Berdiri Tanpa Investasi

Berdiri Tanpa Investasi

ship to horizon

Di barat sana, sedang ada kecenderungan perubahan perilaku VC menjadi lebih seperti Record Label. Tidak lagi terlalu banyak memberikan fund pada startup yang ambisius tapi lebih cenderung mencari the next big hit seperti Lady Gaga dan Justin Timberlake. Beberapa orang merasa terganggu karena mengganggap hype terjadi di tempat yang salah. Startup harusnya menjadi agen pembawa perubahan dunia menjadi tidak punya kesempatan. VC sedang melakukan permainan bisnis aman.

Bagaimana dengan lingkungan VC lokal? Syukurlah kita tidak mengalami “kemunduran” seperti yang terjadi di Barat sana. Tepatnya, kita belum punya banyak VC yang membesarkan startup dalam negeri. Kita bahkan belum punya event seperti DEMO atau TC50 sebagai panggung untuk public pitching dan mencari spotlight di dunia IT.

Sebagai entrepreneur, tak usah berkecil hati. Seperti yang ditulis dalam artikel Investor or No Investor kemarin, investor tidak akan memberi free lunch. Punya investor berarti akan ada kontrol atas startup yang kita miliki. Startup tidak lagi bisa murni berfokus pada konsumen saja, namun juga harus memperhatikan komando pemberi investasi. Freedom yang dulu digaung-gaungkan saat kita memulai startup akan sedikit luntur karena konflik kepentingan.

Bagi yang tidak ingin terjerat konflik investasi atau belum mendapat investor, rasanya kita bisa menenangkan diri dengan meresapi nasihat Trent Reznor (Nine Inch Nail). Trent Reznor bilang, jika kita ingin cepat terkenal maka record label adalah satu-satunya jalan. Old-school marketing trick akan efektif, namun kita harus merelakan idealisme dan macam-macamnya termasuk porsi pendapatan supaya bisa masuk jalur mainstream. Ada benarnya juga, dari sekian banyak artis baru yang sering tampil di televisi beberapa mungkin masih nge-kos atau markasnya masih mirip band indie.

Bagi yang ingin membentuk jalannya sendiri, Trent Reznor bilang: give away your content free (dengan ditukar hal lain seperti e-mail, dan sarana untuk membangun jaringan). Lupakan penjualan rekaman lewat record label. Word of mouth adalah hal terpenting yang kita inginkan supaya hasil kerja kita bisa dipakai banyak orang. (jangan lupa baca link Trent Reznor di atas, it’s long and detailed)

Jalur indie sepertinya penuh peluh dan kerja keras ya? Jalan lewat investor sepertinya tinggal ongkang-ongkang kaki karena tidak memikirkan urusan uang lagi. Rasanya tidak ada pilihan yang tidak beresiko. Semakin besar resiko, semakin besar pula outcome-nya. No pain no gain katanya.

Bagi saya pribadi, dan mungkin juga bagi banyak orang lain, investor or no investor bukan pilihan tapi soal kesempatan. Sebelum kesempatan itu datang, berikut ini beberapa hal untuk mensiasati keperluan investasi.

Kendala besar bagi startup biasanya modal untuk server dan resource sejenis. Untuk hal ini saya menyarankan Google App Engine. Kuota bebas yang ditawarkan cukup besar untuk bisa dipakai mengawali startup. Tidak perlu pusing memikirkan load balancer, load server dan kapasitas database. Asal tidak ngawur saja dalam membuat aplikasi, kuota bebas ini pasti cukup untuk membangun userbase. The only catch is, either you need to learn Python or Java and noSQL.

Spotlight? Sebenarnya ada banyak. Tren yang akan segera merajalela adalah App Store. iPhone punya, Android punya, Blackberry punya, Nokia juga. Dan baru-baru ini App Store untuk Twitter juga muncul dalam bentuk situs oneforty. Ini adalah spotlight yang beberapa di antaranya gratis untuk dimasuki.

Marketing? Kita semua pastinya sudah tamat kurikulum Facebook dan social media lain. Social media adalah alat marketing gratis yang tersedia bagi semua orang. Dan menariknya, orang tidak dipaksa melihat seperti halnya iklan di televisi.

PS:

Hari ini tidak ada pertanyaan, perenungan saja ya 🙂

10 thoughts on “Berdiri Tanpa Investasi

  1. Well, kayaknya lebih mumpuni menggunakan layanan VPS murah seperti Amazon EC2 atau layanan serupa. Karena VPS sendiri lebih mudah kustomisasi, bebas dan tentunya tidak se-ribet Google App Engine.

    Kalau ingin web server python, bisa diinstall ke VPS dan bebas di konfigurasi …walaupun begitu, app engine jadi pilihan terakhir.

    Layanan App Engine sepertinya cocok digunakan untuk testing saja. Untuk production, baru beralih ke lain, minimal VPS 😀

  2. bergerak di jalur indie memang punya tantangan yang lebih besar ketimbang langsung masuk ke major label. karena semua hal harus dibuat secara cermat dan juga cekatan! udah banyak pula koq yang sukses melalui indie label, meski yang ga sukses pun banyak. still anyway, setiap kesuksesan tersebut jangan sampe dijual, karena kelebihan indie label adalah kita bisa punya pendirian dan juga standar yang ga musti ngikut pasar, tapi lebih ke mencipta pasar 😉

  3. sayangnya kalau pakai appengine, untuk web yang target visitornya hampir semua dari dalam indo, akses servernya jadi lebih lambat…
    full-text query GAE juga belum canggih dibandingin lucene, dll…

  4. @deche
    wah, memang gae lemah di fulltext search. Tapi mgk hambatan sementara. Seperti yang kita tahu, search engine google itu superfast. Jadi pasti ada trik yg optimal untuk keperluan fulltext search di datastore-nya gae.
    Dan kurasa tinggal persoalan waktu saja sampai ada yang gatal untuk porting lucene storage ke gae. :d

Comments are closed.

Comments are closed.