Buku Tertutup atau Terbuka

Buku Tertutup atau Terbuka

Treasure Book
Sewaktu saya sedang jalan-jalan di toko buku untuk mencari buku terbaru ndorokakung, saya sempat mengamati bahwa ada beberapa buku yang terbuka untuk dibaca-baca dan ada juga yang tertutup rapat. Kenapa tidak semua ditutup saja? Apakah takut tidak bisa memikat calon pembeli? Kalau begitu kenapa tidak dibuka saja semuanya? Apakah malah jadi takut tidak dibeli?

Kenapa praktek semacam ini masih diterapkan? Kenapa buku ditutup? Ada beberapa alasan yang bisa saya temukan.

  • Baca berarti beli. Satu-satunya cara untuk mengetahui isi buku adalah dengan membeli.
  • Aspek misteri. Sifat alamiah manusia adalah selalu ingin tahu. Bila packaging bagus, peluang sales akan bertambah karena pembaca akan semakin penasaran untuk membaca buku terkait.
  • Buku tersebut terlalu berharga untuk dibuka. Mungkin karena limited edition, harganya sangat mahal, atau sengaja dibungkus agar tidak lecet.

Apakah selalu begitu kasusnya. Apakah anggapan-anggapan di atas selalu valid? Tidak selalu, beberapa alasannya adalah sebagai berikut:

  • Tertutup berarti tidak banyak teaser. Tidak banyak yang bisa diketahui dari sampul depan, atau ringkasan di sampul belakang. Jika ternyata kita bisa tahu seluruh isi buku dari ringkasan tadi berarti pembaca tidak perlu membeli karena isinya adalah lima point yang direntangkan secaara paksa menjadi 150 halaman.
  • Unnecessary book. Jika buku tersebut hanya cukup dibaca sekali, mungkin buku tersebut tidak punya banyak motivasi untuk diterbitkan. Buku yang layak dibawa pulang adalah buku yang tidak akan kehilangan valuenya walau sudah dibuka dan dibaca. Biasanya buku ini punya nilai collectible atau sekedar terlalu tebal untuk dibaca dalam “lima menit”.
  • Open book punya nilai long term. Open book berarti ide yang ada bisa disebar. Walau pembaca belum tentu membeli buku Anda saat itu, ada value lain yang “dibeli” pembaca. Jika buku tersebut benar-benar bagus, pembaca mungkin akan membeli buku atau produk Anda di lain waktu.

Bagaimana? Anda pilih buku dibuka atau ditutup? Bagaimana dengan komik? Dibuka atau ditutup? Setujukah Anda bahwa buku yang kurang bagus tidak punya relasi dengan dibuka atau ditutup? Buku yang kurang bagus jika ditutup akan jelek, dan saat dibuka akan makin jelek?

44 thoughts on “Buku Tertutup atau Terbuka

  1. Saya pernah tuh membeli buku yang terbungkus rapi oleh plastik bening tipis juga “imut-imut” dengan cover yang, woow keren abiezz…
    Tapi ternyata.. isinya jauuh dari apa yang saya bayangkan (nasib-nasib). Gak sebanding deh sama covernya yang keren itu.

    Jadinya menurut saya lebih menarik kalau buku tersebut dibuka, alasannya seh banyak. Namun pada prakteknya setidaknya buku dibuka memberi kesan bahwa buku tersebut isinya bagus. Kalau ditutup berarti ada yang “Something Wrong”.

    wkekekeke…

    Kalau komik, juga harus dibuka..
    biar anak kecil (yang kagak beli) pada baca dan memberikan kutipan cerita pada teman-temannya tentang komik tersebut. Walhasil.. pada penasaran khan temen-temennya. Akhirnya pada beli komik itu deh walau beberapa juga ada yang baca gratisan.

    Kalau buku yang isinya jelek memang banyak yang tidak dibuka, alasannya hmm.. mungkin memang strategi pasar kali yah supaya bukunya laku.

  2. tentunya buku yang dibuka akan dipilih untuk dibaca di toko buku dan jika bagus akan dibeli. tetapi kalau buku yang ditutup karena tidak tahu isinya, maka tidak akan dibeli. untuk penilaian baik buruknya sebuah buku tentu setiap orang akan berbeda. jika seseorang memang sedang membutuhkan sebuah buku yang kita anggap kurang bagus, tentu orang yang butuh akan bilang itu bagus. jadi masalah penilaian baik buruknya tergantung orang yang menilainya. ditutup atau dibukanya sebuah buku bagi saya hanya untuk mengetahui sebagian isi buku, jika dibuka akan banyak bagian buku yang dapat diketahui tetapi tidak akan mengurangi minat beli.

  3. Buku yang dibuka tentunya ingin dibaca dengan harapan ada yang akan membeli walaupun terkadang ada juga yang tidak tertarik. menurut saya buku yang dibuka atau ditutup adalah strategi penjualan yang dilakukan oleh manajemen toko buku. buku sudah pasti best seller tidak akan dibuka karena sudah menarik keinginan orang untuk membeli. kalaupun ada buku yang menarik dalam kondisi dibuka, orang akan membeli buku itu karena tidak semua orang nyaman membaca buku sampai selesai ditoko buku lebih enak dibaca dirumah n sewaktu-waktu dapat dibaca kapanpun.

  4. menurut saya, buku terbuka atau tertutup tergantung sama apa jenis bukunya. kalo misal bukunya emang bagus dan punya ilmu yang ga bisa dipraktekkan secara langsung, mending buku2 itu dibuka aja. kan sekalian bagi2 informasi. meski memang, ntar jadinya toko buku jadi mirip perpustakaan. tapi, biar gitu, buku2 yang dibuka nantinya akan jadi berjenis non-fiksi saja. kan bisa disurvei, betapa banyak banget buku2 non-fiksi yang dibuka.

    nah, sementara itu kalo buat buku2 fiksi – termasuk komik, yang dibuka mungkin sebagian aja. yang cukup buat jadi teaser. buat jadi pemicu orang buat beli. atau, selaen itu mungkin lakukan saja diskusi buku. kan jadinya ga perlu buka buku, tapi bisa jadi ningkatin penjualan dari buku tersebut. sekalian juga, toko buku ga perlu cape2 ngeluarin dana berlebih buat iklan, karena biasanya penulis buku bakal mau buat promosiin tu buku, atau lewat diskusi buku itu.

    still anyway, anything is possible koq. jadi, jenis buku yang dibuka atau ditutup ga mutlak harus seperti yang saya bilang tadi. semuanya kembali lagi ke taktik pemasaran dari si pemilik toko buku.

  5. tergantung bukunya. Kalau buku utk anak di bawah 5 thn, ndak masalah dibuka. Toh setelah dibeli, buku itu hanya menjadi media tutur saja. Selebihnya gimana si ortu yg menuturkan ceritanya. Setiap kali membaca bisa terasa berbeda.

    Kalau buku komik lebih baik ditutup. Kalau berseri dan tebal, mungkin bisa dibuka buku pertama saja. Lainnya ditutup. Namun kalau komik dan tipis sebaiknya ditutup. Jujur aja, waktu dulu nerbitin komik sendiri, agak sebal melihat pembaca yg cuma buka, baca sampai selesai, lalu ditaruh lagi. Revenue pengarang buku atau komik kan kalo bukunya dibeli.

    Kalau buku how to rasanya ndak masalah kalau dibuka. Toh, dia nggak bisa mempraktikkan nyata di depan komputer kalau ndak punya bukunya.

    Kalau buku business/marketing/motivation, lebih baik ditutup. Biarkan kelihaian para penulis buku ini bisa menjabarkan konten buku melalui halaman belakangnya. Biasanya kalau mereka lihai menulis penjabaran singkat di belakangnya, mereka pun piawai dalam menulis bukunya.

    Kalau novel fiksi yg tebalnya nanggung jg rasanya lebih baik ditutup. Kasusnya mirip dengan buku komik tipis.

  6. Klo di dunia TI ada:

    – Shareware
    – Trialware

    Pengguna bisa mencoba-coba fitur di software tersebut, ada yang diberi full tapi dibatasi masa pakainya 30 hari. Dan ada juga yang bisa dipakai terus tapi ada fungsi2 yang dihilangkan atau dikunci.

    Jadi dibuat saja versi tipis atau kecilnya dari buku yang besar dan limited edition itu, di taruh di paling depan, ukurannya harus lebih kecil dari buku utama supaya tidak menutupi.

    Dikemas juga tampilannya supaya menyatu dengan buku utama dan tidak terkesan acak-acakan. ^^

  7. Sebenarnya serba salah juga, kalo buku dibuka semua, mungkin tambah banyak orang yang nongkrong di Gramedia hanya untuk baca buku, sekarang pun banyak, tapi setidaknya itu memancing orang juga buat liat buku yang lain. Kalo masalah tertutup, buku yang mahal atau buku yang bikin penasaran biasanya ditutup biar orang mau beli dan mudah2an bener buku yang bagus jadi gak salah beli πŸ™‚

  8. Sebuah toko buku membuka atau menututup buku-bukunya bukan menitik beratkan pada alasan diatas, tapi bagian dari system pemeliharaan inventory yang sebenarnya menguntungkan semua pihak antara pembeli, penerbit, penulis dan pemilik toko.

    Anda semua tentunya masih ingat dulu Gramedia membuka semua buku, apa akibatnya? buku-buku menjadi berantakan dan banyak yang rusak karena orang mengambil secara acak dan membuka-buka.

    Kemudian mereka mengganti strategy dengan menutup semua buku dengan plastik, semua buku lebih rapi, lebih baik tetapi tingkat penjualan juga menurun karena orang cenderung tidak mau membeli “kucing dalam karung”

    Sekarang mereka me-“mix” strategy dengan menutup semua buku tetapi memberikan satu buku untuk sample atau ketika tidak ada buku sample anda bisa saja meminta petugas membukaan/mencarikan sample buku tersebut.

    Dan ketika anda membeli sebuah buku, anda pasti ingin buku yang baru yang masih bersih, rapi, bagus dan terbungkus plastik segel bukan?! Sebagai pemilik toko anda ingin toko anda terlihat rapi dan memiliki buku-buku yang masih bagus juga, sebagai penerbit/penulis jika tumpukan buku anda disusun rapi dan baik maka akan terlihat lebih menarik bukan?!

    1. saya sangat setuju dg pak Andy, yaitu mix antara buku yg disegel dan yg dibuka. yg dibuka cukup untuk sample aja.

      segel/bungkus jg menandakan bahwa buku itu baru, terjamin kualitasnya, dan belum terjamah oleh tangan2 konsumen lain. tentunya konsumen tidak menginginkan dapat “barang bekas” lantaran membeli buku tanpa segel

  9. kalo ke toko buku, saya pasti baca-baca dulu beberapa isinya sebelum membeli. ini saya melakukannya untuk memastikan isinya memang yang saya cari. kalo ada buku yang semuanya tertutup, saya minta petugasnya untuk membuka satu untuk saya baca dulu.

    terbuka atau tertutup bagiku sama saja, yang penting bisa diketahui isinya.

  10. Menurut saya buku terbuka atau tertutup, tergantung kepada kebutuhan, jika buku-buku tersebut tergolong buku-buku yang sifatnya praktik, tips&trik, maupun sejenisnya tidak masalah jika ditutup/disampul, namun jika buku tersebut adalah sebuah buku referensi atau bacaan yang cukup panjang sebaiknya tidak perlu di tutup/sampul sebab, belum tentu sinopsis yang ada dibelakang buku sesui dengan isi yang kita harapkan, sebagai contoh saya pernah membli sebuah buku tentang proses kimia dan biokimia disinopsis dibelakangnya saya berfikir akan menemukan apa yang saya cari, namun saat dibuka di rumah ternyata materi yang saya cari hanya 2 kalimat, paling banyak 5 baris, alias tidak ada satu halaman. jadi sebaiknya jika buku tersebut disampul setidaknya penjual atau toko buku (biasanya toko buku besar) menyediakan paling tidak isi dari daftar isi (table of contents) buku tersebut sehingga tanpa membuka sampul, tanpa membaca isi kita ketahui ada tidak hal yang ingin kita ketahui dari buku itu.

  11. sebenarnya sih, pihak penerbit, toko buku, dan konsumen juga sama-sama nggak mau rugi. Tapi tahu nggak buku dibuka mempunyai 2 kemungkinan :
    1. Si konsumen baca-baca dan ternyata isinya bagus akhirnya dibelilah buku tsb.
    2. Si konsumen cuma baca aja (kalo keterlaluan biasanya sampe habis >..< hehehe…maklum lah mahasiswa, dana terbatas jadi cukup baca sekali udah puas kan? <–gak tau malu xP

  12. Saya pikir, terlalu banyak pertanyaan dalam artikel ini.Padahal,pembahasan yang perlu di lakukan, menurut saya, hanya berputar soal manakah strategi yang lebih marketable.Buku dengan segel terbuka, atau buku dengan segel tertutup? Masalahnya sekarang adalah, penulis belum secara jelas mencantumkan variabel-variabel yang diperlukan dalam menentukan strategi manakah yang akan menghasilkan profit yang lebih optimal.
    Layaknya metode-metode marketing yang lain, di butuhkan analisa dari variabel-variabel yang berpotensi mempengaruhi alasan pemilihan strategi dan output yang di harapkan.
    Dalam kasus ini misalnya, targetan pasar yang di hadapi oleh toko buku hendaknya lebih spesifik, lengkap dengan keterangan aksesabilitas calon pelanggan terhadap informasi yang secara langsung akan mempengaruhi preferensinya terhadap buku yang akan dia beli. Sebagai contoh, toko buku yang mentargetkan segmen mahasiswa, pegawai kantor, dan kalangan dengan mobilitas tinggi bisa menerapkan strategi segel tertutup dengan pertimbangan efektivitas waktu. Pertimbangan memilih buku oleh kalangan ini biasanya sudah dilakukan sebelum datang ke toko buku, baik dengan rekomendasi teman, forum baca buku, dan sebagainya, sehingga ketika memilih untuk datang ke toko buku, pemilihan buku dilakukan tanpa pertimbangan yang terlalu menguras waktu seperti membaca halaman demi halaman yang jelas tidak mendukung prinsip efektivitas waktu.
    Sekali lagi, pemilihan strategi membuka atau membiarkan segel buku tergantung pada banyak faktor yang sebaiknya dipertimbangkan agar output dari strategi yang di gunakan bisa sesuai yang di harapkan.

  13. Menurut saya sih, lebih baik dibuka. Karena kalau bukunya memang valuable, pasti malah di beli karena sudah lihat “teaser”nya πŸ˜›

    kalau komik, hmm… para otaku itu punya kemampuan fokus dan tidak mempedulikan keadaan sekitar sih, terlebih lagi “durasi baca” komik yang tidak terlalu panjang. jadi jika ditilik dari perspektif pemilik toko buku, sebaiknya ditutup πŸ˜›

  14. ada ungkapan yg sgt terkenal : “Don’t Judge book by cover”. so ngapai mesti ditutup-tutupin. justru yang ditutup-tutupin mengesankan ada yang ditutup-tutupin dan berkesan mau menipu calon pembelinya. loh kok mbulet. tapi kenyataannya saya memang pernah merasa tertipu, walaupun saya tidak terlalu terkesan dengn covernya, tapi menurut review yg ada di cover blk bukunya membuat saya ingin mengetahui isinya shg saya membelinya, tapi ternyata saya TERTIPU.
    So, ngapain ditutup-tutupin?
    kalau tetep ditutup, ada lho yang nekad buka plastiknya.

  15. ” Kalo terbuka saja kenapa tidak? ” itu yang selalu saya ingat ketika ada seorang pengunjung Pameran Buku di JEC jogja beberapa bulan yang lalu.

    membaca bisa jadi hobi yang paling asyik tapi kalo hobi itu tertahan gara-gara buku yang dicari lama gak ketemu-ketemu tahu-tahu tinggal satu di toko buku dan masih tertutup,kata pelayan toko ” maaf barang tinggal satu, kalo tertarik bisa segera di bawa kekasir untuk menyelesaikan pembayaran, sebelum pengunjung lain ambil ” itu adalah salah satu trik penjualan yang berhasil menurut saya, karena walau bagaimanapun yang namanya orang butuh pasti dia akan membeli walau buku itu tertutup, apalagi itu hobbi dan buku itu penting,bagi dia karena udah dicari-cari kemana-mana.

    jadi, karena peristiwa dia atas adalah pengalaman dalam hidupku. kecewa atau tidak dengan buku yang kita beli. itu bukan salah toko buku yang menjualnya atau salah stand buku yang menjual dalam pameran buku.tapi sejauhmana kita tahu buku yang kita akan beli.dan kita butuhkan. jadi pintar-pintar mengenal buku bagus atau tidak, Terbuka atau tertutup tidak masalah.

  16. Buka buka buka buka dan buka. πŸ™‚

    Content marketing adalah tren baru. Jika pengarang buku masih mempergunakan buku sebagai sumber pendapatan, yah… agak disayangkan juga sih padahal ilmunya dapat dipakai untuk menghasilkan pendapatan yang jauh lebih banyak dengan sedikit kreativitas.

    Pengadaan seminar, penjualan buku, bimbingan belajar dalam format CDs setidaknya jalan dengan baik, walaupun di Indonesia saya belum melihatnya sangat berkembang kecuali untuk produk “kaya mendadak online.”

    Sebuah buku adalah kanal pemasaran dewasa ini. Semakin cepat pengarang buku menyadarinya semakin baik.

    Untuk komik… saya juga percaya nilai dari komik tersebut bukan pada ceritanya. Melainkan pada ikon dan apa yang dihasilkan setelah itu.

    Komik doraemon misalnya, hanya menjadi hiburan. Perusahaan menghasilkan banyak uang dari penjualan merchandise, pengadaan acara dan lain sebagainya.

    Demikian juga buku resep. Walaupun ada yang sampai mencatat atau mengetik ke dalam ponsel satu atau dau resep, tidak masalah. Kalau semuanya bagus resepnya, pasti dibeli kok.

    Kembali lagi adalah pengetahuan tentang apa yang sebenarnya “bisnis” dari buku tersebut. Apa yang dihargai pembeli. Apakah buku itu adalah akhir atau malah permulaan?

  17. kalo begitu akan sama halnya jika saya (kalo boleh bertanya balik) kenapa manusia diciptakan dengan kemampuan beda2?
    Sebenarnya dari artikel yang anda tulis, cuman satu hal yang saat ini bisa saya tangkap maksudnya. Karena rasa penasaran anda akan terpancing, dengan kondisi buku yang dibuat sedemikian rupa (kenapa ada yang dibiarkan terbuka dan kenapa ada yang dibiarkan tertutup?)kenyataanya memang rasa penasaran anda terpancing, buktinya setelah anad keluar dari toko buku tersebut, anda jadi bertanya-tanya kan?

  18. Menurut aku buku yang tertutup itu sangat perlu demi menjaga kualitas agar tidak rusak dan pasti kita akan merasa buku itu tidak bekas dari orang lain walaupun kadang setelah kita beli buku tersebut itu rusak, tetapikan kita dapat membuat janji dengan penjualnya kalau rusak dapat dapat dikembalikan, serta kalau kita membeli buku yang tertutup kita akan menjadi penasaran apalagi buku tersebut BEST SELLER.

  19. setuju dengan Andy orangemood πŸ˜›
    orang indo tuwh agak ngampung senengnya ngerusak bukannya ngerawat. coba lihat fasilitas umum di indonesia misal telpon umum… masih adakah? apa harus dimasukan kekategori barang langka πŸ˜›

    apalagi buku yg terbuka πŸ™‚

  20. Semua tergantung dgn selera penjual & Pembaca. Buku yg bagus biasanya dibuka 1 sbg sample. Namun sejenis komik akan di tutup.

  21. Kalau soal takut lecet, sebenarnya penjual juga bisa memberikan layanan lebih. Saat di kasir, pnejual bisa menawarkan versi “kinclong” dari buku yang dibeli.

    Buku yang kucel bisa jadi petunjuk lho. Penjual bisa tahu selera konsumen ada di mana. Kalau buku kucel banget berarti banyak yang minat tapi jarang yang mau beli. Tidak mau beli bisa berarti karena harganya yang kurang terjangkau atau memang pembaca sekedar lewat (bukan target market buku terkait).

    Jika buku yang dibeli dalam keadaan tertutup ternyata tidak sesuai keinginan. Efeknya bisa long term. Pengarang bsia diblacklist dari daftar kredibel author dalam catatan si pembeli. Buku memang laku sebiji, tapi setelah itu, buku-buku yang lain tidak bakalan dibeli lagi πŸ˜€

    Ditutup atau dibuka? πŸ˜€

  22. kalo kaga i sih di mix aja seperti kata orangemood. Ada 1 sample buat liat2, kalo tertarik tinggal ambil yg masih ditutup, selesai kan masalah? penjual untung, penulis untung, pembeli jg untung.

    kalo gw pribadi harus liat2 dulu secara cepat isinya (bukan dibaca satu per satu) karena kalo gw minat, pasti gw bacanya dirumah bukan ditoko pake barang sample hihi.

    so ditutup, dengan sample untuk liat2 yg dibuka

  23. Harus terbuka dan penting tertutup.

    Buku yang dijajakan untuk dijual haruslah terbuka. Saya bilang harus karena cover yang dan kemasan yang bagus, judul dan keterangan (teaser) yang tersedia sering tidak bisa menggambarkan isi buku secara tepat dan benar. Belum lagi kualitas cetakan, layout dan isi buku itu sendiri.

    Satu-satunya cara melihat isi sebuah buku adalah melakukan β€˜scattering’ yakni melihat sekilas seluruh buku dimulai dari daftar isi, pengantar dan beberapa halaman yang kita anggap perlu.
    Memang benar setelah melihat-lihat isi buku, bisa jadi kita mengurungkan niat membeli buku itu. Saya sering tertarik pada sebuah buku dengan judul dan kemasan yang bisa jadi cukup memikat. Di bagian belakang didapati penjelasan ringkas dari isi buku. Tapi setelah buku terbuka lalu sayapun mundur teratur. Layoutnya jelek, tata kalimatnya amburadul. Lalu sayapun berpaling ke buku lain.

    Membuka buku tidaklah akan merugikan samasekali pemilik toko maupun penerbit, dengan cara itu baik pemilik toko akan dapat mengukur judul buku dan penulis mana yang diminati masyarakat. Kalaupun karena membuka/membaca buku tersebut lantas orang tidak jadi membeli, itu adalah konsekuensi dari jual beli barang. Lagian kalau kuatir rusak karena dibaca-baca oleh calon pembeli, yang dibuka cukup satu saja, selebihnya tetap terbungkus.

    Kalau sebuah buku tertutup, dan pembeli hanya bisa tahu isinya dengan cara membeli, maka peluang penipuan menjadi terbuka. Pepatah bilang β€˜membeli kucing dalam karung’.

    Terus apa pentingnya ditutup ?

    Bungkus plastik tipis akan menjadi bagian kemasan dari sebuah buku. Dengan kemasan (tertutup) seperti itu, buku menjadi lebih menarik. Lagipula, kita merasa yakin buku yang kita beli memang buku baru. Meskipun demikian, buku yang sudah dikemas seperti itu sebaiknya tetap dibuka dan diperiksa sebelum kita bayar. Bisa jadi kira menemukan kertas yang rusak, atau halaman yang kacau karena kesalahan percetakan.

  24. buku tertutup, buku terbuka. Menurutku dua-duanya tidak masalah, karena kedua cara tersebut adalah salah satu cara pemasaran. Untuk buku tertutup mereka (Penjual) beranggapan bahwa isi buku sudah diwakili oleh resume dibagian belakang. Hal tersebut tidak salah karena biasanya penulis/ penerbit sudah membuat resume yang mengandung inti dari isi buku tersebut. Dengan melihat resume tersebut mereka beranggapan sudah memancing para pembaca untuk membeli buku tersebut karena tertarik dengan resume tersebut.
    Namun tidak semua para calon pembeli beranggapan demikian karena mereka takut kecewa dengan isi buku tersebut jika nanti isinya tidak sesuai dengan resume buku tersebut. Dengan demikian para penjual membuka satu dari jumlah pajangan bukunya. Hal ini adalah salah satu obat untuk para calon pembaca yang masih penasaran dengan isi buku tersebut.
    Menurut saya menjual buku dengan cara membuka satu buku yang akan dijual adalah satu cara yang lebih baik dengan resiko akan mengalami kerugian satu buah buku, tapi biasannya penjual mengakali dengan menjual kembali pada saat bazar buku/ discount gede-gedean.

  25. Tergantung dari posisi kita. Jika kita seorang penjual buku, maka buku yang dibuka harus berbobot sehingga banyak orang membelinya. Buku yang tetap ditutup, seperti majalah. Karena majalah jika sudah dibaca di tempat, tidak akan dibeli. Kecuali isinya sangat menarik dan cocok untuk dikoleksi. Sebagai konsumen, tentunya kita berharap buku-buku terbuka supaya bisa dibaca gratis.

  26. Sampul buku tertutup dengan palstik, saya rasa memiliki daya tarik tersendiri karena dengan itu kita bisa membedakan buku baru dengan buku baru yang sudah dibaca banyak orang. Buku terbuka juga memiliki keunggulan agar kita mengetahui kualitas buku sebelum dibeli.

  27. asslm wrwb…maaf boleh Coment kan…?
    kalo menurut gw ada ber bagai faktor dan alasan penerbit / pengarang menutup buku ra[pat2….
    alasan adalah sebagai berikut :
    1.agar pembaca bisa penasaran dan membawa nya kerumah lalu membacanya.
    2.tentunya faktor biaya produksi yang gx murah { secara logika pasti penerbit / penulis akan mencari keuntungan dari buku yang mereka terbitkan}
    3.faktor ke Ilmuan…Logika ajah Orang yang menilis Buku pasti gx akan menulis buku tanpa keiluan yang cukup, tuk menilis sebuah Buku
    4.di balik semua itu tentunya yang menjadi faktor utamannya adalah dapat di pastikan adalah faktor Komersilisasi yang ber Ujung pada masalah”Paiman” / Honor bayaran yang akan di terima oleh penerbit atw royalti yang akan di terima oleh sang penullis..!

    Intisari dari semuanya adalah “ILMU ITU NGGAK ADA YNG GERATIS COY”

    Lainhal apabil;a kita belajar ilmu secara Otodidak”dari pengalaman dari orang lain, dengan katalain berdiskusi dan lain sebaqgainya….
    ThnX 4 U all Aproof my Write…and akhirul ka;lam Wsslm WrWb…Lov u all…

  28. 2 buku terakhir yang saya beli bbrp minggu lalu, semua tertutup. saya membelinya via internet soalnya, hehe. tapi memang di situsnya, tidak ada ringkasan. semacam summary begitu, tidak ada. tapi saya tahu itu buku bakal bagus karena saya mengenal kredibilitas penulisnya, dan lalu saya putuskan untuk membelinya.

    mau dibuka atau ditutup mah, saya manut saja deh dengan publishernya. tapi bener memang, ada value yang kita dapatkan kalau bisa mengintip content bukunya. apalagi kl urusan komik deh. maunya gratisan ajah bacanya. πŸ˜€

    mempunyai buku adalah sebuah kebanggaan tersendiri. pride nya beda lho, pun misalnya ada orang lain yang mempunyai versi e-book nya (entah dr mana). jadi jangan sampai deh kita surut hasrat kita main ke toko buku, pun hanya untuk membaca katalognya saja bahkan.

  29. Setuju kalo terbuka!
    soalnya overview dari sampul belakang kadang kurang memberi gambaran tentang apa sebenarnya isi dalem buku itu. Tapi kalo buku-buku yang best seller, dan buku yang bagus lainnya kayaknya lebih baik tertutup deh. Semisal ada novel yang bagus dan best seller kalo udah terbuka trus udah baca sedikit (apalagi endingnya) jadi nggak seru.
    so, buat buku baru lebih baik tertutup trus buat buku yang tidak terlalu bagus mending terbuka aja.
    untuk komik saya lebih suka kalo tertutup. soalnya kalau kita tertarik membeli komik, berarti kita sudah ngefans dengan komik itu. jadi kita sudah membaca volume sebelumnya dan penasaran dengan volume yang baru yang akan kita beli, sehingga tidak perlu lah membuka komik!

    1. Entah mengapa, trackbacknya terkadang lama masuk. Paling aman sih, tambahkan saja di kolom komentar. Atau kirim ke imel navinot (at) gmail (dot) com

  30. Tapi menurut saya hal itu simple saja, katena penjual tidak ingin merusak barang dagangannya. Seperti halnya sifat seorang pembeli yang ingin mendapatkan produk yang orisinil.Maka sang penjual pun selalu menyediakan katalog sebagai sumber informasi tanpa merusak isi dari buku tersebut.

  31. jangan dulu komentari masalah sampul buku…

    pikirin ini dulu:
    1.gimana caranya supaya harga buku bisa kejangkau seluruh masyarakat. gimana rakyat mau cerdas kalo bukunya mahal-mahal? yang ada juga mikirin gimana hari ini bisa makan..

    2.selama ini gerakan “Mari Membaca” cuma bagus buat jadi slogan, ga ada implementasinya. kalo memang niat mau mencerdaskan, bergerak dong..jangan hanya bicara..!

    3.selama ini perpustakaan yang diharapkan jadi alat bantu untuk mencerdaskan malah ga berdaya. entah kurangnya buku-buku referensi, suasananya yang sepi dan menyeramkan, ataupun kurangnya pustakawan.

    1. @Aulia Khairil Anwar
      1. Menurut Anda sendiri bagaimana supaya buku bisa jadi lebih murah supaya rakyat tidak bingung memilih antara nasi dan buku/bahan bacaan?
      2. Kalau “Mari membaca” bisa jadi slogan, kegiatan riil apa yang lebih cocok diimplementasikan?
      3. Seharusnya perpustakaan yang baik dan bisa mencerdaskan itu seperti apa?

  32. waduh nbeda dong Buku dengan nasi, dari bentuknya aja beda apalagi fungsinya. BUku itu harus tertutup biar tidak mudah rusak kan kalau dibuka siapa saja bisa membukany sehingga kelamaan akan rusaak dan lusuh serta ksam. Kan kita sendiri yang rugi

  33. Kalau saya setuju dengan sistem buka satu contoh buku. Soalnya tidak bisa dipungkiri pembaca disini kurang menghargai buku, terkadang baca di toko seperti baca di rumah (dilipat,dll)…

    Kalau mau beli tentunya ingin beli buku yang bersih dan terkesan baru. Tapi, zaman duit susah gini…enakan boleh ngintip dulu dong…biar tahu isi yang dibeli.

    Beberapa toko buku biasanya memperbolehkan pelanggan untuk minta dibukakan buku yang tertutup bila tidak ada versi terbukanya. Harus minta tolong pegawai toko sih biasanya supaya bukanya tetap rapih dan bisa dimasukkan kembali.

    Kalau yang sama sekali tidak boleh dibuka? Nanti dulu deh…kecuali sudah baca punya teman, atau kenal pengarangnya…

    Komik bakal habis dibaca di toko? Ya amal dikit deh, biasanya pecandu baca komik itu pasti ingin juga memiliki komiknya…paling tidak akan termimpi-mimpi untuk suatu saat nanti bisa borong komik (hehehe…pengalaman pribadi kali ya….:))

  34. hmmm…buku tertutup atau terbuka buat saya sama aja..kalo komik,saya lihat dulu sinopsisnya lalu liat gambar dalamnya,kalo gambar n ceritanya bagus, saya pastii beli.jadi, dibuka/ditutup buat saya penting.saya lihat buku yang terbuka dulu, kalo saya sudah jatuh hati,saya akan membeli yang tertutup.hehe.masing-masing orang berbeda..saya tidak setuju terhadap pernyataan buku yang kurang bagus tidak punya relasi dengan dibuka atau ditutup,Buku yang kurang bagus jika ditutup akan jelek, dan saat dibuka akan makin jelek. Tidak juga..tentu pasti ada relasinya.buku yang kurang bagus isinya, kalo dikemas dengan menarik pasti akan dibeli, atau banyak juga buku bagus tapi dikemas dengan tidak menarik dan ditutup pula. bagaiman dnegan kasus kedua..ada loh..Ada juga orang yang cuek, yang terpenting bagi orang tersebut adalah penampilan/kemasan dr buku tersebut. pasti ada, hanya saja jarang..Sebenarnya alasan buku itu dibuka atau tertutup itu berbagai macam. salah satu alasan positifnya adalah karena si penerbit atau si penulis punya permintaan supaya ada contoh terbuka untuk dijadikan pertimbangan pembeli untuk membeli.itu saya komentar dari saya…

  35. teertutup atau terbuka?
    menurut saya sebuah buku harus terbuka dan jelas isinya, kalo sebuah buku tidak terbuka dan tidak jelas ngapain harus ngeluarin buku atau novel, itu malah membuat sang pembaca jadi misunderstanding. jadi menurut gua jika seorang penulis harus membuat buku yang sangan terbuaka dan jangan nanggung jika membahas tentang apapun……

  36. Pepatah yang mengatakan “don’t judge book by the cover” dapat menjadi sebuah acuan kita untuk memilih dan membeli buku. Cover yang baik belum tentu bermutu isinya, begitupula sebaliknya. Namun, itu semua tak terlepas dari subjektivitas pembeli. Penilaian pembeli mengenai suatu buku tentunya berbeda dengan pembeli yang lain. Buku yang bermutu menurut penilaian seseorang belum tentu dibeli oleh pembeli tersebut karena faktor lain seperti harga buku yang belum terjangkau maupun faktor ekonomi, lagi bokek. Oleh karena itu,menurut saya, buku yang dujual di toko memang sudah seharusnya ada salah satu yang dibuka untuk menjadi tester buku yang masih terbungkus rapi dengan plastik. Hal ini membuat calon pembeli dapat mengetahui gambaran secara umum mengenai isi buku. Sehingga, jika memang berminat memilikinya dan sanggup manjangkau harganya, ia tidak ragu-ragu untuk membelinya. Jika buku tersebut memang pantas untuk dimiliki dan memiliki value, pasti seseorang akan membelinya untuk dapat dibaca berkali-kali maupun diberi highlight. Untuk komik, juga berlaku hal yang sama. Ada salah satu yang dibuka, sehingga jika memang mau membacanya berulang-ulang maka pembeli pasti akan membelinya. Memang ada kaitannya antara buku dibuka atau ditutup dengan konten. Jika buku yang dibuka menurut penilaian mayoritas buruk, ya pasti tidak laku. Darisitulah, penulis buku bisa berefleksi apakah tulisannya memiliki nilai jual. Jika memang punya nilai tinggi, tidak akan merasa takut tidak laku.

  37. Pepatah “don’t judge book by the cover” rupanya dapat menjadi satu acuan kita membeli buku.
    Tidak semua buku yang bercover bagus memiliki kesepadanan dengan isinya.
    Maka dari itu, sebaiknya buku yang dijual memiliki tester sebagai wakil dari buku-buku yang lain yang masih terbungkus rapi.
    Melalui buku yang dibuka, pembeli memperoleh gambaran secara umum mengenai isi buku. Jika memang ingin membacanya dengan nyaman di rumah (dapat dibaca berulang kali, direnungkan,atau dihighlight), pembeli dapat membelinya dengan tidak ragu-ragu karena sudah mendapat gambaran umumnya.
    Begitu pula untuk komik, harus ada tester nya. Mungkin dapat disiasati, jika komiknya berseri, seperti detektif conan, atau doraemon, one piece, ya yang dibuka bisa satu seri saja. Pembeli sudah dapat menilainya sendiri.Walaupun sudah dibaca sampai habis di toko, kalau memang ceritanya menarik pasti tidak bosan untuk dibaca berulangkali dan di simpan di rumah dengan membeli komik tersebut.
    Memang ada kaitan antara dibuka atau tidaknya sebuah buku dengan konten buku. Kalau memang tidak memiliki nilai jual, buku yang terbuka pasti kurang diminati.Maka dari itu, penulis dapat berefleksi mengenai tulisannya melalui dibukanya buku. Tidak usah takut dibuka kalau memang bermutu dan manarik.
    Orang pasti akan membeli jika memang buku tersebut layak dimiliki terlepas dari harga buku tersebut terjangkau atau tidak.

  38. Buku terbuka pasti lebih gampang untuk melihat isi secara garis besarnya.

    Menurut saya lebih bagus kalau buku itu terbuka, karena disaat sekarang ini banyak buku yang memiliki cover yang super bagus tapi tidak begitu dengan isinya.

  39. saya jarang membeli di penjual yang ‘menutup buku rapat2’. ketika saya hendak memutuskan membeli buku, meski buku itu tertutup, biasanya saya selalu nanya ke penjualnya. boleh dibuka ga? dan biasanya hampir selalu boleh. toh, masalah buku yg tertutup, sangat mudah seandainya memang mau menutup buku itu lagi. hanya saja memang jadi kerja dua kali.

Comments are closed.

Comments are closed.