Hati-Hati Dengan Kata

Hati-Hati Dengan Kata

Sering kali tanpa menyadari kita terpengaruhi oleh kata-kata yang dilontarkan orang lain.

Anda mungkin menganggap bahwa kita semua cukup dewasa untuk memutuskan apa yang kita inginkan, memilih jalan kita sendiri dan mengambil langkah sesuai pada jalur yang kita mau.

Tapi, apakah benar begitu?

Dan apakah ada hubungan semua ini dengan membangun start-up?

Jawaban singkatnya banyak. Bahkan, segala-galanya untuk situasi tertentu.

Izinkan saya menjelaskan lebih lanjut. Kata-kata sederhana yang dipakai sehari-hari mungkin tampak biasa saja, tapi dapat memengaruhi jalan hidup satu individu dan bahkan sejarah dunia.

Ketika Wright bersaudara bereksperimen dengan pesawat terbang, dapat dibayangkan orang-orang menertawakan mereka. Siapa yang begitu bodoh mau menerbangkan manusia? Bukankah itu tindakan bunuh diri?

“Manusia tidak dapat terbang.”

Ide manusia terbang hanya terdapat dalam dongeng. Hanya mungkin bila ada naga atau rajawali yang cukup jinak yang dapat dijadikan tunggangan.

Kata atau frase sederhana yang saya maksud adalah “tidak dapat.” Jika saja Wright bersaudara mendengar nasihat tersebut, dunia ini mungkin tidak pernah akan memiliki pesawat terbang.

Dapatkah anda bayangkan sebuah dunia tanpa transportasi udara?

Kata-kata lain yang sering dianggap remeh dan jarang dipandang secara kritis: perlu, mudah, mahal, siapapun, tidak ada, dan lain sebagainya.

Mau memulai sebuah start-up?

“Kami memerlukan business plan ratusan halaman yang terpadu.”

Business plan, dana yang memadai, produk yang sempurna, perabotan yang nyaman atau peralatan kantor yang canggih. Daftar ini terus berkembang.

Nyatanya, apakah benar-benar sebuah business plan diperlukan sebelum langkah pertama dapat ditempuh? Kebanyakan jawabannya tidak. Google sendiri dimulai dari sebuah garasi. Contoh yang sederhana tapi mengena.

Apakah suatu fitur mutlak diperlukan sebelum produk layak diluncurkan? Apakah harus dimulai dengan dana ratusan juta atau bahkan milyaran? Bisakah sebuah prototipe dikembangkan sebelum mencari dana?

Microsoft — dan pada umumnya semua jenis perangkat lunak–tidak dapat diluncurkan sempurna. Bisa dibayangkan bila Windows harus menunggu sampai sempurna sebelum meluncurkan Windows 95. Blue screen of death bukan suatu halangan untuk berbisnis.

Alternatifnya, tentu saja, adalah meluncurkan produk itu langsung untuk mendapat umpan balik dari pemakai. Menjual produk sebelum semuanya sempurna. Karena tidak ada yang sempurna sebelum pelanggan memakainya. Bahkan setelah itu pun, perbaikan harus senantiasa dilakukan untuk memenuhi kemauan pelanggan di masa yang akan datang.

Dalam kegiatan sehari-hari, sangat sedikit hal yang ‘perlu.’ Kebanyakan hanya hal yang kelihatan perlu tapi bersifat opsional. Mendesak tapi sebenarnya tidak penting — dan kebanyakan dapat diabaikan.

Dan kita harus bayar mahal untuk semua itu. Baik berupa waktu, tenaga, uang bahkan kesuksesan.

Produk diluncurkan terlambat atau tidak sama sekali. Bisnis tidak pernah dimulai atau memerlukan lebih banyak dana dari yang seharusnya. Ide yang luar biasa ditelantarkan hanya karena seorang teman yang awam tentang dunia peranti lunak dan web mengatakan, “Tidak ada yang mau memakai produk seperti itu.”

Bukankah itu yang dikatakan orang tentang Twitter ketika diluncurkan? Bahkan, coba dengar apa kata mereka yang petama kali menggunakannya?

Kebanyakan dari mereka tidak mengerti mengapa harus membatasi diri dengan 140 karakter. Konyol bukan? Ternyata tidak. Sulit dibayangkan, tapi semua orang pernah naif seperti itu. Saya orang pertama yang harus mengakuinya.

Inti dari tulisan ini adalah… tutup kuping. Ya, terkadang tidak ada umpan balik lebih baik.

Umpan balik harus ditelaah lebih lanjut apakah objektif, dengan sudut pandang yang objektif pula. Seringkali bila anda ragu dengan suatu keputusan, alasan terlemah pun cukup membuat anda menarik kembali keputusan anda. Tapi ada satu lagi perangkat yang lebih berbahaya…

Guy Kawasaki, penulis The Art of the Start dan seorang venture capitalist untuk web start-up, mengatakan dalam salah satu presentasinya bahwa makluk paling berbahaya adalah venture capitalist. Kata-kata yang keluar dari mulut mereka cenderung dinilai lebih berharga. Pengalaman membuktinya mereka tidak selalu benar. Hanya karena mereka mengatakan suatu ide bisnis tidak akan jalan, tidak berarti anda harus menyerah.

Pertanyaan besarnya, apakah anda cukup sensitif dengan pernyataan sederhana tapi menyesatkan?

Kata-kata apa lagi yang sekilas kelihatan innocent tapi harus ditelaah lebih lanjut pemakaiannya?

21 thoughts on “Hati-Hati Dengan Kata

  1. “makluk paling berbahaya adalah venture capitalist”

    Kadang kita sendiri juga harus betul-betul bisa memahami dari masing-masing persepsi yang berbeda-beda di berbagai macam persoalan start-up yang sebetulnya adalah tantangan, bukan hambatan.

    Venture capitalist hendaknya hanya kita posisikan dari persepsi yang dia buat untuk posisinya sendiri yang khas. Dan itu bukan pekerjaan yang mudah.

    Saya pikir kita harus lebih hati-hati dengan venture capitalist.

    Bukan cuma kata-katanya saja yang berbahaya, tapi jika web start-up kita dinilai tidak sesuai dengan harapan, bisa-bisa lebih berbahaya lagi.

    Tapi itu juga bagian dari tantangan.
    Sebagaimana memilih untuk tidak bersama si venture capitalist.

  2. Kata-kata memang sangat mempengaruhi kita. Bahkan tidak hanya manusia, bahkan air pun dipengaruhi oleh kata-kata. Masaru Emoto menuliskan buku tentang ini.

    Anyway, saya juga pernah melakukan satu percobaan menarik mengenai efek kata-kata berdasarkan buku karangan Masaru Emoto tersebut:

    taruh nasi di dua bungkus plastik berbeda.

    yang satu ditulis kata-kata yang baik, yang lain ditulis makian.

    Hasilnya? coba anda lihat di post saya: http://fikrirasyid.com/efek-kata-kata-hasil-percobaan/

    Anyway, kata-kata Guy Kawasaki yang dikutip diatas ‘kena’ banget deh 😀

  3. ok..intinya jangan sampai terjerumus ( baca : terprovokasi ) dari setiap kata2. Diperlukan ketenangan dan kearifan bagi setiap seseorang utk menelaah smua perkataan yang masuk

  4. @Fikri: Percobaannya sangat menarik. Saya pernah membaca percobaan yang mirip. Bedanya objeknya air jernih di dalam gelas. Gelas yang dihujani dengan kata-kata negatif airnya menjadi coklat dalam beberapa hari.

    1. yap. meskipun agak aneh dan sepertinya di luar nalar, tapi banyak hal-hal yang sering kita anggap “faktor X” bisa dijelaskan secara ilmiah n empiris.

  5. Dulu, banyak yg gagal krn takut melangkah, banyak oportunity terabaikan. Sekarang, banyak yg gagal krn over motivasi, terlalu optimis, oportunity secuil utk rebutan. Jaman yg aneh…

    1. @Hendry
      Klo motivasi meningkat, tekad tentunya jg makin besar. Yg termotivasi jd entrepreneur skr banyak. Ada yg nanam jamur sukses, berduyun2 tanam jamur. Ada yg bisnis online sukses, bejibun pada terjun dgn motivasi dan tekad gila2an. Gas pol pokoknya. Klo liat pareto, atau liat beragam lomba, semua termotivasi dan punya tekad, tapi juaranya cuma 1, 2, dan 3. Motivasi dan tekad sekedar modal awal untuk berlomba, tapi untuk menang, ada faktor lain.

  6. Terima kasih atas masukannya Pak Budi. Tapi akhirnya lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali bukan? 🙂

    Jacobian: Tentu. Namun perlu diingat trafik bukan segalanya. Karena setiap penambahan trafik perlu dana yang besar untuk infrastruktur.

  7. Halo,

    Maaf saya tidak ada contoh kata-kata seperti yang ditanyakan. Jadi saya hanya akan berkomentar mengenai artikel ini saja secara kondeptual.

    Ini artikel nasihat yg bagus. Saya rasa pelajarannya di sini adalah keeping possibilities open dan jangan terpaku pada paradigma yg ada.

    Tapi kalau saya lihat belakangan ini, karena kontribusi dunia web dan teknologi internet, revolusi dan perkembangan terjadi at an accelerated pace. Belum saya sempat get comfortable dengan aplikasi yg satu, dudah nongol lagi aplikasi yang lebih canggih.

    I think kita ada di masa dimana paradigm shift untuk scientific revolution (Thomas Kuhn, 1962)tidak lagi membutuhkan state of crisis untuk menggoncangkan paradigm yang mendominasi. Revolusi sepertinya terjadi secara terus-menerus tanpa memerdulikan pendapat maupun situasi dan kondisi yang ada.

    Saya rasa ini cukup membuktikan efek dari rendahnya cost of production (Chris Anderson, The Long Tail)

  8. Keren.

    Gw baru ngeuh, ternyata navinot sudah menambah personel. Dan personel tersebut adalah pemenang kontes kemarin yah. Tapi positif kok, karena taste (hallah) tulisan di atas beda banget. Ga kayak tulisan Toni, maupun Ivan. Lebih kayak ngomong sendiri 😀

    Sori yah, OOT banget.

    Good luck!

  9. tychm: Terima kasih atas masukannya.

    Pandu: Anda benar. Revolusi terjadi dalam kurun yang semakin dekat. Dahulu, perlu satu millennium untuk perubahan besar. Sekarang… kurang dari seratus tahun. Hal ini dipercepat berkat Internet.

    Internet levels the playing field for almost everyone. Tidak punya dana yang cukup untuk bangun startup? Contoh favorit saya, PlentyOfFish, bahkan menjadi paling besar tanpa dana dari pihak ketiga… melebihi saingan-saingannya.

    Now is really a great time to kick a** dan menjadikan impian menjadi kenyataan. Hanya butuh kerja keras dan kreativitas.

  10. Wise man said: kita harus berani menawarkan apa yang kita pikir layak untuk ditawarkan, Akio Morita said: masyarakat tak pernah tahu apa yg dibutuhkan sampe kita menawarkannya, mengomentari saat produk andalannya, walkman, meledak di pasar, kfc nya kolonel sanders pernah ditolak ratusan pengusaha restoran,
    finally, we have make it, what we believe, if we had to fail, at least we have tried

  11. Kata-kata itu memang dahsyat efeknya.
    Tidak ada jaminan kesuksesan, tetapi tidak mencoba adalah jaminan kegagalan.
    salam kenal buat penulis baru navinot

    rgds

  12. Ssriyono: Terima kasih atas tambahan contohnya. Kata ‘tidak’ bagi sebagian besar orang sangat menyakitkan… tapi bagi segelintir yang tahu maknanya akan terus maju dan mengejar cita-citanya.

  13. kata2 memang sangat berpengaruh sekali dalam keghidupan…kadang2 kita bisa terjebak dengan salah pemahaman konsep atas sebuah kata yang kita ucapkan 😀

  14. pembahasan yang luar bisa. saya jadi makin sadar, behwa setiap hari banyak waktu yang terbuang hanya untuk membuat rencana dan mengumpulkan data, tapi tidak banyak untuk berbuat. kadang, informasi yang berlebihan bisa membuat kita bingung..

Comments are closed.

Comments are closed.