Software House and Customization

Software House and Customization

Siap Pakai atau Siap Kustomisasi

Jika Anda adalah seorang sproduct manager suatu software house, apa yang akan Anda tawarkan pada calon pembeli? Produk yang siap pakai atau produk yang siap dikustomisasi?

Produk Siap Pakai Dong!

Memang harus siap pakai. Produk yang ditawarkan siap pakai tidak akan memerlukan biaya kustomisasi yang bisa membengkakkan harga produk. Dengan produk yang siap pakai, klien tidak akan memerlukan waktu tunggu untuk segera memakai produk. Time is money, so they said.

One size to rule them all?

Idealnya memang siap pakai. Tapi tidak mungkin produk Anda bisa siap pakai untuk semua keperluan. Semakin banyak fungsi yang ditawarkan produk, semakin sulit punya untuk mengakomodasi keinginan setiap calon klien. Kecuali Anda membuat produk yang punya suatu standar, Anda tak akan pernah bisa menghindar dari kustomisasi.

Standing in the middle?

Kata orang yang bagus itu yang di tengah-tengah.Ini berarti produk kita harus siap pakai dan juga siap dikustomisasi. Salah satu caranya adalah dengan melakukan sinkronisasi setiap kustomisasi yang terjadi di klien ke dalam produk utama. Tidak semua perubahan namun setiap hal generik yang bisa digunakan untuk meng-improve produk utama.

Tapi itu teorinya. Riilnya sendiri susah untuk diterapkan. Anda minimal harus punya tim terpisah untuk kustomisasi dan pengembangan produk. Atau harus punya cukup jeda waktu antar proyek dalam rangka sinkronisasi fitur kustomisasi dengan produk utama.

Banyak yang terjebak di posisi tengah ini. Proses kustomisasi justru menjebak kegiatan pengembangan. Sinkronisasi tidak pernah terjadi dan ujungnya kita berakhir dengan berbagai macam variasi produk tanpa punya satu pun produk generik.

Start From Best Practices

Jika produk Anda tak pernah berhenti dikustomisasi, jelas sudah bahwa Anda telah melewatkan sesuatu. Selalu ada benang merah dari semua proses. Berangkatlah dari best practises yang sudah terbukti manfaatnya. Kita ada karena kita ingin membantu klien, bukan sekedar menuruti kemauannya. Pastinya tak semua hal bisa dinegosiasikan, tapi pasti keinginan dari klien untuk meng-improve dirinya sendiri. Di titik inilah Anda menawar, kustomisasi produk atau adaptasi klien?

Bagaimana menurut Anda? Tabukah jika kita menjual produk yang selalu memerlukan kustomisasi? Atau malah jadi bisnis model?

2 thoughts on “Software House and Customization

  1. V 1.0 produk jadi yg solid. Klo laku n request customize banyak, v 2.0 bikin yg siap custom. Klo belum2 dah bikin yg siap custom, ya klo laku, klo nggak kan rugi bgt mikirin customize.

  2. Meminjam kata-kata DHH (Ruby on Rails): “Flexibility is overrated. Constraints are liberating.”

    pada dasarnya kita membuat software dg tujuan utk memenuhi kebutuhan klien, dari situ kita bisa mengukur tingkat kemampuan kustomisasi software yg akan dibuat.

    proses pengembangan software retail akan sangat berbeda dengan software kustom.

    untuk software retail, kustomisasi dapat dilakukan oleh pihak ke-3, misalnya pembuat add-ons pada Firefox, tidak akan berpengaruh terhada pengembang utama.

    untuk software kustom, kustomisasi dilakukan atas permintaan/persetujuan klien, tidak akan ada fitur-fitur yang mubazir. di sini komunikasi antara pengembang dg klien sangat berperan atas tercapainya tujuan software yg dikembangkan.

Comments are closed.

Comments are closed.