Beberapa Skenario Transaksi Online

Beberapa Skenario Transaksi Online

Seseorang membeli sesuatu lewat Internet. Anggap saja transaksi primitif tanpa penengah, tanpa marketplace. Secara normal, setelah transaksi disetujui, pembayaran dilakukan, pesanan dikirim, pesanan diterima, maka transaksi boleh dinyatakan sukses.

Dalam prakteknya, bisa terjadi beberapa skenario, yang boleh dianggap sebagai penipuan atau celah dari proses yang telah ada.

1. Penjual tidak mengirimkan barang pesanan, walaupun pembeli sudah melakukan pembayaran. Maka penjual yang dituduh melakukan penipuan.

2. Penjual telah mengirimkan barang yang dipesan, lewat jasa pengiriman terpercaya, dan punya bukti resi pengiriman. Tenyata penjual mengirimkan sekantung pasir, sehingga beratnya dan ukuran paket mirip dengan semestinya. Kasus ini juga merupakan penipuan dari pihak penjual. Bila paket yang diterima tidak terdapat tanda-tanda pernah dibuka, maka penjual bisa disalahkan.

3. Penjual dengan jujur mengirimkan barangnya, termasuk resi pengiriman sebagai tanda bukti. Barang yang dikirim telah diterima, tanpa tanda-tanda telah dibuka. Namun pembeli melakukan klaim bahwa yang diterima adalah sekantung pasir, bukan barang yang dipesan. Siapa yang disalahkan, bila jasa pengiriman tidak mau tahu?

4. Pembeli melakukan pembayaran, dengan kartu kredit palsu. Barang dikirim dan diterima, pihak bank baru sadar akan terjadinya penipuan. Uang dikembalikan ke pemilik kartu, penjual rugi karena barang sudah dikirim dan dana ditarik balik oleh pihak bank.

5. Penjual mengirim barang, bukti pengiriman diterima, namun barang hilang dalam pengiriman. Pihak jasa pengiriman yang seharusnya dipersalahkan akan hal ini.

Dari beberapa contoh skenario di atas, termasuk kejadian yang bisa saja terjadi. Kini muncul penengah semacam marketplace, yang juga melayani jasa penengah dalam proses pembayaran, sekaligus mencatat reputasi penjual dan pembeli. Pembeli jadi semakin berhati-hati untuk memilih penjual dengan reputasi yang lebih terpercaya. Penjual juga bisa melihat reputasi calon pembeli, dari sejarah transaksi yang pernah dilakukan. Tampaknya masalah sudah terpecahkan?

Keberadaan penengah tampaknya menjadi solusi praktis akan kebutuhan transaksi maya, tapi para penipu tampaknya tidak putus asa. Untuk skenario nomor 4 di atas, tampaknya masih belum terpecahkan, karena kadang masih butuh waktu untuk sadar bahwa kartu kreditnya telah kebobolan.

Karena kini pihak pengelola marketplace yang menjadi penampung dana sementara, jadi pihak yang dirugikan. Barang sudah terkirim, namun ternyata dananya ditarik balik oleh pihak bank.

Untuk mengatasi skenario nomor 5, kini ada jasa asuransi dari pihak ketiga. Setiap pengiriman, pembeli bisa membeli asuransi dengan biaya tambahan. Kini pihak penjual dan pembeli berada dipihak yang sama, mereka bekerjasama untuk mengakali asuransi dengan uang klaim yang diterima.

Dari pengalaman pribadi di era eBay, selalu penjual yang dirugikan. Namun di Indonesia, budaya yang berlangsung jauh berbeda dan lebih bervariasi. Penipuan macam apapun ada.

Apakah skenario yang sama pernah terlintas dibenak Anda? Sebagai penjual atau pembeli? Apakah sempat terpikiran sebuah solusi?

Jawabannya? Menurut saya adalah law enforcement atau penegakan hukum.

9 thoughts on “Beberapa Skenario Transaksi Online

  1. Lho saya kira tadinya post ini untuk merayakan launchingnya plasa.com. 🙂

    Soal law enforcement. Saat ini masih tergantung pada hal itu. tapi bagaimanapun yg sudah sudah ngadu ‘maen keras’ ujung ujungnya tetap ada terus penipuan ituh. Kalau sudah begini pasti nunggu warna lain untuk transaksi online.

    Perlu belajar dari FJB seller mungkin

  2. ilustrasinya banyak merugikan penjual online haha.

    btw, ada juga pembeli yg pesan,
    sudah dibikinin, trus ga jadi ambil barangnya LOL

  3. Meskipun nggak ditulis, tapi saya duga posting ini terinspirasi oleh Plasa.com karena ditulis sekitar launch date-nya. Saya mau sedikit komentar aja…

    Buat saya, menarik untuk mengamati model bisnis Plasa.com (dan Tokopedia). Sebagai penengah / marketplace, keduanya berani ‘pasang bodi’ untuk melindungi penjual dan pembeli sekaligus. Beda dengan eBay yang memberikan tools (berupa reputation system) untuk users menentukan sendiri apakah ‘berani’ melakukan transaksi dengan penjual/pembeli.

    Saya rasa formula ecommerce untuk Indonesia belum ketemu, tapi mudah2an taruhannya Plasa.com / Tokopedia benar. Yang jelas model eBay belum bisa sukses karena kesadaran hukum masih rendah di Indonesia sehingga antara penjual dan pembeli kurang ada kepercayaan. Nggak usah online di internet, tukang jual buah aja suka menipu — taruh buah yang manis di atas, yang asem di bawah.

    Anyway, di sinilah pentingnya pemain lokal yang mengerti market lokal. Nggak semua formula yang sukses di US bisa pas diterapkan di negara lain kan.

  4. Klo di US, toko online mungkin bisa menggantikan toko offline. Klo di sini mungkin lebih cocok klo fasilitas online jadi addisi buat toko offline utk mempermudah transaksi bagi pelanggan yg terkendala jarak. Dalam arti, transaksi online tidak diutamakan utk mencari pelanggan baru, tapi tool utk mempermudah transaksi bagi pelanggan yg sudah ada. Klo prinsip transaksi online sekedar agar mudah jualan, mudah buat beli, nggak aneh juga klo mudah tertipu. Antara mudah dan mempermudah mungkin terlalu tipis bedanya.

    1. Setuju dg pendapat BudiTyas, saat ini toko online lebih sebagai tool untuk mempermudah transaksi. Sementara untuk mengatasi penipuan dan buang buang waktu percuma, saya lebih prioritas pelanggan yg ada dan calon pelanggan yg menyertakan identitas jelas serta nomor telp fixed line.

Comments are closed.

Comments are closed.