk apa campaign di social media kalau profit tidak meningkat? sekarang pertanyaannya adalah, bagaimana meningkatkan profit melalui social media?

  6. kini brand masih sibuk bermain media konvensional (cetak, outdoor, tv, radio, event). kenyataanya di Indonesia belum kelihatan Adakah brand yang sudah bisa mendapatkan target-nya melalui sosial media?

  7. Ada dua camps of marketers. Satu adalah yang di U.S sana dinamakan marketer atau advertiser Madison Avenue.

    Branding dan iklan bermodal besar adalah ciri-cirinya. Beli ad spot di super bowl, buat sesuatu yang unik dan dibicarakan orang – karena unik / lucu, dsb. Harapannya ketika orang ingin produk atau jasa yang bersangkutan, brand itulah yang diingat.

    GoDaddy contohnya dengan iklannya yang cenderung menampilkan cewe cantik.

    Camp yang lain adalah direct response marketer. Grup ini hanya memedulikan roi (return of investment) atau romd (return on marketing dollar).

    Belakangan branding di social media definisinya telah membumi. Semua kegiatan berpotensi memengaruhi branding. Ia bukan lagi suatu yang khusus untuk perusahaan besar. Makanya ada personal branding.

    Kegiatan branding memang susah diukur karena tidak dapat langsung diterjemahkan berupa angka. Tentu susah menebak bila ROI seorang blogger bila ia tidak menjual barang tapi melalui media tersebut ia mendapatkan undangan untuk berbicara di seminar, atau publisitas di radio, dsb.

    Kembali lagi harus diperhitungkan adalah apa yang penting bagi perusahaan. Ada kegiatan social media yang berupaya untuk memperluas brand atau memperbaiki citra buruk. Dan bila yang diutamakan itu sales, maka tentu saja lebih dapat diukur melalui klik, konversi dan metrics lainnya.

    Direct response marketer dapat mulai memakai metrics yang telah ada, sampai ada yang menerapkan metode standar untuk mengukurnya. Lupakan brand untuk semantara waktu, cukuplah hanya sejauh bahwa branding adalah seperti menabung. Setiap kegiatan branding yang positif akan kembali dalam suatu bentuk di kemudian hari.

    Untuk yang masuk dalam camp pertama, sepertinya mereka tidak peduli dengan metrics. Yang penting iklan nongol di tv, yang penting pesan muncul setiap hari di Twitter, dan Facebook. Ya, mungkin saya ekstrim tapi sepertinya tidak terlalu “exaggerating”. 🙂

    Terakhir, di dalam bisnis maupun apa pun di dunia, saya percaya memang ada faktor kebetulan. Branding adalah contoh yang baik. Content marketing adalah contoh lainnya.

    Anda tidak tau artikel apa yang akan menarik dan menimbulkan kesempatan baru, jadi blogger cenderung terus memproduksi konten bermutu. Apa yang telah ada akan bekerja 24/7 untuk kita di luar sana, bahkan saat tidur. Faktor kebetulan ini tidak dapat dianggap remeh. Ini sebabnya saya pikir setiap orang dapat memulai suatu blog, tapi sebaiknya dalam bidang yang menarik baginya, di mana ada passion sehingga tidak ada hasil pun dilakukan terus.

    Adalah hal yang lain bagaimana membuatnya menguntungkan.. tapi ini topik yang lain lagi.

  8. Saya rasa untuk benar apa yang di sampaikan Seth Goding dalam bukunya The Ideavirus. Stop memasarkan, berhentilah mengiterupsi calon pelanggan/pelanggan2 anda.
    Mereka terlalu sibuk sekarang…
    Terlalu sedikit waktu sekarang…
    Namun di luar sana terlalu banyak brand membabi buta ber”megaphone” ria untuk mendapat perhatian.

    “Fokus hanya di pengguna yang benar-benar memperhatikan anda, itu kuncinya” begitu kata Seth Godin kalau saya terjemahkan kira-kira..

    Kalau saya sendiri, untuk urusan monitoring brand, sejauh masih menggunakan medium internet saya rasa Google Analytic (GA) sangat membantu, tinggal experimen kecil saja agar hasilnya lebih tepat.
    Memang sih, GA tidak akurat, namun GA merupakan cara simple untuk mengukur keruwetan aliran data di internet. Dan itu sangat membantu saya untuk mendapatkan data.

  9. sebenarnya mengenal dunia internet tuh tidak begitu susah,tidak seperti apa yg sering orang berfikir susah,terkadang yg jadi kendala adalah ke tidak mampuan kita menguasai komputer saja.sebenarnya jika kita mau belajar dan berusaha mengenal seluk beluk dlm menggunakan internet dengan sebaik mungkin,banyak hal2 yg sangat bermanfaat bagi kita.untuk lebih memudahkan kita tuk mengenal dunia internet,seharusnya di sekolah2 sudah tersedia jaringan internet tuk para siswa,dengan adanya itu semua yg di anggap susah dan sulit.itu hanya bagi mereka yg tidak mau berusaha dan belajar mengenal dunia internet.sekedar himbauan bagi para pengguna dunia internet,gunakan internet secara positif dan manfaatkan sebaik mungkin.berfikirlah yg positif saat menggunakan internet.

  10. memang perbedaan user insight lokal kita yang berbeda dengan diluar sana, membuat kesulitan metode data sebagian pihak, masih diperparah dengan corporate yang menyamakan campaign offline dengan Online

    berkaitan dengan hal di atas

    Bagaimana Anda bisa memonitor keberhasilan brand marketing jika tidak ada data yang bisa dianalisa?

    sebelum melakukan campaign , tentu ditentukan parameter successnya.

    Okay bagaimana menurut Anda? Anda setuju mengukur keberhasilan marketing di social media,di dalam negeri, masih susah dilakukan?
    Kesulitan ada di, pihak corporate , dmn mereka kurang memahami pasar internet, khususnya user insight lokal.

    Lebih berat di faktor alat atau justru ketiadaan data?
    Alat sudah pasti banyak, bahkan yang free dan complete juga ada. Namun justru banyaknya juga membuat overwhelm

  11. Saat ini mengukur keberhasilan marketing di media sosial memang masih dikatakan sulit. Apalagi jika tidak didukung dengan data yang memadai. Tidak ada panduan yang statis dalam mengukur berhasil atau tidaknya brand marketing tersebut. Ketiadaan alat sendiri masih dapat disiasati dengan berbagai teknik dan kreativitas. Media sosial tetap harus memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada publik agar kualitas brand marketing dapat diketahui dengan pasti. Sekian masukan dari saya. Terima kasih.

  12. Brand Marketing merupakan alat ukur keberhasilan media sosial. Saya rasa diperlukan teknik pengukuran yang inovatif agar kualitasnya dapat diketahui dengan akurat. Promosi tentu sangat dibutuhkan dalam proses penilaian tersebut.

  13. “If you can’t measure it, you can’t improve it”. Saya rasa semboyan itu yang harus dipegang dalam mengukur keberhasilan brand marketing.

  14. Brand Monitoring apa yang susah?
    yang susah menurut saya adalah ketika anda salah menentukan media,menentukan topik,dsb yang mengakibatkan brand image anda turun.. malah untuk pemain baru,, anda tidak mendapat hasil apa2.

    pasang iklan dimana2. banner,facebook viral. dll boleh dan harus. tapi jangan sampai anda masuk ke level teror marketing. heheh. kata2 yang extrim. tapi menurut saya. sungguh lah enak kalau setiap iklan yang kita buat,orang tertarik untuk mengetahuinya.

    so, tetep menggila dengan iklanmu. and jangan lupa. jaga budget cuy.

    jabaterat!
    Philip Stevayer!

    Nb. Ada yang mo buat kaos??? :p:p

  15. Tau khan kenapa ada Lamborghini??

    karena pendirinya membeli Ferrari, lalu protestnya karena ada cacat di produknya, dan klaim protesnya tidak digubris, Lamborghini berdiri tak jauh dari markas Ferrari,,

    Analoginya, jika tidak “memanjakan” pasar, produsen yang dominan dan angkuh akan mendapat saingan “alami” yang telah mengerti mereka,,

    Morning all,,

    begadang ne,,

Comments are closed.

Comments are closed.