Shocking, Nobody Uses Category Anymore!

Shocking, Nobody Uses Category Anymore!

Saya memang tak terlalu ahli dalam mengkategorikan suatu cerita. Bahkan di NavinoT, saya lebih sering menaruh artikel di dalam kategori Web & Internet. Tak salah, tapi tak tepat juga karena semua artikel bersumber dan mengomentari apa yang terjadi di Web & Internet. There’s something not right here.

Were NavinoT a Newspaper

Kalau saja NavinoT ini sebuah koran atau portal berita, tentunya mudah untuk mengklasifikasikan cerita. Ariel dan Lunmay tentu saja masuk infotainment. Kemacetan akibat Patwal bisa masuk ke Metropolitan. Berita ledakan elpiji 3 kilogram masuk Nasional. Berita tentang Google dan Facebook langsung masuk rubrik Teknologi.

Masalah muncul tatkala semua yang kita obrolkan adalah soal IT. Bisa saja digolongkan lewat jenis media: podcast, videocast. Atau desain, tutorial dan gadget. Sayangnya bukan itu materi yang dilingkupi oleh NavinoT.

Need for Navigation

Jika NavinoT adalah koran yang dibaca sehari saja, atau Flipboard yang sedang nge-hype itu maka NavinoT tak perlu pusing memikirkan kategori karena yang terpenting adalah apa yang bisa dibaca hari ini. Urusan kategori yang serba relatif itu bisa diserahkan sepenuhnya ke pembaca. Toh pembaca NavinoT pasti mencari artikel tentang IT dan Strategy. No need to breakdown further. Blog IT ya isinya tentang IT dong.

Kecuali jika kita berpikir tentang navigasi lebih jauh. Mungkin bagi pembaca baru atau pembaca yang ingin menelusuri arsip. Penulusuran kategori tentunya bisa membuat proses pencarian menjadi lebih terarah. Tentunya jika dasar Anda membuat kategori sama dengan dasar saya dalam mengelompokkan artikel.

Who Use Category?

No one!

Engadget lebih memilih topik-topik hangat sebagai pengganti kategori. Panggung utama diisi dengan visual beritan terhangat, Windows Phone, iPhone baru, HTV Evo, dll.

ReadWriteWeb memakai channel yang lebih diarahkan ke point of entry bagi sponsor. Contohnya: ReadWriteWeb Cloud yang disponsori oleh VMWare/Intel.

Techcrunch juga tak memakai kategori. Yang ada adalah featured post yang disuguhkan lewat slideshow.

GigaOm juga sama. Malah kategorinya berupa author artikel.

Sisanya adalah stream of news. Period.

And here I am, headdesk-ing to decide what category best to use.

Kamu pilih mana? Kategori atau tanpa kategori?

18 thoughts on “Shocking, Nobody Uses Category Anymore!

  1. gak butuh butuh amat kategori sih asalkan search-able. ketika nyari sesuatu tinggal masukkan keyword di textfield search dan tara!!!

  2. kalo mnurut gw sih kategori emang ga diperlukan buat blog IT macam ini. oia itu ada typo sedikit, HTC Evo bkn HTV Evo ๐Ÿ™‚

  3. hmmm dilema yang sama dengan yang saya alami di blog saya. apakah menggunakan kategori atau tidak. pembaca sepertinya lebih membaca berita baru / masuk ke artikel lama melalui search engine dan tidak pernah menggunakan navigasi kategori yang telah diberikan.

    apakah memang model navigasi di kebanyakan blog di indonesia itu tidak efektiw

  4. hmmm dilema yang sama dengan yang saya alami di blog saya. apakah menggunakan kategori atau tidak. pembaca sepertinya lebih membaca berita baru / masuk ke artikel lama melalui search engine dan tidak pernah menggunakan navigasi kategori yang telah diberikan.

    apakah memang model navigasi di kebanyakan blog itu sudah tidak efektif?

  5. sepertinya tanpa kategori lebih menarik. Namun, yang paling penting dari semua itu adalah konten yang berkualitas. Kalau konten berkualitas, kategori pun sudah tidak terpikirkan lagi oleh pembacanya… ๐Ÿ™‚

  6. Benar juga pengamatannya. Selain di blogs, kita juga bisa melihat paralelnya di internet search. Dulu Yahoo yang mulai sebagai directory dikalahkan oleh Google yang fokusnya di search. Di tahun 90-an kita terutama pakai browser bookmark (yaitu semacam directory juga). Sekarang kebanyakan kita bergantung pada search engine, tagging (Delicious) dan “likes/favorites”. Itu semua perubahan yang terjadi kalau informasi yang kita proses menjadi semakin banyak. Ini dibahas juga di buku The Long Tail.

  7. Navigasi dengan cara mencari hanya bisa bekerja jika kita tahu apa yang hendak kita temukan. Karena itu cocok dipakai di inbox karena kita tahu apa saja yang pernah masuk ke dalamnya. Tapi, layaknya sebuah buku, daftar isi (dalam hal ini kategori atau yang serupa) tetap diperlukan untuk mempermudah pembaca menebak isi buku.

  8. Biasanya cerita/bahan editorial yang menarik itu yang berada di persimpangan beberapa disiplin; mengandung pencermatan beberapa perspektif yang berbeda. Alhasil tagging lebih terasa pas. Karena tagging tidak memaksa memasukkan post ke dalam 1 golongan, tapi justru sebaliknya menjelaskan secara singkat apa yang dikandung oleh sebuah post untuk memudahkan pencarian.

    Seperti yang kamu sudah sebut Ton, kalo bukan bahal editorial melainkan berita, review yang kandungan editorialnya lebih sedikit mungkin masih punya benefit dari kategori.

    Dari sudut lain juga, kebanyakan web skrg konsen kepada sebuah niche. Kalo di dalam programming ada yang namanya Single Responsibility Principle (SRP). Selayaknya sebuah method lebih baik tidak mengandung kata ‘And’ (karena berarti melanggar SRP), *mungkin* blog juga lebih baik tidak mengandung kategori.

  9. Menurut ane ya tergantung tema blognya, Untuk blog kayak Navinot mungkin nggak terlalu penting, keliatannya kita nggak akan nyari or baca baca lagi artikel Navinot beberapa waktu yang lalu kok, kecuali artikel itu muncul sebagai hasil googling kita…
    *klo primbon ane ini tentu sangat penting mengkategorikan sesuatunya…

  10. Setuju dengan Ronald dan Sriyono. Balik ke artikel di atas, dugaan saya pembaca RWW, TC, GigaOm, Engadget sudah familiar dengan RSS, social media dan search engine. Jadi mereka jarang ke landing page lagi, dan lebih banyak akses langsung ke blog post lewat referral search engine, etc. Ini yang kalo saya lihat berarti kategori sudah kalah penting dibanding tagging dan search. Beda dengan CNN.com, MSNBC.com, dsb. yang jenis pembacanya mungkin banyak masuk ke landing page dulu, baru akses ke berita lewat kategori.

    BTW, kalo di Navinot sendiri analytics-nya gimana? Kalo boleh share, pembaca Navinot kebanyakan masuk dari mana?

  11. Untuk blog-blog yang nichenya sudah sangat jelas dan terang saya pikir sih memang penggunaan category sudah gak lagi signifikan. Saya pribadi untuk blog dan situs saya yang punya niche jelas sudah tidak lagi menggunakan category. Atau kalau pun ada tidak lebih dari tiga kategori. ๐Ÿ˜€

  12. Jadi, tergantung sama jenis content dan cara user mengakses website. Kalau user larinya dari mesin pencari, ya mungkin itu tidak diperlukan. Namun jika user senang mencari artikel dengan bahasan tertentu, berarti diperlukan pengkategorian, maupun tagging sesuai topik.

  13. kalau saya setuju juga dengan pendapat dari mas Ronald, mas Sriyono, dan mas Andre.
    semua tergantung temanya, dan tergantung cara pembaca mengakses artikelnya,
    kalau yang bertema berita bagusnya pakai kategori,
    atau pakai tag bisa juga, malah lebih bisa tahu topik artikelnya ๐Ÿ™‚

  14. Bukankah dari pembuatan awal (sitemap) sudah direncanakan? apabila mengikuti pada pembesar blogger di social media layaknya problogger, pete cashmore dan semacamnya bukankah akan mengikuti waktu yang berjalan apalagi ditambah web analysts “Apa yang user butuhkan dan apa yang mereka inginkan?”

    Sementara jika di ACER kami coba membahas kebutuhan user yang kemudian akan menajdi category tersendiri ๐Ÿ™‚

    1. To be honest, kita belum sejauh itu dalam memanfaatkan web analytic. Idealnya sih memang tiap kategori dan tag dimonitor untuk melihat preferensi pembaca.

Comments are closed.

Comments are closed.