WOW! Tapi Perlukah?!

WOW! Tapi Perlukah?!

Salah satu alasan NavinoT membuat program Launchpad adalah untuk mempercepat start-up lokal untuk mencapai tipping point. Kita punya banyak start-up yang berupa layanan web dan aplikasi. Namun tidak banyak yang bisa tinggal landas ataupun selamat untuk sekian lama.

Beberapa berpendapat bahwa konsep yang berusaha diusung tidak begitu menarik. Memang banyak yang berusaha melokalkan konsep dari barat yang telah sukses. Namun dalam prosesnya tidak terlalu banyak perubahan dari konsep asalnya, bahkan langsung jiplak tanpa perbaikan.

Tentu saja! Apa yang membuatmu berpikir bahwa saya akan berpaling dari Twitter ke layanan microblogging lainnya, misalnya Kronologger?! Produk lokal lho, server lokal dengan akses lebih cepat, dibuat oleh orang yang mungkin kamu kenal.

Tapi perlu diingat, kita sudah memasuki era informasi, kita perlu bergaul lebih, bukan hanya dengan orang-orang lokal yang itu-itu saja. Namun kita perlu membuka wawasan ke dunia luar dengan segala sesuatu yang baru, termasuk opini dan sudut pandang yang baru.

Koprol sebaliknya cocok sebagai contoh yang berusaha tampil beda dengan konsep yang berbasis lokasi. Konsep microblogging dan social network dibawa lebih jauh, membuat Koprol jadi lebih unik. Dari beberapa kabar terakhir juga menunjukkan bahwa Koprol sukses meraih traksi dan jumlah penggunanya juga semakin meningkat.

Layanan microblogging berbasis lokasi adalah sebuah WOW factor. Keren! Inilah yang membuat Koprol bertahan sampai hari ini. Tapi apakah kita harus selalu hadir dengan konsep yang selalu baru? Hardcore atau Breakthrough untuk sukses?

Ada beberapa poin penting yang perlu diingat untuk urusan bisnis web & internet:

Content is King – Peduli apapun Queen-nya, sebuah layanan butuh content yang bagus untuk berjalan berdampingan dengan teknologi atau fitur spesial itu. Content, atau isi, ini bisa saja berupa status update dari teman atau berita-berita menarik dari tim redaksi.

It’s a Business – Jikalau gagal untuk mencari sumber dana untuk menutupi biaya operasional, maka peduli apapun konsep tersebut adalah percuma. Intinya, seperti yang pernah kita bahas sebelumnya, kita harus pandai mengelola start-up layaknya sebuah bisnis.

Design & Usability Appeal – Twitter & Plurk, keduanya adalah layanan microblogging. Namun Plurk punya pendekatan yang sangat berbeda dalam hal presentasi. Aplikasi Plurk lebih enak digunakan, dan tidak mengandalkan aplikasi tambahan, dan lebih ramah untuk digunakan. Cocok bagi para tukang rumpi. Tidak heran bila Plurk dengan cepat mendapatkan dukungan, termasuk dijiplak habis.

The Program – Kadang komunitas sedang lesu, malas, atau kurang inspirasi. Sebagai pemilik atau pengelola sudah seharusnya punya program untuk menjaga agar api tersebut tetap menyala. Mungkin dengan mengadakan kontes, atau giveaway? Mungkin topik khusus mingguan bisa banyak membantu juga.

Kadang kita tidak perlu fitur spesial yang super keren, melainkan kita perlu memahami dasar dari segalanya, yaitu mengelola start-up itu sendiri. Biarkanlah produk atau layanan itu jadi fitur utama, namun masih mempunyai value karena segala sesuatu dikelola dengan benar.

Apakah kamu masih berusaha ide atau konsep baru? Atau kita cukup memperbaiki konsep sederhana dengan pendekatan yang lebih profesional? Detik with less ads?!

PS: Maaf, bukan maksud hati menjelekan Kronologger, ataupun mengagungkan Koprol. Kebetulan terlintas dan ternyata cocok. 🙂

13 thoughts on “WOW! Tapi Perlukah?!

  1. komentar tentang “Detik with Less Ads” coba aja pake chrome terus pake extension Adthwart, mulus langsung ketutup semua ads nya hahaha plus jadi lebih enteng!

    1. dan mungkin kalo semua orang sepintar saudara richard fang bisnis ads internet ga akan dilirik banyak orang, yang ujung2nya atau panjang katanya ga memberikan kontribusi pada negara dalam penanggulangan tenaga kerja. untungnya ga semua orang sepintar saudara hehehehe.. term tepat guna lebih cocok daripada less, walaupun juga ga salah anda menggunakan term “less” karena memang terlalu maruk hehehe.

  2. wow factor tetap penting… seperti pepatah kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah pengguna…

    btw, tuk mslh ide, mgkn resep yg msh oke sampai skrg adalah ATM (amati, tiru, modifikasi)…

    1. how much? Mungkin satu deal di masa lampau? Dengan trafik yang semakin turun, masih mending Koprol yang semakin naik.

      Mungkin Mas Kukuh perlu melakukan klarifikasi ala Satya & Koprol 🙂

  3. Selama model income bisnisnya ada dan laku (ada cash masuk dr pembeli) bahkan pra launch, berarti masa depannya cukup cerah. Klo cash masuk sekedar berasal dari investor, bukan berasal dari income model bisnis yg dijalankan, agak meragukan juga masa depannya. Kayak properti, klo kapling2nya laku bahkan sebelum bangunan jadi, berarti cerah. Klo uang masuk hanya dari investor tapi susah laku sebelum bangunan jadi, kemungkinan bakal rugi…

  4. I don’t know, but at least as a business it’s already proven. And I think it’s not once deal in the past, but daily till now. Business is business, for now Kronologer is a proven real business.

    Koprol is potential, but they need proven record, like Twitter, everybody say Twitter is suck in business model until they heard “kaching” from Google and Bing. 😉

  5. Rasanya pertanyaan di judul entry ini tidak bisa stop sampai di situ; faktor waktu juga harus diperhitungkan.

    “Tapi apakah kita harus selalu hadir dengan konsep yang selalu baru? Hardcore atau Breakthrough untuk sukses?”

    Konsep yang baru tidak selalu diperlukan. Usaha-usaha yang baru bisa mencoba untuk mengungguli usaha yang sudah ada sejak lama. Improvement dan research diterapkan secara vertikal. Sampai akhirnya semua itu menjadi sebuah komoditas.

    Contohnya seperti mi goreng instan. Sarimi, indomie, dan produsen lainnya berlomba-lomba membuat mi instan yang enak. Sampai akhirnya mi goreng instan menjadi sebuah komoditas. Lalu muncullah mi sedap yang datang dengan sebuah insight. Bukan hanya cita rasa yang ditambahkan, tekstur yang baru juga diperkenalkan melalui bawang goreng instannya.

    Biasanya kalau model bisnis yang ada begitu-begitu saja, para pengguna juga akhirnya bosan seperti yang dikemukakan oleh Toni di entry sebelumnya. Jadi ketika kebosanan mulai muncul dengan bentuk dan fitur produk / jasa yang begitu-begitu saja, terobosan baru secara horizontal akhirnya diperlukan. Jadi jika ditanya “perlukah?” mungkin kita juga harus menanyakan “untuk kapan?”. Sekarang mungkin belum, tapi nantinya mungkin perlu

Comments are closed.

Comments are closed.