Not Again: Is Blog Really Dying?
I was reading this piece, somehow I had the urge to comment. It’s getting longer in the comment box so I think I’m going to jot it down here while also performing what we called trackback.
What microblogging is for?
Saya rasa microblogging “hanya” menambah unsur realtime dalam penyebaran konten. Untuk jadi realtime, berarti kita harus cepat. Dalam waktu yang cepat berarti konten harus singkat tetapi harus padat pada intinya. Lebih tepat lagi sebenarnya, sesingkat SMS karena mciroblogging dulunya dioptimasi untuk SMS. Microblogging is breaking news.
Microblogging saat ini sudah mengalami re-purposing. Di tangan early adopters yang techie, microblogging menjadi alat tepat untuk berbagi resource. Saling melempar link, dan menginisiasi buzz, membentuk awareness, dan macam-macam agenda lain.
What has happened to bloggers?
“Namun untuk mendekati ke Blogger saat ini tak semudah dulu, agar pesan Anda ditulis. Karena saat ini Blogger sudah jarang menulis, keblinger dengan social media dan microblogging, ditambah lagi dengan begitu banyaknya undangan buat para blogger menghadiri berbagai acara yang disponsori oleh merek tertentu.”
Saya kurang setuju. Dari dulu blogger memang susah didekati jika kita tidak mau mengerti si blogger. Blogger berangkat dari independensi, jadi jika seseorang mendekati blogger untuk menyuruhnya menulis sesuatu tentu saja bakal ditolak (apabila tidak bisa meyakinkan).
Pernyataan “keblinger” sepertinya agak berlebihan. Harus diingat juga bahwa blogger adalah early adopters. Mereka pasti akan mencoba semua hal baru, termasuk di dalamnya adalah microblogging dan social media. Jika memang media baru ini bermanfaat tentu saja mereka akan memakainya, dan bahkan merekomendasikan pada pembacanya.
Blogger diundang ke acara tertentu karena prestasi blogging itu sendiri. Semakin banyak pemegang brand yang sadar bahwa people trust their friends for almost everything. Termasuk dalam hal membeli dan menggunakan produk. Blogger adalah personal “tanpa” agenda. Motivasinya hanya sharing what’s good dan disclose what’s hidden. Kemiskinan agenda ini adalah salah satu hal yang membuat blogger lebih unggul (efektif) daripada media tradisional. Saya rasa kita sudah bisa membandingkan bagaimana acara Anda akan ditulis di media dan di blog. Dengan tambahan, Anda hanya bisa dapat satu tulisan di media tradisional, sementara Anda bisa dapat tulisan dengan banyak sisi di blogosphere.
Blogging vs Microblogging?
Sepertinya blogging dan microblogging ini bukanlah lawan. Hanya saja orang-orang tiba-tiba menemukan banyak hal lain yang bisa dibagi lewat microblogging. Microblogging menjadi dominan karena beberapa aktivitas non-blogging yang sebelumnya terpisah-pisah kini dibundel dalam satu channel. Upload foto, lalu nge-tweet. Masuk mall, lalu update koprol. Ada artikel menarik, selain masuk delicious juga masuk twitter. Anda nge-blog, ternyata mengupdate microblog juga.
Microblogging does not nullify blogging. Tapi blogging juga bukan hal sakral yang tidak boleh/bisa mati.
Apa pendapat Anda? Apa yang telah terjadi dan akan terjadi pada aktivitas blogging?
26 thoughts on “Not Again: Is Blog Really Dying?”
kalo saya pake social media dan microblog untuk menunjang (promosi) andai ada tulisan baru di blog. atau memasukkan feed blog supaya otomatis jadi notes di pesbuk. ya emang masing-masing beda fungsi sih
Tidak semua ide bisa diwujudkan dalam microblogging. Blogging itu soal tulisan panjang dan argumentatif.
Tipikal posting microblog: Habis baca buku Undercover Econ, menarik dan mengajar banyak soal ekonomi.
Tapi blogger nggak bisa menjelaskan apa yang menarik atau pelajaran apa saja yang didapat. Butuh bikin resensi di blog untuk itu.
Twitter jelek dalam percakapan dan berkomentar di thread orang lain.
Mungkin “matinya” blog adalah suatu tanda bahwa dulunya orang cuman punya ide sekelumit trus jadi posting panjang. Sekarang dengan adanya microblog “warna aslinya” kelihatan.
Analisa di blog virtual itu dibangun dari satu fakta bahwa blog yg aktif makin menurun sementara microblog dan sosial media bertambah. Sebenarnya semua sekedar menuju ke plotnya masing2 aja. Ke depan, blog mungkin makin mengarah ke publishing, sementara microblog & social media untuk sharing. Blog yg makin sedikit bukan indikasi pengaruhnya makin berkurang, mungkin justru sebaliknya.
@BudiTyas
Wah, menarik ini. Bisa dijelaskan lebih jauh tentang yang “sebaliknya” ini?
blog saya termasuk yang dying, akibat microblogging dan kesibukan….hehehe *curhat pengakuan*
Berulang kali situs berita mengambil topik dr berita blog. Blog dgn tulisan yg cukup panjang masih layak dilink sbg rujukan. Agak beda dgn microblog atau social media yg minimalis/tertutup yg hanya bisa jd berita jika sudah menjadi gosip massif. Situs berita butuh sumber bahasan, dan blog makin mengarah ke sana, mengeliminasi segala chat share dan tetek bengeknya ke microblog dan semacamnya. Dari sejarahnya, blogger lebih powerful di jaman dulu, waktu jmlnya sedikit. Bisa jadi seleb blog macam priyadi yg beritanya muncul di detik bakal terulang di masa mendatang.
secara realitas banyak blogger yang memang tujuannya ngeblog hanya untuk berbagi menceritakan pengalaman hidupnya. mayoritas Mereka gak ngoyo untuk pamer kompetensi, serius jurnalistik dsb. Mereka cuma ingin cerita. Blogger2 seperti inilah yang membuat jumlah blogger terus membengkak. Kita akui saja, mayoritas blog di dunia ini isinya adalah blog2 curhatan pribadi. Hanya sedikit blog yang memang berkualitas diiisi dengan tulisan2 yg bermanfaat.
Lalu kini ada microblogging, blogger dengan tipikal mereka pasti lebih memmilih microblog daripada blogging. Karena mereka memang hanya ingin cerita. Mereka gak perlu nulis panjang2.
So, sudah pasti memang booming blogging jelas akan menurun. Hanya akan tersisa orang2 yg blogging for any other serious purpose like the so called personal branding.
mau komentar, tapi ntar malah kepanjangan. Nanti aja posting sendiri..:P
blog saya ga dying ah.. coz, pengunjung pasti ada. pasti ada orang yang mau mampir sejenak. baca2, meski ga kasih komen. karena blog menurut saya pasti akan selalu ada, sama seperti surat kabar dan juga kaset lagu yang masih aja ada meski saingannya makin banyak
yang terpenting adalah, pemilihan antara idealisme dan juga elaborasi
salam
Tidak, saya sangat yakin blogging akan tetap eksis, walaupun kuantitas mungkin sekali menurun (seperti halnya komentar @BudiTyas), hanya saja terus bertransformasi ke arah yang lebih tepat, baik dari isi dan penggunaan.
Bagi yang sadar dgn keb. blogging dan aktifitas social networking, pasti semua akan digunakan agar semakin melengkapi. Justru dari sisi ini, perkembangan seperti saat ini jadi berkah karena kini proses sosialisasi jd semakin mudah dengan begitu banyaknya cara untuk membangun jaringan sosial.
Di tv, running news tidak membunuh siaran berita. Justru saling melengkapi. Inilah yng biasa sy gunakan sbg analogi twitter (microblogging) dengan blog. Sama juga dengan analogi SMS dan telp.
Yang saya prihatinkan sih sbnrnya lebih ke soal penggunaan yang “salah”. Kecenderungan pengguna lokal sering akhirnya keblinger dengan teknologi. Seperti yang terjadi pd fungsi status update facebook dikalangan kebanyakan.
Saya lebih khawatir bila euforia microblogging benar2x sudah booming di indonesia, kualitas isinya tidak akan bermutu. Tapi ya itulah proses. Transformasi terus akan berlangsung.
Televisi tidak membunuh radio, internet tidak membunuh koran dan microblogging tidak akan membunuh blogging. Semua saling melengkapi berdasar segemntasi kebutuhan.
IMHO, saya setuju dengan pandangan Toni. Microblogging sifatnya breaking news. Untuk menginformasikan sesuatu dalam karakter terbatas secara cepat. Sedangkan blog bisa lebih fleksibel karena tidak terbatas jumlah karakter. Blog tidak terbatas pada breaking news saja. Blog bisa digunakan untuk menginformasikan how to, pengalaman secara lengkap, review, dll. Sedangkan microblog? Saya tidak yakin microblog bisa meng-cover hal-hal itu.
Blog dan Microblogging memiliki fungsi dan berada di segmen yang berbeda. That’s it
Blog memang sebuah fenomena. terkait dengan blogging ataupun microblogging bukan sebuah permasalahan yang patut diperdebatkan. kita harus melihat bagaimana blog mampu meningkatkan budaya literasi bangsa indonesia.
dengan blog, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki bangsa indonesia.
silakan klik;
http://abufalih.multiply.com/journal/item/25/Blog_dan_Komunitas_Intelektual
semoga bermanfaat…
satu hal yang berkaitan dengan user insight bahwa, sekalipun microB sedang populer tapi untuk mencari brita yang thrust worthy maka medianya adalah portal atau Blog, sementara untuk tingkat kepercayaan mereka biasanya membandingkan berdasarkan blog lain.. sementara detik dan sejenisnya hanyalah megaphone yang memberitakan tanpa ada kritikan dan positive support yang tajam seperti yang ada di blog.
oia, saya rasa bukan early adopters tapi justru innovator + early Adopter
Selama ini aktivitas blogging hanya berisi hal-hal pribadi milik blogger yang dipublikasikan. Microblogging seperti twitter cenderung digemari kebanyakan orang.
Microblogging lebih simpel dibanding kebanyakan blog yang sudah ada. Tampilan mini dari microblogging lebih menarik dan mengundang para pengunjung internet untuk mendaftarkan di microblogging tersebat.
sudah komen, di postingan sendiri 😀
tunggu trackbacknya nongol ya..
strategi online marketing lebih ampuh menggunakan blog daripada microblogging. kalo sekedar untuk seneng2an sja, ya pake microblog sja. 🙂
masing2 diciptakan untuk keperluan yang berbeda-beda..intinya sih gitu aja. gak mau komen panjang lebar. lagi bete nih ..
Saya sangat setuju dengan pendapat Mas Toni.
Blogger dan Micro-blogging bukanlah lawan untuk disandingkan,
malah seharusnya kedua hal tersebut adalah teknologi yang saling melengkapi…
Blogger juga memerlukan micro-blogging,
dan micro-blogging tidak akan menafikan aktivitas blogging…
Pada dasarnya motivasi blogger dan micro-blogger adalah seperti yang ditulis Mas Toni:
“Motivasinya hanya sharing what’s good dan disclose what’s hidden.”
Yup “sharing what`s good to other people” adalah hasrat manusia yang terdalam untuk membagikan rasa cintanya kepada orang lain,
untuk menyalurkan hasrat mencintai dan dicintai yang hakiki melalui tulisan-tulisan dalam blognya yang berguna bagi orang lain…
Micro-blogging memiliki berbagai keterbatasan seperti keterbatasan karakter dan keterbatasan formatting…
Seringkali untuk menyampaikan konten yang berkualitas juga terkadang diperlukan ruang yang lebih luas, diperkaya dengan gambar/video, dan ruang yang lebih independen & personal…
Oleh karena itu, ruang blog tetap tidak akan pernah mati karena ia sudah lahir untuk hidup selamanya…
Sejujurnya, blog saya ‘kerap’ mati suri karena saya terlalu asyik dengan microblogS yang saya miliki.
Tapi, belakangan, dorongan untuk menulis panjang sudah muncul kembali.
Blog mati selamanya?
Saya rasa tidak. Dan, saya harap tidak. Karena, blogging telah membuka jalan bagi dunia kepenulisan Indonesia.
Waddaw, blog uwa justru baru lahir. Semoga cepat montok ah
setuju sama arah post-nya tapi …
“Harus diingat juga bahwa blogger adalah early adopters. Mereka pasti akan mencoba semua hal baru, termasuk di dalamnya adalah microblogging dan social media.”
waduh statementnya sangat overgeneralized sekali? apakah didukung dengan statistik nih?
@Ronald
Wah, sayangnya aku tidak punya data statistik untuk jadi panutan. Tapi aku berangkat dari hipotesa bahwa once you blog, you’ll definitely explore other areas.
Karena mendapat teman baru, atau terpengaruh teman lama mereka pasti mencoba hal-hal lain terkait blogging. Masa-masa awal mungkin cari template gratis, setelah itu akan melangkah ke mencoba layanan lain.
Menurutmu sendiri apa yang bikin blogger tidak jadi early adopters?
Tulisan gw yang udah lama ini ternyata masih banyak mengundang diskusi. Sebenarnya statement tulisan itu ndak bilang bahwa Blogging akan mati sepenuhnya, tapi seleksi alam akan menentukan bahwa Blogging tak akan punya daya magis sekuat dulu. Bahwa konsumen sebagian bosan dengan “mainan” bernama Blog, karena ada sesuatu yang baru. Dan ini alamiah, dan bukan berarti akan musnah sepenuhnya.
Kemudian pendapat bahwa Blogger adalah early adopter, itu mungkin benar. Tapi tidak sepenuhnya. Early adopter dan Blogger dua karakter yang berbeda. Blogger awal-awal mungkin memang para early adopter yang emang demen mencoba sesuatu hal yang baru, tapi apakah Blog hanya akan menjadi mainan para early adopter??? Itu sangat menyesatkan, karena ketika sesuatu makin populer maka dia akan menyentuh juga gelombang berikutnya yaitu para early majority, lalu kemudian late majority.
Tapi ini setidaknya menjadi sebuah pokok diskusi yang menarik…
Comments are closed.