Ngobrol Jardiknas dengan Michael Sunggiardi

Ngobrol Jardiknas dengan Michael Sunggiardi

jardiknas

Untuk orang yang satu ini, boleh dibilang sesepuh Indonesia untuk urusan internet. Meskipun sudah berumur, walaupun belum lanjut usia :), Michael Sunggiardi masih saja tidak mau ketinggalan berita teknologi. Rasanya gatal bila tidak mengikuti berita terbaru atau kemajuan teknologi terkahir.

Tidak heran, bila berdasarkan Surat Keputusan Kapustekkom No : 0009/A11/KP/2009 tertanggal 5 Januari 2009, beliau diangkat sebagai Tim Pendamping Ahli Jardiknas di lingkungan Pustekkom dengan tugas dan tanggung jawab memberikan asistensi bidang teknis pelaksanaan, pelatihan dan pengembangan teknis Pustekkom.

Berikut sedikit perbincangan NavinoT dengan Michael Sunggiardi tentang program Jardiknas.

Apa itu sebetulnya Jardiknas?

Misi dan Tujuan dari Jardiknas adalah menghubungkan simpul yang terdiri atas zona kantor, zona perguruan tinggi, zona sekolah, dan zona perorangan.

Jardiknas merupakan jaringan TIK nasional yang digunakan oleh departemen guna keperluan komunikasi data administrasi, konten pembelajaran, serta informasi dan kebijakan pendidikan.

Lalu, Pustekkom sendiri itu apa?

Pustekkom adalah kepanjangan dari Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan, yaitu satu unit kerja di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional yang diserahi tugas untuk membangun, merawat dan mengembangkan jaringan intranet Depdiknas.

Jardiknas merupakan program kebanggaan dari Depdiknas karena sudah ditetapkan sebagai salah satu program unggulan untuk Indonesia, melalui apa yang disebut flagship e-pendidikan oleh Dewan TIK Nasional (DeTIKnas).

Apa Jardiknas ini lebih untuk kepentingan sekolah/institusi? Atau lebih untuk para murid & pelajar?

Kepentingan Jardiknas adalah semua pelaku yang berada di lingkungan
Departemen Pendidikan Nasional, makanya dibagi 4 zona, masing-masing
untuk kepentingannya sendiri-sendiri.

Bila memang ada gunanya untuk para murid, bagaimana mengaksesnya? Mengingat beli laptop saja belum tentu mampu, terutama yang di pedesaan. Ada program khusus untuk memberi akses istimewa?

Salah satu tugas Jardiknas adalah memberikan akses Internet dan Intranet
gratis ke sekolah-sekolah (atau perguruan tinggi, kantor di lingkungan
Depdiknas dan guru-guru), dan soal pemilik notebook atau komputer yang
masih terbatas, itu dapat diatasi dengan bantuan lab komputer atau
warnet-warnet yang menjadi arena belajar anak-anak didik.

Mengingat tujuannya yang berkaitan dengan pendidikan, apakah Jardiknas itu non-profit atau profit?

Sudah jelas non-profit, karena memberikan akses gratis ke 24.747 titik
di seluruh Indonesia.

Contoh gampangnya, apakah pihak ketiga boleh membuat aplikasi komersial, seperti game online dengan tayangan iklan?

Siapapun dapat berperan dalam meningkatkan pemakaian TIK di lingkungan
Depdiknas, hanya saja, program Jardiknas tidak menarik uang atau
menh-komersilkan seluruh aplikasinya.

Apakah aplikasi harus selalu bersifat ‘untuk pendidikan’?

Harus untuk pendidikan dan yang berhubungan dengan administrasi
(e-administrasi) pendidikan.

Bila dilihat dari tatanan Jardiknas, bisa dianggap seperti suatu independent platform, mungkin bisa diibaratkan seperti Apple iPhone dengan berbagai aplikasinya. Apakah Jardiknas akan berkembang seperti ini?

Sepertinya merupakan satu program dari pemerintah, untuk memanfaatkan
bidang TIK dengan lebih terarah dan dibantu dari segala aspek.

Kalau disamakan dengan platform, rasanya kurang tepat, karena
platform-nya yah dunia pendidikan itu, dengan aplikasi TIK yang dapat
meningkatkan efisiensi sehingga dapat menghasilkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif.

Siapa saja yang boleh berpartisipasi membuat aplikasi?

Siapa saja dipersilahkan memanfaatkan Jardiknas, karena pada ahirnya,
mereka akan berusaha keluar dari intranet Jardiknas dan mencari aplikasi
diluar Jardiknas.

Apakah ada badan atau tim khusus yang mengatur konten apa yang boleh masuk atau tidak? Mengingat lingkungannya masih bersifat pendidikan.

Kalau merupakan bagian dari program kerja Jardiknas, memang ada kriteria
yang menjadi bahan pertimbangan untuk masuk atau tidaknya ke dalam
Jardiknas, tetapi kalau mau independen, semuanya dapat dijalankan tanpa
persetujuan Pustekkom atau Jardiknas, sepanjang berhubungan dengan dunia pendidikan.

Bila diperbolehkan, Apa ada persyaratan khusus untuk manyumbang aplikasi?

Idenya, Jardiknas lebih ke pembangunan akses, sementara content-nya
silahkan saja berimprovisasi di dalam jaringan tersebut.

Hanya kalau mau mengikuti program Jardiknas, ada baiknya harus mengikuti visi dan misi dunia pendidikan, yaitu menghasilkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif.

Berapa sekolah yang sudah tergabung di jaringan ini? Berapa banyak lagi dalam waktu dekat?

Total sekolah, sekitar 17.500, tahun depan rencananya 30.000.

Bagaimana mengukur kesuksesan Jardiknas? Banyaknya pengguna? Sekolah yang tergabung? Atau bagaimana?

Kesuksesan Jardiknas diukur dari jumlah sekolah atau institusi di
lingkungan Depdiknas, ditambah lagi dengan penyediaan content penting
yang berhubungan dengan kepentingan Depdiknas, yang belum tentu
dikembangkan atau diproduksi oleh Jardiknas Pustekkom.

Ada pesan khusus untuk para pembaca NavinoT?

Jardiknas ini merupakan program pemerintah yang harus kita sukseskan,
karena akan mempercepat pertumbuhan anak yang kreatif dan cerdas, untuk
ahirnya menunjang kemajuan Republik Indonesia ini.

Dengan dana dan upaya yang sangat terbatas ini, seluruh lapisan
masyarakat diharapkan dapat membantu peningkatan kemampuan anak didik kita dalam penguasaan TIK, guna menunjang keberhasilan negara kita
mengikuti perkembangan jaman.

Bagaimana cara membantunya? Dapat dalam bentuk sumbang saran,
penyediaan prasarana atau bekerja sama membangun suatu sistem untuk
melancarkan proses belajar-mengajar berbasis TIK.

——– Akhir dari Wawancara ——–

Wow! Kalau dilihat dari visi dan misi, serta apa yang telak dilakukan dalam pembangunan infrastruktur, tampaknya Jardiknas bukanlah program ‘main-main’. Sekarang tinggal kelanjutannya, bagaimana kita memanfaatkan fasilitas yang ada dan juga kelanjutannya.

Semoga aksesnya jauh lebih stabil dari Telkom Speedy saya. 🙂

18 thoughts on “Ngobrol Jardiknas dengan Michael Sunggiardi

  1. Semua perjuangan tersebut tak akan mencapai hasil yang optimal jika tidak ada dukungan&Pertisipasi aktif dari seluruh pihak..
    dan pada akhirnya semoga cita-cita yang mulia tersebut mampu terwujud… 🙂

  2. Proyek besar harus diawali dengan promosi besar-besaran. Mulai kalangan menengah ke bawah samapai menengah ke atas. Semoga proyek tersebut sukses. Sehingga kita sebagai pengguna layanan TIK di negeri ini lebih mudah.

  3. mengingat ini sambungan tangan dari pemerintah , apakah mereka menerima feedback yang santay, kalem sampai yang tajam ? apa ada respond untuk hal itu ?

    terakhir, apa pembelajaran e-learningnya .. kalau hanya konvergensi dari offline ke online sementara tidak ada bedanya dari struktur bahasa,isi atau singkatnya ngak ada bedanya sama buku yang di online-kan… lalu apa unique point nya ?….yang paling enggak misalnya ada pembelajaran SEO marketing

    kita bangsa yang besar, tentu butuh usaha dan kebersamaan untuk mengurangi jumlah follower dengan menciptakan yang baru.. walaupun tentu tidak benar2 baru..

  4. (Maaf kalau OOT)

    kok program ini mirip dengan program yang sudah ada yaitu TKJ (Teknik Komputer Jaringan) ???
    diharapkan agar professionalisme dalam dunia TIK juga prasarana keuangan yang transparan.

    seperti beasiswa jangan di rapel??
    trus indikasi transfer dana beasiswa ke provider setempat yang tidak absolut (alias sembunyi-2).

    terima kasih, maju terus dunia TIK dan dunia pendidikan di Indonesia.

  5. Maaf kalau agak sinis. Tetapi, IMHO, artikel yang di tag untuk dikritisi ini saya katakan terlalu “SAFE”.

    Sebagai “kacung” dari awal Jardiknas masih berupa jaringan terpisah, yaitu Jardiknas “lama” dan INHERENT, dan terlibat secara langsung di kedua jaringan tersebut, artikel ini tidak menggambarkan Jardiknas yang sebenarnya. Kenapa saya berani berkata demikian? Sederhana saja, tahukah sang penulis bahwa gambar topologi jaringan yang diletakkan pada bagian awal artikel ini adalah topologi INHERENT 2006? Sementara Jardiknas yang dibahas pada artikel ini terbentuk April 2008? Jadi topologi dasar kedua versi jaringan tersebut berbeda sama sekali, termasuk juga konten yang diusung.

    Tetapi kita tidak bisa menyalahkan penulis tentang agak dangkalnya isi artikel ini, karena penulisnya memang jarang berinteraksi dengan hal yang dibicarakannya.

    But overall Jardiknas maupun INHERENT *both exist* memang harus didukung. Karena secara tidak langsung INHERENT telah menjadi tulang punggung perkembangan Opensource di Indonesia. Tetapi dari beberapa komentar dari pembaca artikel ini di awal, mereka masih bingung mengenai apa itu Jardiknas. Seperti komentar dari nasriza nasir mengenai program TKJ yang disebutkannya, yang mana sebenarnya itu adalah program D3 TKJ, program beasiswa untuk para teknisi yang akan merawat Jardiknas selanjutnya.

    Saya rasa hal itu saja cukup untuk dikritisi, diskusi terbuka sangat saya harapkan untuk pencerahan publik.

    Keep up the good work, walaupun ngggak pake bonus kawos, teruskan saja artikel-artikel seperti ini. Lebih mencerahkan pembaca.

  6. Amiin.
    seya dukung program pemerintah ini. semoga perawatannya baik ya..karena kebanyakan pengelola TI di indonesia (contohnya website pemerintah) cuma sebatas “asal ada”

    Trims.

  7. Jardiknas, sebuah project baru pemerintah yang konon katanya akan memberikan edukasi dalam bentuk baru. Namun perlu diingat bahwa sebenarnya Indonesia itu bukan hanya pulau jawa saja, bahkan masih banyak sekolah yang memiliki fasilitas yang bisa dikatakan minim, hal ini memberikan sebuah pertanyaan besar bagi pemerintah, apakah tidak sebaiknya memperbaiki dulu fasilitas-fasilitas sekolah sehingga memiliki standar mutu yang baik ketimbang membicarakan teknologi jaringan seperti ini. Semoga ini bukan project yang hanya akan menghabiskan anggaran saja.

  8. D3 TKJ memang bagian dari jardiknas,,

    karena saya pernah kuliah 5 smster di d3 TKJ di daerah saya (solo) 3 provider ada disana.

    jika melihat komentar diawal emang terasa komentar terasa “aman” coba mulai menggali antara planing jardiknas dan implementasi di lapangan.

    he.. he.. bisa shock berat dech…

    *segera wawancara ach.. kuliah target 2 tahun D3, skrang 3 tahun lebih belom ada gambaran wisuda* geombang pertama di daerah kota saya 🙂

    *kuliah gratis ech.. sekrang malahan disuruh bayar .. katanya sich dana dari pusat mandek (berhenti)bahkan parahnya lagi jardiknas dipindah tangankan (kamsute opo ?? )

    *kerja sama dengan diknas ?? lha wong dinas di kota saya blom pernah dapat sosialisasi dari jardiknas.. bahkan efeknya sangat tajam dalam implementasi kita untuk mencari “MOU” untuk magang ditempat atau instansi dinas.

    hal ini dikarenakan karena ketakutan diknas daerah karena ada isu klo2 mereka yg magang di ICT ato SD< SMP bahkan SMA kelak menuntut PNS dan lain sebagainya.

    padahal gelombang pertama aman-aman saja utk dapet MOU.

    masih bnyak lagi dan lagi ;))

    tapi maju terus provider (lhoch) maju terus mahasiswa TKJ 😀

    1. sebelumnya mohon maaf kalau tanggapan saya terlalu kritis untuk tema ” JARDIKNAS “.

      Mungkin saya hampir sama dengan mas jaka sebagi salah satu mahasiswa TKJ yang mengatasnamakan JARDIKNAS, begitu pula kejadiannya, 90% sama. Tetapi saya ingin menanggapi Jardiknas dari sisi yang berbeda.

      Saya mulai kenal dng jardiknas sekitar tahun 2006 kemarin ya sudah cukup lama. ibarat motor baru, ia bisa membuat senang dan tertarik siapa yang melihatnya. tetapi setelah berganti tahun dan onderdil lama2 motor tersebut sudah tidak bisa membuat senang siapa yang melihatnya, karena kerjanya sudah berubah.

      Sama halnya dengan JARDIKNAS saat ini yang saya rasakan ” maaf ” mungkin karena sudah lama dan pergantian pengurus akhirnya jardiknas sudah seperti kehilangan visi dan misinya. berbeda yang disampaikan diatas. Banyak sekolahan2 di daerah saya merasa kecewa atas JARDIKNAS yang memberikan layanan Internetnya. sehingga mrk beralih ke ISP yang lian.

      ” maaf saya petikkan wawancara diaatas ” == Salah satu tugas Jardiknas adalah memberikan akses Internet dan Intranet
      gratis ke sekolah-sekolah (atau perguruan tinggi, kantor di lingkungan
      Depdiknas dan guru-guru), dan soal pemilik notebook atau komputer yang
      masih terbatas, itu dapat diatasi dengan bantuan lab komputer atau
      warnet-warnet yang menjadi arena belajar anak-anak didik.== padahal di kabupaten kami semua sekolahan yang berhubungan dengan jardiknas diharuskan membayar untuk jaringan internetnya, ” kok di situ mengatakan gratis ??

      dan menanggapi komentar mas jaka.. memang yang saya tahu untuk TKJ sekarng tidak di urusi oleh jardiknas… karena Jardiknas di isukan BUBAR dan di gantikan Oleh Biro PKLN

      Maaf kalau terlalu panjang dan membingungkan 🙂

  9. SALUT buat JARDIKNAS…!!! Semoga ini menjadi batu loncatan agar bangsa ini melek teknologi…tidak hanya di kawasan perkotaan tapi juga menjangkau teman-teman kita yang ada dipelosok Indonesia. Semoga dengan ini akses internet menjadi semakin murah terutama di daerah terpencil contohnya daerah tempat tinggal saya ( hehe.. maklum dipelosok). Satu lagi untuk DEPDIKNAS agar bisa memikirkan cara untuk mengurangi penggunaan software bajakan.. setahu saya Indonesia sudah punya IGOS.. tapi kok tidak kedengaran gaungnya ya…? Mungkin memang saya yang terlalu kuper.. pokoknya untuk DEPDIKNAS masih ada PR yaitu untuk mengurangi penggunaan software bajakan.. jangan sampai kita disebut sebagai bangsa pembajak (malu-malu dong…)

  10. Manfaat dengan biaya yang dikeluarkan pemerintah sangat tidak sebanding. Ini hanya proyek pemborosan yang dibiayai negara dari utang luar negeri. Jangan mau ditipu!

  11. hey ivan. saya suka konsep pemanggilan namamu yang bebas umur 😀
    saya ada kawan yang bergeliat di jalurbawah tanah dengan kihadjartheywanttorock[dot]com mereka. saya suka konsep mereka : tidak semua pendidikan itu formal (meski mereka menyatakan diri hanyalah para pendidik-kurang-ajar saya pikir dan saya rasa – I think – itu adalah usaha mereka untuk bebas umur, bebas dari stereotip Yang Tua Baru Boleh Bicara)
    saya tidak peduli dengan komentar2 yang ada di sini, saya hanya turut mendukung setiap gerakan yang mendukung pendidikan itu sendiri.
    maka dari itu, saya berniat berbagi tentang ini pada mereka : para-pendidik-kurang-ajar itu
    oke, ivan. gud lak fur yu n good lick too 😀

  12. Salam kenal semuanya.
    Saya baru gabung ke ini situs navinot.
    nice site.
    dan ini komen pertama saya.

    Jardiknas ya? mmm.
    isu yang lumayan cukup lama telah beredar. apalagi ditempat saya kuliah di Pendidikan Ilmu Komputer di Universitas Pendidikan Indonesia. dosen-dosen juga sudah banyak membahas tentang ini jardiknas.

    Make Sense kalo kata saya ini untuk jardiknas terealisasi. dan juga di dukung oleh itu, dari apa yang ditulis dari apa ya itu. iya wawancara.

    Tapi untuk kelanjutannya bagaimana sampai sekarang saya tidak tahu. kurang tahu mungkin, karena saya adalah termasuk golongan mahaSiswa mahaPemalas.

    tapi keren. pendidikan dan teknologi memang seharusnya berteman. he.he.

    Daus Gonia || pemimpi-n besar kaum pendidik kurang ajar.

  13. heheheheh jardiknas ya…..
    saya juga salah satu mahasiswa D3 TKj Jardiknas tersebut ……bagaimana kelanjutannya program tersebut kok kliatannya gak ada kelanjutannya mohon konfirmasinya

  14. saya sangat senang dengan program jardiknas ini, saya mengajar di SD Inpres Tello Baru 1/2 Makassar dan sekarang kami baru memiliki 5 PC, tapi belum ada internetnya. Gimana caranya supaya sekolah kami dapat juga mengkakses internet melalui jardiknas, karena yang setahu saya yang dapat masih SMP dan SMA. Tolong dong E-mailnya pak Michael Sunggiardi, sy ingin menanyakan tentang Ubuntu dan Kubuntu. Trimakasih…..

Comments are closed.

Comments are closed.