Don’t Start Any Startup!

Don’t Start Any Startup!

Yeah. Sudah bisa dipastikan saya mendapatkan mata Anda membelalak ke arah saya. What the ef?! Kenapa tidak boleh membuat startup? Bukannya ini yang sedang sama-sama kita galakkan? Buat startup, dapatkan keuntungan, be satisfied (and rich). Anda cuma salah di langkah pertama saja.

Darimana Ide Datang

Pada saat kita merencanakan sebuah startup, ada dua tempat mencari ide untuk diwujudkan ke dalam sebuah produk. Tempat terdekat untuk mencari adalah lewat pengalaman pribadi. Dalam aktivitass sehari-hari pasti kita menemukan sesuatu yang tidak memuaskan. Entah karena ada sesuatu yang broken atau justru malah sama sekali tidak ada. Andaikan artikel blog bisa ditulis otomatis hanya dengan menyediakan keyword. Andai pageview situs tak dipengaruhi SEO. When you need it, probably someone else will need it as well. Sekarang jika Anda bisa membuatnya sendiri, that’s even better.

Ide juga bisa muncul dari hasil pengamatan aktivitas orang lain. Sepertinya kawan Anda yang bertitel otaku mengalami kesulitan untuk mendapatkan barang koleksi dari Jepang, oh FlutterScape. Seorang teman lain yang maniak diskon tampaknya akan senang jika ada tempat terpusat untuk informasi segala jenis diskon, oh AdaDiskon.com. Kita tak tahu pasti apa yang mereka butuhkan, tapi kita bisa mengira-ngira 80% spesifikasi kebutuhan tersebut.

Kenapa Dilarang Bangun Startup?

Paul Graham menasihatkan supaya kita fokus pada ide. Jangan fokus pada membangun perusahaan terlebih dulu. Jika dipikir memang banyak keuntungan berfokus pada ide saja.

Pertama, kita akan punya banyak kesempatan untuk melakukan testing atas lebih banyak ide. Jika kita terburu, ide pertama mungkin langsung kita ajukan ke investor. Padahal ide tersebut setelah dicoba sendiri akan gagal dalam waktu singkat. Dalam kisah perjalanan Tokopedia, 2 tahun barulah ide mereka bisa direalisasi. Dalam dua thaun tersebut saya yakin banyak terjadi penyempurnaan ide lewat diskusi atau pemasukan variabel peristiwa dunia e-commerce sepanjang tahun.

Kedua, ide itu tak langsung akan jadi besar. Jadi jika kita terburu-buru, ada kemungkinan kita akan merugi banyak. Paul Graham bilang, ide yang bagus pertama kali akan dicemooh orang. Entah dianggap sebagai mainan atau sama sekali tak diperlukan. Berfokus pada ide membuat kita berpikir realistis. Start small. Bertumbuh secara incremental. Jika kita terburu-buru, mungkin kita akan berakhir seperti Friendster :D. Terlibas oleh (buku tahunan) Facebook yang tak pernah ditujukan untuk global social network.

Organic Growth

Berfokus pada ide berarti mengandalkan organic growth. Sebagai generasi early adopters, hal ini tidak susah untuk kita laksanakan. Early adopter berarti kita selalu menjadi yang nomor satu dalam hal mencoba hal baru. Ini berarti kita juga menjadi yang pertama mengetahui atau bisa menebak apa yang masih tidak sempurna sekarang atau dalam beberapa tahun ke depan.

So, work on your ideas. Know what you need. Build it yourself. Don’t touch that business plan just yet!

12 thoughts on “Don’t Start Any Startup!

  1. btw itu studi kasusnya startup, kok web service semua ya? bagaimana kalo saya main di bidang yang sedikit lebih real atau product based misalnya zazzle. bukannya mau ga mau butuh biaya start ya untuk bahan bakunya? apa seharam itu untuk menyentuh bussiness plan? bussiness plan itu juga tameng loh untuk pelaku agar dikemudian hari itung2an antara vc dan pelaku tetap pada porsinya. cuman saya setuju dengan quote anda yang terakhir, work on your ideas first.

  2. Kelamaan work on ideas juga bahaya sich…
    Teman – teman saya banyak juga yang berjibaku melulu dengan ide tapi gak mulai – mulai..

    Sesuatu ide biasnaya akan menjadi menarik kalau ujung2nya ada harapan yang berbau finansial… Kalo ada harapan soal duit, ada cambuk yang lebih untuk giat.. Masalahnya, gimana kalau akhirnya startup-nya gagal (seperti saya)?

    Ah, semua bisnis ada resiko…
    Tinggal nangis aja beberapa hari lalu mulai bangun kembali dengan belajar dari kesalahan yang kemarin…

    Cheers.

    1. iya saya setuju ujug2nya NATO doank kalo hanya brainstorming terus2an. “TOO MUCH TALK, LETS FUCK!” quote yang selalu memotivasi saya untuk segera Action 😀 nice article btw, memberikan pandangan baru bagi pelaku startup.

  3. mungkin yg di maksud adalah jangan berorientasi uang dulu di awal.. ide dan produk nya dulu di bangun, kalau produk udah sangat berguna banget (bagi orang banyak) akan mudah kalau mau berorientasi uang..

  4. mungkin maksud mas bro richard diatas itu start small dulu aja. start small disini yang penting jalan aja dulu idenya ga cuman diatas kertas. develop dulu, jajaki pasar, lihat growingnya kalo memang potensial, baru cari investor. begitu yg saya tangkap 😀

  5. Just curious, kenapa ndak ada startup yang memulai situs (apapun itu jenisnya) yang menjaring pasar yang sudah pasti2 saja. Contoh saja: banyak brand 18+ butuh placement online. Budget mereka besar utk ini, tapi tidak semua tersalurkan. Kenapa nggak develop sesuatu yg penggunanya kurang lebih sama dengan segmen brand tersebut. Saya yakin deh, meski baru running 3-5 bulan, situs seperti ini sudah akan mendapatkan revenue dari iklan. Btw, format iklan gak melulu banner ya. Format mungkin bisa disesuaikan dengan konsep situsnya sendiri.

    Point dari saya: nggak melulu modal dari investor. Bikin sendiri, modal kecil, tapi sudah jelas target pemasang iklannya. Sekali-sekali mungkin kita coba melihatnya dari kacamata advertising. 😀

  6. […] tapi kata Tonc.. eh Toni di sini, ternyata start-up bisnis itu faktor yang tidak terlalu signifikan. Start on your ideas, work on it […]

Comments are closed.

Comments are closed.