How Much Money To Burn?

How Much Money To Burn?

Money to Burn

I’m really not wearing the appropriate shoes to tell you ho much? But hell, I’m on an impatient shoes to figure out how much.

Salah satu isu besar dalam memulai startup adalah permodalan. Dan isu selanjutnya setelah mendapatkan permodalan adalah seberapa besar jumlah uang yang harus kita belanjakan sebelum bisa menghitung profit. Startup, jika kita mulai dari ukuran yang besar sudah pasti meminta uang untuk dibakar pada masa awal perjalanannya. Beda dengan mendirikan usaha kecil yang perputaran uangnya mungkin cukup dalam hitungan satu hari. So, seberapa besar sih uang yang harus kita bakar? Seberapa masuk akal batasan yang harus kita pegang dalam hal ini?

“I think almost all CEOs in tech (me included) like gadgets. When you combine optimism and a pile of cash, it’s all too easy to get carried away buying shiny new things you don’t need. Same goes for hiring people you don’t use effectively, renting too much space, buying aeron chairs etc etc etc.” – fewquid

Penyakit yang menghinggapi orang yang memegang uang adalah semua hal jadi tampak bisa diselesaikan dengan uang. Tiba-tiba kita percaya bahwa cara mendatangkan pengunjung adalah dengan memasang iklan di Detik atau di slot primetime televisi. Padahal mungkin menyelenggarakan acara kopdar di wetiga sudah bisa memenuhi target yang diinginkan. Atau mungkin tidak perlu sama sekali memasang iklan karena memang belum saatnya. Apakah situs kita sudah siap memikat pengunjung baru. Apakah iklan bisa efektif?

“Unfortunately, unless you have unlimited funds, spending too much money early means that you may not be around if your market takes longer than expected to emerge (it will), your technology doesn’t work the way you thought it would (it won’t), your sales cycles turn out to be longer than planned (they will be) and your funding harder to come by than you anticipated (’nuff said).” – Seth Levine

Membakar uang memang tak bisa dihindari. Hanya saja, membakar uang terlalu cepat tentu akan mempengaruhi jalan startup di masa datang. Anda tentunya percaya bahwa modal bukan hal yang mudah didapatkan. Sementara itu kondisi usaha selalu berubah setiap saat. Rencana mendapatkan profit setelah setahun membakar uang mungkin jadi tertunda karena tiba-tiba muncul resesi. Bukannya profit yang diterima, malah pos biaya yang justru membengkak.

Sepertinya tidak ada formula pasti untuk menentukan seberapa pantas jumlah uang yang bisa dibakar. Before I go on, you can totally disagree on this. Kebutuhan dan kondisi tiap-tiap startup pasti berbeda. Termasuk juga strategi yang dipersiapkan dalam mendatangkan profit. Termasuk juga pengalaman dan pengetahuan founder dalam menghadapi tantangan sepanjang jalan. Pun kita sudah bisa menghitung kebutuhan dan pos belanja sejak dini, tidak menutup kemungkinan founder terperosok atau salah ambil jalan. Yang bisa dimainkan adalah how do you want to burn your capital.

Anda pasti tidak puas karena tidak bisa menemukan kunci jawaban pertanyaan dalam judul artikel ini. Trust me, even if I have the answer, it won’t suit your situation. Saya rasa jawabannya harus kita temukan sendiri, sambil berlatih mengambil keputusan dan menangani resiko.

Ada yang sudah melewati fase ini dan mau berbagi pengalaman? Sambil menunggu yang mau komentar, mari kita baca sama-sama artikel: “Tech Start-Ups Have Money to Burn, But Choose Thrift”

10 thoughts on “How Much Money To Burn?

  1. saya sebgai orang baru dalam memegang sebuah usaha dengan modal yg cukup -ternyata sulit juga memanage modal .. semua pada mulanya dengan ada uang semua gampang.. akhirnya out of control 🙂

    skrang kmbli ke posisi awal -cari modal lagi :((

  2. Spekulasi tdk bs dihindari. Jadi nampak wajar bisnis ebook bertebaran bak jamur. Investasi rendah dgn impian membumbung tinggi. Pedoman potensi profit/invest yg tinggi jd satu2nya acuan.

  3. Tergantung rencana. Fail to plan. Plan to fail.
    Kalau punya duit tidak terbatas, mending fokus ke bisnis, biarkan aplikasi di develop pihak ke-3. Kembali lagi, ke rencana.

    Muter-muter nih. Kayaknya kudu nunggu yang benar-benar berhasil…setelah ‘membakar’ sejumlah uang tentunya.

  4. bicara modal emang sulit.. seperti wacana pertama, penempatan media placement penting dipahami dan dilakukan. Idealnya semua bisa dimanage namun baik UKM , waralaba atau usaha lainnnya berada bukan pada sesuatu yang ideal dan ngak linear… dalam hal ini yang dibutuhkan bukan management finansial expert tapi bagaimana mental entrepreneurship itu bisa bekerja.

  5. Awalnya uang memang nampak seperti dewa penyelamat.
    “andai saja modal kita cukup!”
    segalanya bisa di selesaikan dengan uang.
    Begitu dapat modal biasanya out of control.
    Saya dulu pernah mengalami ini.
    Saat saya pegang modal “cukup” ternyata malah terasa sangat kekurangan.
    Namun ketika modal cekak, justru yang terjadi income terasa lebih deras mengalir.

    Saya rasa “The Power of Kepept” emang benar.
    Saat tertekan saya cenderung lebih kreatif dan bisa “mikir”

    Jadi sekarang saya “akali” dengan sistem finansial sederhana. Saya plot dana untuk minimal untuk 3 bulan, cukup tidak cukup harus kita harus tetap bisa jalan.
    Renacana sih kalo bs dana saya plot untuk 1 tahun.

    Rancang sistem kerja yang bagus, dari mana harus dapat profit, berapa targetnya, dan bagaimana cara-cara mencapai target tersebut, serta plan apa jika kita menemui jalan buntu.

    Mungkin apa yg saya lakukan bs memberi inspirasi 😉

  6. nimbrung yak.. juga baru buka usaha. printing n web design siy.. working with couple of staff now. Tapi awalnya cuman saya sendiri n seorang temen bantu di bagian administrasi.. modal hanya sebuah laptop, beberapa meja dan beberapa barang pinjaman (n colongan) sebagai pajangan di kantor. dan sedikit duit buat upacara pembukaan (ritual orang bali dink, it’s a must) hehehe… lumayan sich untuk permulaan. tapi kadang barang colongan yang jadi masalah 😛 but it’s over now. Bahkan untuk ruko aku pake punya temen yang usahanya gak jalan dan masih ada sisa kontrak 6 bulan. the plan was to obtain some money for the next rent. 🙂 sekarang udah ada tambah perlengkapan, dan metode pembayaran yang aku pilih adalah sistem kredit.. thanks God for that. Jadi sekarang aku udah bisa nyakar tiap bulan berapa minimal yang harus aku siapin untuk main expenses (listrik, gaji staff, kredit, telpon n internet.) Dan yang lainnya qta anggarkan untuk promosi / marketing stuff. Sampai saat ini sich lancar2 ajah ya mudah2an ke depan bakal lebih baik lagi.. Well nothing get worse when you started it with nothing 🙂 Tapi emang sampe sekarangpun aku masih punya pikiran “i wish i had that money”. You can’t avoid of having that thought. It’s human nature.

Comments are closed.

Comments are closed.