Akuisisi Koprol.com, Artinya?

Akuisisi Koprol.com, Artinya?

Mudah-mudahan tidak terlalu basi untuk membahas soal akuisi Koprol. Timingnya memang tidak pas untuk kategori hot news, tapi tak akan pernah cukup basi untuk hidangan khas “slashing the web and internet strategy” a la NavinoT. So wassup?

Ingat Lagi Tentang Exit Strategy

Exit strategy memang materi jebakan. Bagaimana tidak. Bubble burst satu dekade lalu juga terjadi karena trend exit strategy yang mirip satu sama lain, yakni: IPO. None the less, exit strategy tetap perlu. Tetap harus ditentukan ujung dari startup kita. Mau hidup berapa tahun, dengan cara seperti apa dan bagaimana cara keluar lubang (jika kita terperosok) dengan cara yang paling tidak menyakitkan. Kalau bisa malah harus sambil membawa tas berisi profit.

Pindahnya Koprol ke tangan Yahoo! pasti akan menjadi cerita sukses dalam buku panduan startup tahun-tahun ke depan. Beberapa hal akan coba ditiru dan diulang dengan harapan sukses yang sama. Mudah-mudahan saja proses tersebut akan menghasilkan boom yang kuat dan bukan bubble besar namun kosong.

What Can Go Right, Will Go Right

Kebalikan dari what can go wrong, will go wrong. Yang punya peluang sukses pasti akan sukses. Masalah yang tersisa adalah soal waktu dan siapa yang “kebetulan” akan berada di waktu yang tepat tersebut. Teknologi lokasi mungkin tak terlalu populer beberapa waktu lalu. Tapi memang pada dasarnya salah satu jenis tipe data ini memang akan mendapat giliran untuk jadi first citizen class di ekosistem internet. Koprol, Foursquare dan Gowalla mengalahkan pendahulunya di bidang perlokasian. Even Google Latitude and Yahoo!’s FireEagle.

Status sudah jadi warga kelas pertama. Lokasi sudah. Dengan gerak-gerik Twitter dan Facebook di semantic web, tren ini tampaknya akan berlanjut. Kalau Anda sudah membaca ulasan OpenGraph beberapa waktu lalu, Anda pasti bisa melihat bahwa apa yang hendak dicapai dengan OpenGraph ini terlalu besar untuk bisa dipenuhi satu entitas saja. Masih ada kesempatan lebar untuk membuat spesifikasi dan implementasinya bisa memuaskan suatu unit terkecil sejenis lokasi. Every verb and noun will count!

Luck = Opportunity Meets Preparation

Jika kamu siap, kedatangan pemain besar ke Indonesia dan hype yang dibawanya akan jadi keberutungan Anda. The wave is coming. Are you going to dive or surf it?

11 thoughts on “Akuisisi Koprol.com, Artinya?

    1. @Ronald
      Mau dipakai untuk membeli market Indonesia atau dipakai di luar? Ini menarik banget. Tentunya Koprol ini a great contender untuk dicoba di luar sana, head to head dengan Foursquare. Dukungan infrastruktur dan connectivity di luar bisa jadi awesome boosting factor bagi adopsi koprol. Lebih jauh mungkin Koprol di luar bakal mengalami twist menjadi varian tersendiri.

      Untuk di dalam negeri sih aku menganggap akuisisi Koprol ini sebagai entry point resmi dan solid oleh Yahoo ke Indonesia. Biasanya masuk ke wilayah baru kan dengan konten doang, kali ini pakai sesuatu yang lebih punya keterikatan dengan pengguna.

      Hmm, jadi penasaran. Koprol dan Foursquare akan baku hantam di area mana ya? Niche mana kira-kira yang akan ditembak masing2 startup?

  1. Berita di acquisition nya urbanesia sudah merebak lho. walaupun ternyata bukan bgtu, cuman setengahnya…Saya jadi berpikir kalau bisa membuat project yang kemudian dijual ‘setengah matang’ sepertinya bakal laku.

  2. Good write up. Sedikit mengulas teknis, sori kalo kedengerannya gw rephrase dan prediktif. Tapi menurut gw ini penting.

    Pada prakteknya, M&A atau IPO kan juga strategi growth, bukan hanya Exit. Bubble burst yang dulu kan karena oversupply modal, hasilnya stock market hancur, bukan karena company key stakeholders ramai2 cabut setelah cashing in. Jadi, ya betul kata lo, balik lagi ke plan & expectation pemilik perusahaan di entrepreneurial stage, yang berpotensi di akuisisi (sebut saja IPO di Indonesia is impossible for start ups, also known as UKM).

    Tapi kalau baca artikel Chris Anderson yg lo linking di atas, the situation now is much different than a decade ago. Jadi, start up yang jeli, akan mengerti bahwa di akuisisi sekarang adalah opportunity to create more wealth than ever, for a long term, if their plan is to grow, not to exit (at least in the next 4-5 years). Lain lagi kalau emang hanya ingin cashing in, dan sebagian besar start up planning-nya begitu, ya berarti generasi kita ini terlalu banyak yg ngikutin Guy Kawasaki, pengen jadi serial entrepreneur (ngga salah juga sih…).

    Tapi point gw, entrepreneur yang lebih jeli lagi akan take their stance against acquisition, seperti those new internet giants, Facebook dan Twitter (atau nanti pada saatnya, mungkin Foursquare). You get the logic, FB & Twitter could be bigger than Google and Yahoo!, perusahaan-perusahaan yang dulu ingin akuisisi mereka. Itu denger deh kata Joe Kraus, menurut dia dengan modal $100K dia bisa bikin revenue. Skala investasi segitu sih, di Indonesia pun, harusnya bisa ditalangin Angels atau VC ya, ga usah nunggu perusahaan lo dibeli perusahaan besar.

    Hope that make sense.

  3. @Robin
    itu si Joe Kraus itu siapa bro? masa dengan modal $100,000 bisa bikin revenue. kalo memang benar begitu, mau dong. Saya bisa kasih invest $100-200K asal business plannya jelas dan benar2 bisa besar seperti yang bro bilang. Hubungi gw aja langsung 02195968381

    1. That’s the point. Dalam model tertentu, berarti $100k udah bukan seed caps lagi. Itu di Amerika, apalagi di Indonesia?

      Joe Kraus itu founder-nya Excite, website jadul yg ngabis2in duit modal, dia di kutip Chris Anderson di artikel Wired yg di link sama Toni.

Comments are closed.

Comments are closed.