Google vs Baidu

Google vs Baidu

Saya tak begitu tahu apa penyebab Google ingin cabut dari China. Ada yang bilang karena persoalan penyerangan ke akun-akun GMail. Ada juga yang bilang karena Google memang sudah tidak punya harapan di sana karena market share Baidu sudah mencapai 60%.

Kita tunggu saja apa yang akan terungkap nanti. Sementara itu kita bisa mencoba melihat seberapa sengit kira-kira pertarungan Google vs Baidu selama ini.

Pertarungan Dari Nol?

Userbase Google secara internasional memang besar. Namun, untuk China Google adalah pemain baru. Bahasa Inggris menjadi minoritas karena pengguna lebih cenderung menggunakan bahasa lokal. Semua knowledge yang Google punya dari hasil mengagregasi perilaku pengguna As danEropa di halaman pencarian menjadi tak begitu berguna. Google harus memulai dari nol di China, setidaknya untuk urusan pembelajaran mesin.

Pertarungan Teknologi?

Layanan yang disediakan Baidu tak kalah kaya dari aset Google. Lihat saja di Wikipedia. Sebagian memang sama dengan aset Google, namun sisanya adalah layanan yang benar-benar lokal. Porsinya bisa lebih dari 50 persen layanan untuk lokal. Sebut saja patent search, legal search, Baidu Encyclopedia, dan lain-lain. Yang membuat pertarungna teknologi menjadi pelik adalah ada kemungkinan beberapa teknologi Google tidak bisa diekspor akibat larangan UU. Tapi, tidak bisa ditampik juga bahwa beberapa teknologi tersebut bisa dicipta ulang dengan resource local. Kalau mereka bisa menyalin satu produk dalam sehari, untuk teknologi mungkin hanya perlu tambahan waktu.

Pertarungan Monopoli dan Antitrust?

Di Eropa Google harus was-was dengan antitrust, di China Google harus waspada dengan Big Brother. Sudah pasti pemerintah lokal akan mendukung Baidu sepenuhnya dalam melawan Google. Google adalah entitas asing yang kehadirannya sudah pasti tidak disenangi, paling tidak oleh ideologi beberapa orang. Dengan uang yang cukup, Google pasti bisa membuka jalan sedikit demi sedikit. Tidak dengan suap, tapi dengan bertahan lebih lama dan ongkos pembelanjaan yang lebih besar dari biasanya karena harus berebut resource.

Bayangkan Jika Terjadi di Indonesia

Indonesia tak punya persoalan pinyin dan bahasa lokal yang membuat pemain asing harus mengeluarkan usaha ekstra dalam rangka mendominasi pasar dalam negeri. Kondisi seperti ini memudahkan kita untuk selalu up-to-date dengan tren global. Namun di sisi lain, kondisi tersebut tidak bisa memberikan waktu yang cukup (buying time) bagi startup lokal untuk meniru dan mengembangkan tren serupa dalam versi lokal. Dalam konteks internet, kita sudah masuk kondisi perdagangan bebas lebih dulu.

Google and the like bukanlah entitas asing bagi pemerintah, jadi kita tidak punya dukungan serupa yang dirasakan Baidu di China. Tapi kita masih punya dukungan media mainstream yang sepertinya menyenangi berita-berita yang datang dari internet (karena fresh dan bukan yang itu-itu saja dalam dunia nyata). Dengan dukungan media maintstream lokal kita tidak lagi membeli waktu, tapi membeli spotlight yang bisa mengakselerasi penetrasi produk ke dalam pasar. Gratis.

Tak usah berkecil hati, kita masih punya Detik yang bisa dibanggakan karena jadi primadona dalam negeri. Walaupun belum seperti Gurita dari China ini, mungkin.

18 thoughts on “Google vs Baidu

  1. Beda detik dgn baidu tentu berbeda china dgn Indonesia. pasar dan warna diindonesia pun hasilnya juga berbeda. pioneer lokal semacam detik memang tidka seperti china, tapi komunal blogger punya influence yang punya peranan penting.

  2. Mengingatkan saya seperti Facebook dengan Mixi di Jepang, maksudnya dalam hal menyaingi produk dalam negeri mereka.

  3. Sebenarnya Google perlu untuk tetap berkompetisi di China. Bukan utk mendominasi, tapi untuk membuat Baidu tetap hanya di China. Klo Google keluar lantas Baidu tdk ada kompetitor, tentu expansinya keluar. Gimana kalo Baidu justru yg masuk US? Hehe.. wong ngesearch huruf2 kayak gitu aja bisa, apalagi cuman alfabet biasa :P. Lagian, apa sih yg ga made in China, LOL

  4. tidak ada kebebasan di china karena disana ada pemerintahan komunis.semuanya di kontrol dan tidak sebebas indonesia.jadi ini mungkin alasan google meninggalkan cina.

  5. Setuju dng leontinus, pemerintah kita sangat minim dalam upaya melindungi usaha rakyatnya, akhirnya kita tak punya sesuatu, sedikit out of topic, amerika yg konon katanya jahat saja masih sangat melindungi usaha warga negaranya, lihat saat harley davidson diambang kebangkrutan, pemerintah membebaskan harley dr semua pajak dan menaikkan pajak 200% untuk motor merek asing yang >750cc, harley bisa bernapas… Sekarang kita berdagang bebas dng cina, karena produsen kecil cina diberikan nafas, kita bisa dengan mudah endingnya seperti apa…

  6. Karena setahu saya bahasa inggris adalah bahasa internasional, bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi antar negara dan tentu penuturnya juga menjadi banyak. Namun, bahasa mandarin juga sudah menjadi bahasa internasional, sehingga jika dikaitkan dengan hal ini China pastinya tidak akan takut kehilangan Google…karena toh pengguna bahasa mandarin mencapai milyaran, mereka tidak akan kehilangan pasar.

  7. Setuju..jngan berkecil hati !
    Kita jg msih punya produk lokal yg msih bisa di banggakan,misal : utk urusan free blog ada Blogdetik.com dan Dagdigdug.com

  8. memang agak susah menelurkan teknologi baru untuk indonesia. tren ke luar negrian dan minimnya inovasi website membuat karya anak indonesia kurang menggigit.

  9. Bangsa Indonesia rasa nasionalisme dan patriotisme
    nggak ada apa-apanya dibanding China.
    Jadi sementara berkhayal ajalah hai orang Indonesia
    untuk waktu-waktu dekat ini kalian tertinggal jauuuuuuuuh.

    Banding-bandingin pemerintah Indonesia dgn pemerintah China itu juga buat apa?
    Apa penulis dan pembaca setia blog ini mau bermimpi dan berkhayal berjama’ah?
    Gimana kalo sekalian Sby kita undang buka Navinod, ikut rame-rame bermimpi aja, Ton ?

    @Jacobian :
    “Komunis tu sepupunya komunitas… komunal… dan komuter… Hehe.
    Pak Harto aja yg terlanjur brainwash kita,
    bikin image komunis jadi terkesan negatif.
    Kalo orang komunis ga kreatif,
    berarti Sang Google Search mentoknya oleh mesin pencari milik orang2 ga kreatif dong?”

    @SSriyono dan Leontinus:
    “Wakil rakyat yg duduk di pemerintahan skrg adalah manusia-manusia tempe produk salah kaprah Orde Baru. Belum ada yg kuat, tegas, visioner dan berkarakter.. ”

    @Budi Tyas :
    “Komentar yg menarik dan berguna untuk direnungkan!”

    @Dymas :
    “Itulah anak Indonesia yg kebanyakan nonton sinetron dan infotainment, ngikutin Sex n The City, serial Heroes, dan American Idol,, main Mafia War dan main Cityville seperti Si Toni... LOL.

    1. @Ivana
      Nulisnya NavinoT ya bukan navinod 😀

      Tidak ada salahnya bermimpi, kalau gak ada mimpi mungkin kita semua sudah bunuh diri karena tak punya alasan buat hidup esok hari. Mimpi juga bisa bikin sehat, panjang mur, awet muda 😀

      Eh, main CityVille juga? Add gw jadi neighbour dong 😀

Comments are closed.

Comments are closed.